Pelajaran dari Novel Anak Perawan di Sarang Penyamun (2)

By

Berawal dari keakraban itu, Medasing akhirnya menceritakan pengalaman hidupnya. Dari cerita itu, jelaslah bahwa sebelum menjadi penyamun yang sangat ditakuti, Medasing bukanlah keturunan penyamun. Dia merupakan keturunan orang baik-baik.

Dulu Medasing adalah anak seorang saudagar kaya. Ayahnya dirampok oleh segerombolan penjahat. Kedua orang tuanya dibantai dan dibunuh. Karena masih kecil, Medasing tidak dibunuh oleh gerombolan tersebut dan dibawa ke sarang gerombolan.

Pimpinan penyamun itu tidak memiliki anak sehingga sangat menyayangi Medasing dan mengangkatnya sebagai anak. Setelah ayah angkatnya meninggal, pucuk pimpinan gerombolan penyamun langsung dipegang oleh Medasing.

Jadi, gerombolan perampok yang dipimpinnya adalah gerombolan penyamun warisan dari ayah angkatnya. Dia tak pernah bercita-cita menjadi penyamun, apalagi menjadi seorang pimpinan perampok.

Karena sejak kecil hidup dalam lingkungan perampok, Medasing tidak mengetahui pekerjaan lain selain merampok. Hati Sayu menjadi luluh mendengar penuturan Medasing tentang kisah hidupnya. Rasa benci dan dendam kepada Medasing lama-lama menjadi luluh. Kemudian dengan penuh kesabaran dan penuh kasih sayang, dia merawat Medasing sampai sembuh.

Persediaan makanan dalam hutan sudah habis. Sayu sangat mengkhawatirkan hal itu. Itulah sebabnya, dia mencoba mengajak Medasing keluar dari persembunyian dalam hutan. Karena menyadari kenyataan tersebut, Medasing akhirnya menyetujuinya. Mereka keluar dari hutan menuju kota Pagar Alam.

Sesampainya di kota Pagar Alam, mereka langsung menuju rumah Sayu. Alangkah terkejutnya Sayu, ternyata rumah itu bukan milik orangtuanya lagi. Menurut penuturan penghuni baru rumah itu, Nyi Haji Andung ibunda Sayu masih hidup dan tinggal seorang diri di pinggir kampung. Mendengar kabar itu, Sayu dan Medasing langsung menuju rumah Nyi Haji Andun.

Nyi Haji Andun tidak meninggal sewaktu diserang kawanan Medasing. Dia hanya terluka dan berhasil sembuh. Kini dia tinggal sendirian di ujung kampung dalam keadaan sakit keras. Dia sering mengigaukan anaknya yang dibawa perampok.

Pada saat Nyi Haji Andun kritis, muncullah di hadapannya Medasing dan Sayu. Betapa bahagianya perasaan Nyi Haji Andun bertemu dengan anak perawan yang sangat dirindukannya itu. Rupanya itulah pertemuan terakhir mereka. Nyi Haji Andun meninggal dunia pada saat itu juga, dia meninggal di hadapan anak yang sangat disayanginya.

Menyaksikan keadaan tersebut, hati Sayu menjadi hancur. Demikian pula halnya dengan Medasing. Kenyataan itu telah menyadarkan dirinya betapa kejamnya dirinya selama ini. Dia merasa menyesal, malu, dan berdosa kepada Sayu dan keluarganya.

Akibatnya, karena berbagai perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya, Medasing memutuskan menikahi Sayu. Sejak itu hidup Medasing berubah total. Dia menjadi seorang hartawan yang sangat penyayang kepada siapa pun.

Lima belas tahun kemudian, Medasing dan istrinya berangkat ke tanah suci. Sekembalinya dari tanah suci, orang-orang kampung ramai meyambut mereka.

Suatu ketika ketika Haji Karim, nama baru Medasing, setelah kembali dari Mekah sedang duduk-duduk termenung kembali masa lalunya, tiba-tiba pintu rumahnya diketuk. Ternyata orang yang mengetuk pintu itu adalah Samad.

Haji Karim masih mengenalinya sebab dia merupakan anak buahnya yang dulu diberi tugas mengintai para saudagar yang hendak dirampok. Karena melihat kondisi Samad yang hidup menderita, Haji Karim pun mengajak Samad untuk hidup bersamanya.

Waktu itu, Samad memang sempat tinggal di rumah Haji Karim dan istrinya yang tidak lain adalah Sayu. Namun, paginya secara diam-diam Samad meninggalkan rumah Haji Karim dan pergi entah ke mana.

Haji Karim dan Sayu hidup damai dan tenteram di kampung itu.

ilustrasi: pixabay.com

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like