kenangan-terakhir-wildan-mukhollad-where-has-that-old-friend-gone-ruangobrol

Wildan Mukhollad: Kupersembahkan Kesyahidanku untuk Ibu (5-End)

By

Where has that old friend gone

Lost in a February song

Tell him it won’t be long

‘Til he opens his eyes

Opens his eyes

Where is that simple day

Before colors broke into shades

And how did I ever fade

Into this life

Di atas adalah lirik penggalan lagu “February Song” yang dinyanyikan oleh Josh Groban, penyanyi kelahiran Los Angeles, California, Amerika Serikat.

Lagu ini bercerita tentang seseorang yang harus kehilangan kawan karibnya, orang yang dilindungi dan disayanginya oleh sebuah perpisahan yang tidak pernah mereka harapkan sebelumnya. Rupanya, duka di bulan Februari itu tak hanya dirasakan oleh Josh Groban, namun ia juga menyelinap masuk di kamar sunyi seukuran 3×3 meter di tengah himpitan pemukiman padat penduduk kota Jakarta.

Kehidupan sebagai mahasiswa, bukan hal baru bagi saya. Pengalaman menjadi mahasiswa sudah pernah saya alami sebelum akhirnya terdampar di salah satu universitas swasta di Jakarta. Tercatat ada beberapa kampus yang pernah saya singgahi, baik itu negeri maupun swasta.

Ada sebuah ungkapan dalam Bahasa Arab yang membumi di altar suci pesantren kami di Lamongan, “Sebaik-baik teman duduk di setiap waktu adalah buku”.

Tradisi positif yang saya peroleh selama di pesantren ini, menjadi alasan utama atas ketertarikan untuk selalu menimba ilmu setinggi-tingginya. Sebuah tradisi yang harusnya dimiliki oleh bangsa ini, namun kini tengelam dan tak lagi diminati. Dan beruntung, saya belajar di sebuah pesantren dengan atmosfir yang mendorong individu untuk selalu mengembangkan diri meski hidup dalam keterbatasan.

Keinginan untuk selalu belajar dan menimba ilmu, pada akhrinya membawa saya, seorang pemuda dari pelosok Lamongan menuju ibu kota Jakarta.

Dalam kepenatan menjalani rutinitas sebagai mahasiswa, bayangan akan nostalgia semasa menjadi santri kembali terkenang. Bangun pukul 3 pagi untuk melaksanakan sholat Tahajud, apel pagi, antrian panjang untuk mengambil makanan, hingga setoran hafalan.

Tak terkecuali kenangan bersama para santri, asatidz, hingga cinta monyet dengan santriwati. Bagi kami, Ponpes Al Islam tak ubahnya seperti universitas kehidupan yang menyediakan berbagai ilmu pengetahuan. Terkumpul disana para santri dengan berbagai latar belakang budaya, suku dan ras yang berbeda.

Namun kenangan tentang Wildan Mukhollad, seolah telah menyita perhatian. Entah kenapa saya tiba-tiba menjadi rindu akan dirinya, rindu akan keluguannya, dan rindu akan semangatnya. Sudah hampir 4 tahun tak lagi bersua sejak keberangatannya menuju Kairo, Mesir demi mengejar mimpi dan cita-citanya.

Teringat gambaran jelas saat itu, saat saya harus mengantarnya menuju Pucuk, Lamongan, untuk berangkat ke Surabaya sebelumnya esoknya bertolak menuju Mesir melalui Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta pada pertengahan 2010.

Wil, nanti kalau antum pulang dari Mesir, ana (saya) ajak ke Lamongan lagi ya untuk jadi imam di sana,” ujar saya waktu itu sebelum akhirnya mengucap salam dan saling berpamitan.

Hingga pada pukul 22:25:14, Jum’at, 07 Februari 2014, bayangan tentang rencana liburan bersama Wildan Mukhollad, mendadak pudar dan gelap.

Sebuah pesan singkat masuk di seluler saya :

الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

Di antara orang-orang Mukmin itu ada yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Maka di antara mereka ada yang gugur, dan diantara mereka (pula) ada yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah janjinya.” (QS. Al-Ahzab : 23)

Bismillah, kabar gembira sekaligus duka. Setelah hampir setahun terjun menyambut panggilan jihad di negeri Suriah, Abu Bakar Al-Muhajir alias Wildan Mukhollad bin Lasmin, jebolan ponpes Al-Islam Tenggulun Lamongan, bergabung bersama kafilah mujahidin ISIS. Allah menyambut dan menerima perjuangannya. Beberapa hari yang lalu, ia melakukan amaliyah al-istisyhadiyah (pelaku bom bunuh diri) di Irak yang sebelumnya ia bertugas di Aleppo … meluluh-lantakkan kekuatan musuh rezim syiah Shafawi Nuri Al-Maliky … Allahu akbar … semoga Allah menerimanya sebagai syuhada dan menjadi teladan bagi para perindu syurga di berbagai penjuru dunia … Allahu akbar.

Tidak percaya dengan pesan tersebut, saya baca lagi berulang-ulang. Dan ketika sudah merasa paham dengan pesan tersebut, saya segera menghubungi sang pengirim pesan dan menanyakan akan kebenaran dari berita tersebut.

Iya, benar, khi. Beritanya di pondok (Al Islam) sudah ramai,” jelasnya singkat.

Sambil bersandar di tembok kosan, saya mencoba meneguhkan diri. Namun seteguh apa pun, tangis tetap tak mampu dibendung.

Dalam sekejap, saya merasa terluka. Terluka atas kepergiannya, terluka atas sikap mereka yang merasa bahagia atas kematiannya, dan yang lebih jauh, terluka karena saya tahu ia adalah emas permata bagi keluarganya.

Teringat kembali saat Wildan berhasil meraih prestasi demi prestasi sejak ia masih berusia dini. Keterbatasan hidup dan kecintaanya pada orang tua, memompa semangatnya hingga batas tertinggi. Ia paham betul bahwa cerdas saja tidak cukup. Prestasi itu harus diraih, bukan sebatas bermimpi. Dan ia berhasil membuktikannya.

Pesan ibunya kepada Wildan sangat sederhana, “Pulanglah, Wil. Nanti kalau sudah selesai dari Mesir, kamu bisa ngajar ngaji di kampung (Payaman).

And I never want to let you down

Forgive me if I slip away

And all that I’ve known is lost and found

I promise you I

I’ll come back to you one day

Inilah secuil kasih dari seseorang yang selama ini selalu menyanyangimu, dan mengharapkan suatu saat ini kamu bisa pulang kembali ke rumah dan berjalan-jalan sore menyusuri tepian sawah.

 

(Artikel ini merupakan pengalaman pribadi sang penulis yang merupakan senior Wildan semasa belajar di Ponpes Al Islam Tenggulun, Lamongan)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like