petisi-online-ruangobrol

Petisi Online, Antara Solusi dan Polusi

By

Tentu 20 tahun lalu bisa jadi kita tak pernah menyangka dunia fana akan menghadirkan dunia maya. Si maya bisa mempengaruhi kehidupan si fana meski usianya lebih muda, meski awalnya hanya untuk jadi pembantu, eh malah jadi majikan.

Propaganda politik di media sosial tahun lalu udah jadi paling gampang jadi contoh. Hanya karena perbedaan politik, fitnah, negative campaign, black campaign dan segala cocokologi, kita bisa musuhan sama teman seperjuangan. Meski pemilu berakhir, musuhan tetap berlanjut. Cebong vs Kampret! Nasionalis vs Islamis! Mahabenar vs Mahasuci! Perdebatan yang sulit terurai hingga akhir zaman.

Yang lagi hits, apalagi kalau bukan petisi online. Politisi Online seakan mewujudkan suara rakyat adalah suara tuhan. Tak peduli petisi lewat akun fake, email kloning atau identitas hasil googling. Yang jelas angkanya puluhan ribu, ratusan ribu kalau perlu jutaan.

“Tandatangani petisi ini,” begitu tercantum disana. Ramai-ramai orang mendatangani apalagi kalau yang menyebarkan satu prekuensih. Sesama cebong atau sesama kampret, misalnya.

Petisi yang sedang ramai tentu saja pembebasan PSK bernama NN. Perempuan itu harus ditangkap setelah melayani seorang lelaki yang katanya Asisten seorang Anggota DPR. Entah dengan siapa NN bersenggama baik dengan asisten atau si anggota DPR, yang jelas jebakan ini penuh pencitraan. Kalau mau dijebak, minimal gak perlu skidipapap dulu kan, begitulah kurang lebih kata Netizen.

Belum ada kelanjutan kebijakan petisi ini terhadap NN. NN masih ditahan dan sang Politisi masih bercuap di media jadi pahlawan.

Sebelumnya jelas rame petisi tolak WNI Simpatisan ISIS kembali. Setidaknya sampai hari ini (8/2) sudah 35.707 yang menandatangani yang dibuat #99Army. Selain petisi tersebut, setidaknya ada 3 petisi yang sama dengan tanda tangan kurang dari 100.

Tak lama kemudian, Presiden mengatakan, “Kalau saya sih, ya saya akan bilang: tidak”. Ini cukup penting bagi para pendukung sejak pemilu seperti #99Army. Meskipun setelah kata-kata itu Presiden bilang, “Tapi ini akan dikaji dirapat terbatas”. Bagi netizen yang penting sudah bilang tidak!

Sebelumnya jelas kita masih ingat petisi meminta Presiden Jokowi tidak mencopot Sang Ratu Laut, Susi Pudjiastuti. Tapi waktu itu Presiden gak nurutin petisi tersebut. Malah angkat Edhy Prabowo jadi Menteri Kelautan yang gak mau nenggelemin kapal.

Petisi ya petisi meski sebagian orang mengganggap itu solusi. Amerika Serikat memang akan melakukan tindakan apabila petisi di tanda tangani minimal 100.000 orang melalui change.org. Gak kebayang kalau di Indonesia digunakan metode serupa, buzzer semua yang isi :(((

Alur pemerintah Indonesia mengambil tindakan sejatinya bukanlah petisi, tapi media nasional. Jadi misalnya petisi ini kemudian mewarnai headline media nasional, ramai diperbincangkan dan jadi trending topic berhari-hari, barulah bisa berpengaruh. Tapi kalau tidak, boro-boro jadi solusi, jadi polusi iya.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like