idulfitri-kamp-al-roj

Aleeyah Mujahid, Idulfitri di Pengungsian Al-Roj

By

Ini merupakan idulfitri ke-4 Aleeyah Mujahid jauh dari kampung halaman dan idulfitri ke-3 di Pengungsian. Sejak keberangkatannya Desember 2015 ke Suriah, berada di wilayah konflik saat hari kemenangan bukanlah kali pertama.

Selama bulan ramadan tahun ini, ia mengaku cukup tenang dalam menjalaninya–tahun sebelumnya masih terdengar suara senjata dari kejauhan. Mirisnya, beberapa hari ia sempat mengalami keracunan makanan dan harus diinfus selama 2 hari. Namun, saat ini keadaannya sudah sehat kembali setelah mengonsumsi makanan sehat dan obat seadanya.

Dalam keadaan yang jauh dari layak, di bawah tenda pengungsian, Aleeyah merayakan idulfitri bersana sang anak. Lebaran pertama di sana ia beruntung merayakan bersama sang suami di wilayah ISIS. Dulu, lebaran ia rayakan berdua dengan berjalan ke pinggir sungai Furat. Meski ada suara gemuruh bom yang entah dari mana. Semenjak di pengungsian ia hanya berdua karena, sampai hari ini belum ada kabar pasti dari sang suami.

Selama tiga tahun terakhir, Aleeyah merayakan lebaran dengan sederhana. Beberapa orang Indonesia memasak lontong dan sayur yang membuatnya semakin rindu Indonesia. “Main ke tenda orang aja, suguhannya banyak. Tenda dihias pake balon gitu, anak-anak dipakein baju bagus,” Aleeyah bercerita kepada tim ruangobrol.id

Bagaimana dengan salat id? Jika Indonesia tahun ini meniadakan salat id karena pandemi, lain halnya dengan di pengungsian Al Roj. Menurut Aleeyah, tidak ada salat id di sana. Hal itu dikarenakan banyak faksi di pengungsian sehingga tidak ada yang bisa menentukan secara pasti termasuk imamnya. Bahkan seringkali ada dua jamaah salat dalam satu wilayah. Aleeyah sendiri dan banyak pengungsi dari Indonesia memilih untuk tidak mengikuti kedua jamaah.

Sedangkan kebiasaan takbiran tetap ada. Namun lagi-lagi perempuan 24 tahun itu memilih tidak mengikuti keramaian takbiran. “Males rame-rame disini mah, potensi rusuh,” ujarnya.

Aleeyah bercerita bahwa dalam momen khusus, ia akan memberikan hadiah untuk anak semata wayangnya. “Anak kubeliin mainan kalo ada moment tertentu aja,” kata Aleeyah. Lebaran tahun ini, Aleeyah sudah menyiapkan kolam renang karet kecil dan tembakan air di warung besar pengungsian. Ia berharap anaknya akan senang dan anteng atas keadaan mereka.

Sebenarnya Aleeyah sempat berharap bahwa tahun ini ia akan berlebaran di kampung halamannya. Namun, takdir berkata lain. Apalagi pemerintah yang katanya bulan Mei akan memutuskan mengenai pengungsi, belum juga memberi kepastian. Doanya di hari kemenangan ini tak pernah berubah dari tahun sebelumnya, semoga ia diberi kesempatan kedua untuk kembali ke tanah airnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like