Indonesia Terserah: Ungkapan Kekesalan yang Harus Dimaklumi

By

Di tengah pandemi Covid-19 yang belum ada tanda-tanda mereda, tiba-tiba ada rencana –dan bahkan sudah mulai dilaksanakan- untuk melonggarkan PSBB. Orang-orang dengan keperluan tertentu dan dengan persyaratan tertentu boleh melakukan perjalanan.

Penerbangan mulai dibuka kembali. Bus antarkota antarprovinsi juga mulai diizinkan untuk beroperasi dengan pembatasan yang ketat. Kemudian orang-orang di bawah usia 45 tahun akan kembali diizinkan bekerja di kantor atau perusahaannya.

Meski syarat administratifnya berbeda-beda, tetapi kesemua pembolehan di atas harus menuruti satu ketetapan yang sama. Yaitu harus mengikuti protokol kesehatan pencegahan penyebaran virus Covid-19. Di sinilah polemiknya.

Kita bisa memahami bahwa transportasi memang harus terus berjalan dalam situasi pandemi berat sekalipun. Maka, kita membuat begitu banyak pengecualian lagi. Ini boleh, itu boleh, memastikan pesawat kembali terbang, transportasi boleh lewat, apalagi kendaraan milik pejabat pemerintahan, tentu boleh lewat ke mana saja.

Jika pesawat bisa terbang dengan berbagai protokol kesehatan, kenapa rumah ibadah tidak boleh buka dengan protokol kesehatan yang sama? Khawatir protokol itu dilanggar? Saya rasa mau itu naik pesawat, pergi ke rumah ibadah, sama saja potensi dilanggarnya.

Saya pribadi termasuk yang tidak setuju rumah ibadah kembali dibuka. Ritual agama yang mengumpulkan orang banyak kembali dilangsungkan dalam situasi pandemi. Saya juga bisa memahami jika ada yang setuju. Tapi saya juga sangat bisa memahami bila ada yang marah, rumah ibadah masih dikunci, tapi itu kenapa pesawat boleh terbang ?

Minimal marilah kita berempati kepada umat agama yang ingin kembali ke rumah ibadah masing-masing. Atau minimal berempatilah kepada para tenaga kesehatan yang berada di garda terdepan menghadapi pandemi Covid-19 ini.

Jangan sampai kita koar-koar kemana-mana melarang ibadah bersama di rumah ibadah, tetapi kita sendiri yang melarang malah sibuk kemana-mana atas alasan urusan bisnis atau bekerja, yang boleh jadi melanggar begitu banyak protokol kesehatan.

Melihat fenomena ini maka sangat wajar jika kemarin sempat viral tagar #IndonesiaTerserah yang berawal dari postingan salah satu tenaga kesehatan di salah satu platform media sosial yang mengeluhkan tentang kebijakan pemerintah yang tumpang tindih dan terkesan tidak konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya.

Mari kita semua konsisten. Konsistensi inilah yang bisa membuat semua orang yakin, bahwa kita memang bersama-sama mau menyelesaikan pandemi ini. Dengan gotong-royong, dengan kebersamaan, dan dengan solidaritas.

sumber ilustrasi: Instagram

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like