Kisah Kisworo: Curi Brankas hingga Pistol Lapas untuk Kelompok Teroris

By

Kisworo alias Woro (35) menyambut kedatangan saya, Senin (11/5/2020) sekira pukul 19.30 WIB, di sekitaran Polsek Larangan, Kabupaten Brebes. Saya datang dari Semarang menemuinya untuk beberapa keperluan, termasuk mewawancarai agar tahu lebih banyak tentang kisahnya.

Perjalanan di hari ke-18 bulan Ramadan 1441 H itu lancar. Tol relatif sepi dari Semarang ke Brebes. Tentu setelah melewati beberapa check point, melengkapi diri dengan masker dan hand sanitizer dalam rangka protokol kesehatan antisipasi COVID-19.

Setelah melipir di sebuah warung kopi, obrolan pun mengalir. Sosoknya ramah, bahkan kerap tertawa lepas mengenang masa lalunya.

“Sekarang udah enggak lagi, udah capek (masuk penjara),” kata Woro.

Woro adalah mantan narapidana terorisme (napiter) yang kini sudah tobat. Meninggalkan dunia kekerasan yang dulu dipahaminya sebagai sebuah kebenaran. Kisworo “kabur” ke Jakarta dari Brebes karena kasus pencurian kayu jati. Itu awal Kisworo tiba di Ibu Kota.

Luntang-lantung di Jakarta, ngontrak Rp250ribu per bulan, sempat memulung karena melihat beberapa pemulung yang belakangan ternyata pemulung palsu. Sebab, hanya kedok untuk mencuri, membawa karung mencuri tabung gas. Kakinya sempat 2 kali ditembak polisi dari perjalanannya di dunia kriminal.

“Saya biasa main brankas (mencuri brankas) di kantor-kantor, hasilnya lumayan sih hehehe,” ungkapnya.

Woro terekrut jaringan teroris ketika mendekam di Lapas Tangerang, sebelum insiden ledakan bom dan serangan teroris di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, Januari 2016 silam. Woro ketika itu ditahan di Lapas Tangerang karena kasus pencurian brankas.

Di Lapas Tangerang, Kisworo galau. Dia punya seorang kekasih, yang sempat komunikasi dengan orangtuanya. Asal Banten. Kekasihnya bernama Asnawati, dan orangtuanya bersedia menerima Woro dengan satu syarat: asalkan salat 5 waktu dan mengaji.

Di tengah kegalauan, Woro mencari-cari siapa orang di dalam lapas yang bisa membimbingnya untuk urusan agama. Hingga akhirnya bertemulah dengan narapidana lainnya, ada 2 orang, yang disebutnya ustaz.

Mereka adalah Agung Prastyo alias Ayas Huda dan Emirat Berlian Nusantara, keduanya narapidana terorisme di sana. Mereka, sebut Woro, berkaitan dengan kasus pelatihan militer di Aceh atau kerap disebut Kasus Jalin Jantho (2010) dan kelompok Santoso alias Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso, Sulawesi Tengah.

“Ustaz Ayas dan Ustaz Emirat yang ketika itu membimbing saya. Saya mau tobat, sama mereka saya diminta syahadat lagi. Saya sempat bingung, kan saya Muslim sudah syahadat kok diminta syahadat lagi? Saya nurut ajalah,” lanjutnya.

Makin lama berinteraksi dengan dua orang itu, Woro makin galau, tapi ada sesuatu yang menancap di hatinya ketika itu. Asalkan bisa tobat, menjalankan perintah agama, dia senang.

Woro juga kerap bertanya, kenapa enggak diajari mengaji? Malah diminta melakukan amaliyah sesuai apa yang dia biasa atau kemampuannya.

Woro menyanggupi saja. Dia yang dulu keluar masuk penjara karena kasus pencurian, dianggaplah sebuah keahlian. Woro menyanggupi untuk mencuri pistol milik Lapas Tangerang, jumlahnya 9 pucuk.

“Pistol itu dibawa orang ke luar (penjara), katanya untuk amaliyah,” lanjutnya.

13 Januari 2016, Woro bebas penjara dan sempat menikah siri dengan Asnawati itu di sebuah hotel di Tangerang sebelum pulang ke Brebes, tempat tinggalnya.

Sehari kemudian, yakni 14 Januari 2016, terjadilah kasus teror di Sarinah Kawasan Jalan Thamrin Jakarta Pusat itu. “Saya lihat, loh kok kejadian,” tambahnya.

Awalnya dia tak begitu ambil pusing. Namun, sehari kemudian, pengembangan kasus Sarinah itu, ditangkaplah Hendro Fernando atau Edo Aliando di sebuah rumah kontrakan di Jalan Topas Raya nomor 17 RT01/RW39, Kelurahan Bojong Rawalumbu, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi. Di penggerebekan itu, ditemukan 9 pistol berikut amunisinya.

