diskriminasi-terhadap-ahmadiyah-parakansalak-sukabumi-indonesia-ruangobrol

Diskriminasi terhadap Jemaat Ahmadiyah Masih Terjadi

By

Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) masih menjadi korban diskriminasi di negeri ini. Kali ini menimpa Jemaat Ahmadiyah di Parakansalak, Sukabumi. Aparat melarang paksa mereka memperbaiki masjid yang pernah dibakar massa pada 2008.

Ketua JAI Parakansalak, Asep Saifudin bercerita, pelarangan paksa oleh aparat terjadi pada 19 Februari 2020, sehari setelah kegiatan renovasi masjid bernama Al-Furqon itu dilakukan oleh anggota JAI.

Renovasi ini, kata Asep, bertujuan untuk mengusir kelelawar yang telah bersarang di masjid. Karena masjid ini belum pernah direnovasi sejak dibakar massa pada 2018.

Pada 18 Februari, anggota JAI mulai memasang kerangka masjid. Saat itu beberapa orang aparat datang dan melakukan kekerasan verbal kepada anggota JAI yang melakukan renovasi dengan mengatakan, “tolol, koplok.”

“Hari kedua mereka datang lagi, dan berucap kata kasar yang sama ke kaum ibu karena ibu-ibu mendokumentasikan kegiatan mereka, mungkin takut diviralkan,” kata Asep di Jakarta, Senin (2/3/2020), seperti dilansir BBC Indonesia.

Selain untuk mengusir kelelawar, anggota JAI merenovasi masjid agar bisa menggunakannya pada Ramadan tahun ini. “Kami hanya ingin memasang plafon saja supaya bulan suci Ramadhan tahun ini kami bisa salat Tarawih, Idul Fitri dan lainnya di dalam masjid,” kata Asep.

Asep menyatakan, alasan aparat menghentikan paksa proses renovasi demi menjaga kondusivitas dan ketertiban. Karena menurut aparat proses renovasi sudah viral dan akan memancing masyarakat dan ormas untuk datang.

Asep meminta penjelasan kepada aparat, masyarakat dan ormas mana yang akan datang. Karena menurutnya warga sekitar selama ini berhubungan baik dengan anggota JAI.

Pada 20 Februari, kata Asep, giliran Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Parakansalak datang dan menutup tiga pintu masjid dengan triplek. Akhirnya pada 21 Februari aparat kembali datang dan menghentikan paksa proses renovasi.

Atas kejadian ini, Asep melapor ke Kominis Nasional Hak Asasi Manusia pada Senin lalu.

Kejadian yang menimpa warga Ahmadiyah Parakansalak menambah deretan panjang diskriminasi dan persekusi kepada pengikut ajaran Mirza Gulam Ahmad ini. Sebelumnya persekusi terjadi di Cikeusik, Sumenep dan sejumlah daerah lain yang mengakibatkan korban jiwa dan anggota JAI terusir dari tempat tinggalnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like