WNI Calon Returnees ISIS: Jika Mereka Salah, Apakah Kita (Selalu) Benar?

By

Perbincangan tentang fenomena para WNI calon returnees (saya menganggap masih calon, jika sudah berhasil pulang atau dipulangkan ke Indonesia barulah bisa disebut returnees) yang sempat menjadi ‘warga negara’ ISIS dan saat ini berada di pengungsian yang kemudian ingin kembali ke negara asalnya karena ISIS telah kalah telak, kembali ramai menghiasi media dan media sosial.

Reaksi para warganet atau netizen sangat beragam dalam menyikapi keinginan mereka kembali ke Indonesia tanpa ada ungkapan penyesalan dan adanya wacana bahwa pemerintah mungkin akan mencoba memulangkan mereka.

Ada yang memaki-maki mereka karena kesalahan mereka lebih memilih ISIS dan menjelek-jelekkan pemerintah dan berpendapat mereka lebih baik mati saja di sana daripada pulang yang menghabiskan uang negara dan mungkin akan menimbulkan masalah baru di sini.

Ada yang setuju untuk dipulangkan tapi dengan berbagai syarat seperti: harus dipenjara dulu, harus direhabilitasi, harus kerja sosial, harus aktif kampanye kontra radikalisasi, dll. Dan ada juga yang mengikuti dan mendukung apapun yang akan dilakukan oleh pemerintah terhadap mereka. Toh pemerintahlah yang punya wewenang dan tanggung jawab mengurusi hal itu.

Reaksi para warganet itu bisa menjadi acuan tentang beragamnya pendapat masyarakat terhadap wacana kembalinya para calon returnees itu, yang intinya ada yang menolak dan ada yang mendukung, dan ada pula yang pasif terserah pemerintah yang artinya jika dipulangkan mereka juga akan berusaha untuk menerimanya.

Namun, jika nantinya para calon returnees itu benar dipulangkan oleh pemerintah, maka semuanya harus menerima keputusan pemerintah itu. Bagi yang mendukung dan yang bersikap terserah apa kata pemerintah sih mungkin tidak masalah menerima kehadiran mereka. Tapi bagaimana dengan warga masyarakat yang tidak setuju dan cenderung membenci para returnees itu?

Bagaimana jika mereka akan terus-terusan mem-bully para returnees itu baik di ranah offline maupun online yang secara tidak langsung juga berarti mem-bully pemerintah yang telah memulangkan para returnees itu?

Bukankah ini juga PR bagi pemerintah agar bagaimana para returnees itu bisa diterima kembali dan bisa hidup dengan nyaman di negara yang telah memaafkan kesalahan mereka?

Bullying bisa meruntuhkan semangat. Bisa merontokkan kepercayaan diri seseorang untuk berubah (lihat tulisan saya: Melawan Stigma). Jika keinginan para returnees itu untuk berubah tidak kuat, maka bullying dari masyarakat itu bisa melemahkan mereka. Dan hal ini akan semakin memberatkan proses reintegrasi mereka.

Saya masih ingat ketika Dhania (salah satu anggota keluarga besar returnees yang balik ke Indonesia karena kecewa dengan ISIS) bercerita kepada saya bahwa dirinya menangis karena mendengar perkataan orang-orang di persidangan ayahnya: “mengapa anaknya tidak dipenjara sekalian?”.

Dia sangat terpukul dengan kata-kata itu karena dia merasa dialah yang mengajak keluarganya ke Syiria. Dan setelah penderitaan yang panjang bersama keluarganya di wilayah ISIS dan saat ini hidup susah karena harus berpisah dengan ayahnya, ada orang yang berkata demikian. Saya menghiburnya dengan mengatakan padanya, bahwa mereka begitu karena tidak tahu.

Saya sangat paham perasaannya. Karena saya pernah merasakan pedihnya harus berpisah dari keluarga gara-gara kesalahan saya pribadi. Seandainya saya mendengar ada orang yang mem-bully keluarga saya dengan kata-kata semisal: “Itu anaknya teroris ternyata masih sekolah di sekolah negeri milik pemerintah yang dibenci oleh para teroris, dst…dsb…” mungkin saya juga akan jengkel dan sedih sekali. Untungnya memang tidak terjadi karena saya ditangkap tidak di tempat tinggal saya.

Jika suatu hari nanti para calon returnees itu benar-benar jadi returnees, maka tidakkah sebaiknya kita menerima mereka dan mendukung mereka untuk berubah dan meniti hidup yang baru sambil terus mengamati dan mengawal perkembangan mereka?

Ketika mereka kembali di tengah-tengah kita, kitalah sebenarnya yang paling berkewajiban untuk mengawasi, membimbing, dan membantu mereka dalam upayanya memperbaiki diri karena kita adalah orang-orang yang ada di sekitar mereka.

Jika masih sulit untuk menerima mereka, cobalah berfikir bagaimana jika para returnees itu adalah keluarga kita? Atau mencoba bertanya pada diri sendiri : Jika mereka salah apakah kita sudah (selalu) benar?

[Repost dari tulisan lama saya yang terbit di bulan Juni 2019 berjudul : “Bagaimana Jika Para (Calon) Returnees Itu Adalah Keluarga Anda?”]

ilustrasi: pixabay.com

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like