Kisah Eks Napiter yang Kesal dengan Lingkungannya

By

Seorang eks narapidana terorisme (napiter) yang saya temui bulan lalu di kediamannya, di sebuah desa di Kabupaten Klaten, bercerita tentang kisahnya terjerumus masuk ke kelompok radikal.

Sebagai warga desa, awalnya dia hidup seperti masyarakat pada umumnya. Bersama istri, dia punya usaha. Satu bidang kuliner satu lagi bisnis mebel, mulai dari lemari, meja maupun kursi.

Desa tempat tinggalnya cukup ramai. Di dekat rumahnya ada semacam taman terbuka yang kalau malam hari ramai orang-orang. Di sana juga ada beberapa warung-warung makan tenda, menambah semarak malam hari di sana.

Kehidupan berjalan seperti biasa, tetiba dia terusik. Adalah ketika ada semacam pembiaran sebuah toko berjualan minuman keras (miras) persis di seberang rumah.

Tak hanya itu, tak jauh dari sana juga ada lokalisasi. Dia terusik, apalagi setelah diakuinya mulai belajar sedikit-sedikit tentang agama.

Akhirnya nekatlah dia melakukan penolakan. Ternyata dia ditentang banyak orang. Sampai-sampai mendapat ancaman. Dia bercerita rumahnya sempat diancam akan dibakar oleh preman-preman setempat kalau tetap saja protes terhadap berdirinya warung yang menjual miras maupun lokalisasi.

Sebab kalah jumlah, takut akan keselamatan diri dan keluarga, dia diam saja. Tapi api dalam sekam terus menyala. Sampai-sampai akhirnya dia bergabung ke sebuah kelompok yang “sepemikiran” dengan dia.

Adalah ketika ada sesuatu yang dianggap mereka tak pas, maka jalan satu-satunya adalah dihentikan dengan cara-cara kekerasan.

Itu tertanam betul dalam benaknya. Sampai-sampai melakukan beberapa aksi yang disebut aksi teror. Lokasinya di sekitaran Solo, sebab dia bergabung dengan kelompok-kelompok yang ada di sana.

Berbagai aksi dia lakukan, termasuk teror bom molotov. Dalam benaknya saat itu, aksi yang dia lakukan adalah sebuah kebenaran.

Hingga akhirnya dia diciduk oleh aparat kepolisian dan menjalani hukuman penjara. Dia sempat ditahan di Rutan Mako Brimob, sempat pindah ke tempat penahanan lainnya sebelum akhirnya bebas.

Saat ini, dia sudah kembali ke desanya di Klaten itu. Hidup tenang bersama istri dan anak-anaknya. Tapi kegelisahan diri masih ada, sebabnya masih sama. Toko yang menjual miras di dekat rumahnya juga lokalisasi masih juga beroperasi.

“Itu yang membuat saya istilahnya masih kepikiran sampai sekarang, seharusnya ada tindakan dari aparat untuk persoalan ini,” tutupnya.

 

ilustrasi: Pixabay.com

 

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like