Mencegah Generalisir “Radikalisme dan Terorisme” di Masyarakat

By

Masyarakat luas perlu ambil bagian untuk upaya-upaya menangkal radikalisme dan terorisme. Namun demikian, sebelum menangkalnya masyarakat tentu harus paham terlebih dahulu apa itu radikalisme dan terorisme. Ibarat kata mau memerangi musuh itu tentu harus tahu betul siapa musuhnya.

Gagasan itulah yang tersirat pada kegiatan bertajuk “Pertemuan Komunitas: Membangun Ketahanan Masyarakat dari Radikalisme dan Terorisme”. Kegiatan itu digelar Selasa 18 Februari 2020 lalu.

Lokasinya di kantor Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah. Kegiatan itu diinisiasi oleh organisasi The Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia bekerja sama dengan berbagai organisasi dan elemen masyarakat, Yayasan Prasasti Perdamaian (YPP) salah satunya.

Tayyip Malik dari YPP yang menjadi salah satu pemateri kegiatan itu menyebut radikalisme dan terorisme penting dipahamkan kepada masyarakat. Tujuannya agar mereka mengerti untuk selanjutnya bisa melakukan upaya-upaya pencegahan.

“Jadi jangan lagi ada generalisir, misalnya oh ini pakai cadar berarti radikal, teroris, nggak bisa digeneralisir seperti itu,” ungkap Tayyip via telepon dengan ruangobrol.id, Senin (24/2/2020) siang.

Pemilihan lokasi kegiatan di wilayah tersebut, sebut Tayyip, juga tak lepas dari histori di sana. Di antaranya; ketika pada tahun 2004 silam ada penangkapan oleh aparat kepolisian di wilayah tersebut terkait terorisme atau teranyar bom di Pos Pengamanan (Pospam) Kartasura H-1 Lebaran tahun lalu.

Berangkat dari situ, apalagi di wilayah tersebut juga cukup banyak rumah-rumah kos, mereka mencoba memberikan gambaran tentang apa itu radikalisme maupun terorisme.

Peserta kegiatan itu berangkat dari berbagai elemen masyarakat; ada remaja, ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), aparatur pemerintahan dan keamanan, tokoh agama maupun tokoh masyarakat setempat.

“Jadi masyarakat harus ‘aware’ dengan kelompok-kelompok seperti itu, jangan sampai salah menyimpulkan. Jadi dipersiapkan masyarakatnya agar tidak terjadi diskriminasi,” lanjutnya.

Kegiatan itu, sebut Tayyip, juga mendapat dukungan penuh dari lurah setempat. Hal ini, sebutnya, amat penting untuk kerja-kerja pencegahan ke depan. Bukan hanya di Ngadirejo Kartasura, tapi harapannya juga menyebar ke daerah-daerah lainnya.

“Ini pertama kali (di Ngadirejo) jadi pilot project,” tutupnya.

 

 

Tayyip Malik (memegang microphone) dari Yayasan Prasasti Perdamaian memberikan materi FOTO DOK PANITIA KEGIATAN

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like