Pada perkembangannya, register pistol dicek polisi, ternyata senjata organik Lapas Kelas I Tangerang. Woro mulai panik, sebab dialah pelaku pencurian pistol itu.

“Tanggal 27 Januari 2016 saya ditangkap Densus 88. Itu TKPnya di situ dekat masjid (dekat Polsek Larangan),” cerita Woro sembari menunjuk arah. Masjidnya tak jauh dari lokasi kami ngopi sambil ngobrol.

Kisah dari  Suriah

Akibat perbuatannya, Woro divonis 6 tahun penjara. Dijerat Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

Dia menjalani hukuman di beberapa lapas. Ketika sempat menjalani di Lapas Kelas IIA Palangkaraya Kalimantan Tengah, Woro melihat video pendek.

Dalam video itu adalah Dwi Joko Wiwoho alias Pak Joko, yang sempat dievakuasi dari Suriah pada tahun 2017. Pak Joko dalam video itu bercerita tentang kebohongan ISIS, kelompok yang dianggap benar oleh Woro ketika itu. Juga video seorang gadis yang bercerita tentang kebobrokan ISIS, belakangan diketahuinya bernama Dhania (Nurshadrina Khairadhania).

“Wah saya ketika itu marah banget, benci banget lah. Masa (ISIS) dijelek-jelekin, saya nggak terima. Teman-teman saya (sesama napiter) juga pada marah,” sebut Woro.

Dalam hatinya, nanti kalau ketemu Pak Joko, dia akan membuat perhitungan. Sebab sudah menjelek-jelekan ISIS.

Berjalannya waktu, Woro dipindah ke Lapas Sentul (Lapas Khusus Terorisme Kelas IIB Bogor). Di situ dia menjalani sisa hukumannya. Sekira tahun akhir 2018-2019, ada pemindahan baru napiter ke Lapas Sentul. Pak Joko salah satunya.

“Jadi saya dulu dipindah ke Sentul, 2 bulan kemudian Pak Joko masuk, nah ini orangnya,” lanjutnya.

Woro tak langsung bereaksi ketika mengetahui Pak Joko ada dalam satu lapas dengannya. Meski masih ada kebencian, Woro berusaha menahan. Suatu waktu, dia juga melihat Dhania membesuk ayahnya. Woro terus memperhatikan.

“Yang dipenjara di Sentul, itu pinter-pinter, paling rendah pendidikannya SMA, kalau saya mah lulusan SD,” tambahnya.

Di situ, Woro mulai berpikir, mempertanyakan lagi video Pak Joko yang sempat dilihatnya ketika mendekam di Lapas Palangkaraya itu. Akhirnya, Woro memberanikan diri berkomunikasi dengan Pak Joko. Bertanya tentang isi video itu.

Pak Joko, sebut Woro, bercerita panjang lebar. Cerita itu diyakini benar oleh Woro, sebab Pak Joko adalah orang yang sudah pernah ke wilayah ISIS di Suriah, artinya pernah melihat langsung apa yang terjadi di sana.

“Saya penasaran, bener nggak sesuai syariat Islam, ternyata yang diceritakan Pak Joko itu sebaliknya. Kehidupan di sana (wilayah ISIS di Suriah) justru jauh dari syariat Islam, di mana-mana kekerasan. Bahkan katanya, ada kepala dibuat mainan anak-anak, ditendang-tendang. Wah nggak bener nih berarti (ISIS),” bebernya.

Woro akhirnya akrab dengan Pak Joko. Dia senang mendengar cerita-cerita tentang kehidupan di Suriah itu, di wilayah ISIS. Dari situlah, Woro akhirnya menyadari kekeliruannya selama ini.

“Dari situ saya sadar, ini titik balik saya cinta NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia),” tegas Woro.

Hidup baru

Sambil sesekali menyeruput es kopi di warung itu, obrolan terus berlanjut.

Woro berbicara tentang “lelahnya” dia di dunia hitam, termasuk terorisme itu. “Saya udah capek urusan sama polisi, mau yang bener aja (menjalani hidup lebih baik). Saya sudah 5 kali dipenjara, mulai umur 20 tahun dipenjara,” kenangnya.

Kini, Woro mulai menata hidup baru setelah bebas penjara 27 Januari 2020 lalu. April lalu, Woro juga “mengulang nikahnya” dengan Asnawati si pujaan hati. Nikah disaksikan orangtuanya.

“Jadi pas ya, saya ditangkap 27 Januari 2016 bebas 27 Januari 2020, vonis 6 tahun, saya jalani 4 tahun,” ungkapnya sembari tertawa kecil.

Aktivitasnya sekarang menjadi sopir odong-odong. Kereta mainan untuk anak kecil. Pagi sampai siang dia narik di kampungnya, istirahat, kemudian sore hari dilanjutkan. Mencari rezeki yang halal untuk kehidupannya ke depan.    

 

Foto dok pribadi: Kisworo dengan odong-odong usahanya sekarang.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like