revina_vt_dedy_susanto.

Dedy Susanto: Serigala Berbulu Psikoterapis

By

Sebelumnya, mungkin kita tak wajib kenal Dedy Susanto. Tapi begitu kedoknya dibuka akun @revinavt (Revina VT), nama Dedy tenar tanpa promosi, justru semua orang berburu info tentang dia. Kalau mau tenar tanpa promosi ternyata harus bangun kontroversi!

Revina awalnya ingin melakukan kolaborasi dengan lelaki itu. Namun, Revina ragu karena nama Dedy Susanto tak masuk dalam HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia). Dedy menyangkal, dan berkata bahwa ia bukan psikolog namun psikoterapis. Keduanya debat di direct message instagram dan diunggah melalui instastory Revina.

Selain meladeni Dedy, Revina banjir DM dari pasien korban Dedy. Ada pula yang mengaku bersyukur mengetahui itu karena sebelumnya berniat mendaftar terapi yang diadakan Dedy. Kabarnya, 1 kali pertemuan harus membayar biaya 2,5 – 3,5 juta per orang.

DM tersebut juga menguak fakta bahwa Dedy sering ngajak perempuan untuk melakukan psikoterapi secara privat di dalam kamar hotel. Lelaki yang sering disebut ‘Paduka’ ini meminjam nama si pasien untuk reservasi, namun dia yang bayar. Setidaknya dia modaaaal (karena ada maunya). Kemudian setelah dibawa, mengingat kejadian tak mengenakkan dengan dalih terapi, ia menyentuh tubuh pasien perempuannya bahkan melakukan hubungan badan. Banyak pasien mengaku tak mampu melawan karena proses terapi tersebut membuat mereka lemah.

Pelecehan berkedok terapi ini memang mirip seperti terorisme. Ekstrim sih persamaannya. Tapi dalam banyak kasus terorisme kekinian, seringkali kesejahteraan dunia akhirat dijadikan kedok untuk kepentingan politik. Propaganda ISIS berhasil memberikan mimpi dan harapan yang padahal melambungkan nama Abu Bakar Al Baghdadi sebagai pemimpin. Bahkan di saat ribuat tentara ISIS meninggal di peperangan, sang Khalifah justru bersembunyi.

Permasalahan sosial yang kian banyak muncul ke permukaan malah menjadi pasar oleh kelompok yang tidak bertanggung jawab. Pasalnya, orang kalut, galau, dan bimbang akan teracuni dengan mudah oleh harapan dan mimpi. Baik oleh ISIS atau kelompok macem Dedy Susanto. Oleh karena itu, kita sebagai orang terdekat yang justru menjadi filter bagi mereka.

Kita juga tak tahu apakah ada predator mesum selain Dedy Susanto. Ngakunya psikoterapis, ternyata serigala ngajak masuk kamar.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like