Pandemi Covid 19: Frustrasi Boleh, Putus Asa Jangan!

By

Ivan Kurniawan, bassist Slank dalam sebuah perbincangan dengan Gubenur Jateng Ganjar Pranowo berujar, “Kalau sebagai musisi (seniman), makin kepepet di situ justru makin kreatif,” kata Ivan.

Percakapan itu diunggah di akun media sosial milik Ganjar di saat Pandemi Covid-19 ini. Ivan tampaknya ingin menyerukan, sesulit apapun kondisi, harus tetap kreatif. Adaptasi untuk tetap survive. Sekaligus pula “menantang” Ganjar, bagaimana sebagai pemimpin daerah bisa kreatif saat kondisi Pandemi Covid-19 seperti ini, bukan hanya membuat program-program yang “biasa”, melainkan terobosan baru.

Memang, semua sektor saat ini terkena dampak virus corona. Khususnya sektor ekonomi, seperti mati suri. Berbagai kebijakan pemerintah, terutama bertujuan untuk memutus mata rantai penyebaran virus, punya dampak besar ke lini kehidupan lainnya.

Kondisi serba susah seperti ini apakah itu jadi alasan putus asa? Jawabannya tentu tidak. Seperti kata Ivan Slank, dalam kondisi kepepet justru harus makin kreatif. Bukan hanya bagi musisi, seniman, tapi umat manusia seluruhnya.

Di awal-awal Indonesia muncul kasus Covid-19, memang membuat frustrasi. Saat sebelum Ramadan, misalnya. Warganet, setidaknya dari teman-teman saya, menuliskan aneka kekhawatiran itu.

Lantas tak ketinggalan, doa-doa tentunya dipanjatkan. “Ramadan datang, Corona pulang” kira-kira begitu. “Seolah-olah” datangnya Ramadan itu untuk mengusir Corona. Ya silakan saja beranggapan demikian.

Nyatanya, di 10 hari terakhir Ramadan ini, Corona belum juga minggat dari bumi Indonesia. Artinya apa? Harapan boleh dipupuk, tapi adaptasi untuk menghadapi kenyataan itu yang paling penting.

Mengutip lirik dari grup musik lawas Indonesia, Boomerang, di lagu berjudul “Halo Sahabatku” ada lirik “Hadapi angkuhnya kehidupan ini, kita berkelahi dengan kenyataan”.

Kalimat “berkelahi dengan kenyataan” itu tertancap betul di pikiran saya. Bukan dalam konotasi negatif, melainkan bagaimana tetap kreatif dan berusaha agar tetap survive dalam kondisi pandemi seperti ini.

Dan sekarang, tampaknya manusia-manusia (setidaknya yang saya kenal) sudah mulai beradaptasi dengan kondisi ini. Semangat ternyata masih ada. Contohnya: mahasiswa-mahasiswa yang rutin membikin diskusi, meski digelar daring alias online, entah memakai Facebook, YouTube, Instagram, Google Meet hingga aplikasi Zoom.

Ternyata itu tetap bisa digelar. Meski tak bertatap muka langsung dalam satu ruangan, minimal bertatap muka dalam satu jaringan media sosial. Ilmu tetap saja bisa disampaikan.

Dan ternyata model-model diskusi ataupun seminar daring ini, efektif juga. Tentunya menghemat biaya pula. Diskusi daring ini, apalagi saat Ramadan, panitia tentunya tak perlu susah-susah mengeluarkan biaya lain-lain, mulai dari sewa tempat, makan minum (biasanya diskusi menjelang buka puasa), alat tulis bagi peserta ataupun biaya-biaya lain. Efisien betul.

Bagi musisi, yang saya tahu, mereka juga tetap berkreasi. Di tengah kondisi, banyak yang menciptakan lagu-lagu “pembangkit semangat”, ataupun konser daring, termasuk dalam rangka amal. Didi Kempot almarhum, bahkan dalam konser daringnya bisa mengumpulkan donasi hingga Rp7,6 miliar yang bisa membantu lebih dari 30ribu keluarga terdampak Covid-19.

Memang betul filosofi “bulu ketek” yang saya pernah dengar: tetap tumbuh meski terjepit hehehe. Salam kreatif!

ilustrasi: pixabay.com

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like