Gus Sholah dalam Kenangan Seorang Mantan Napiter

By

Sekira awal September 2019 saya mendapat amanah pekerjaan untuk mempersiapkan acara studi banding Religious Rehabilitation Group (RRG) Singapura di Jawa Timur. Salah satu agendanya adalah berkunjung ke Pondok pesantren Tebuireng yang diasuh oleh KH. Salahuddin Wahid atau Gus Sholah untuk ziarah dan berdiskusi.

Berbekal nomor HP beliau yang diberikan seorang kawan, saya langsung menghubungi beliau untuk mengatur jadwal bertemu guna audiensi terkait teknis kunjungan RRG nanti. Awalnya ada sedikit keraguan, jangan-jangan pesan WhatsApp saya diabaikan atau lambat direspons.

Tapi tidak sampai 15 menit pesan terkirim, langsung ada jawaban dari beliau. Saya diminta untuk membicarakannya dengan salah satu orang kepercayaan beliau di Pondok Pesantren Tebuireng seraya langsung memberikan nomer kontak orang yang dimaksud. Kalau harus menunggu beliau, khawatir kelamaan karena pada saat itu beliau bilang masih banyak urusan di Jakarta.

Bagi orang asing yang baru pertama kali kontak, saya merasa sangat tersanjung dengan respons beliau yang sangat cepat untuk ukuran tokoh sekaliber beliau.

Dan ketika saya datang ke Pesantren Tebuireng saya disambut dengan sangat ramah dan hangat karena dianggap sebagai tamu Gus Sholah. Dalam pembicaraan kami barulah terungkap bahwa Gus Sholah di Jakarta itu dalam rangka berobat.

Betapa terkejutnya saya. Beliau hanya bilang sedang banyak urusan di Jakarta. Sama sekali tidak menyebut sedang berobat atau dalam perawatan karena sakit.

Mungkin beliau tidak ingin mengecewakan kami. Atau ingin agar tetap bisa membantu meskipun sedang sakit. Saya kembali dibuat terkagum-kagum atas sikap beliau.

Bayangkan, saya orang yang baru pertama kalinya menghubungi beliau, lalu mau mengadakan acara studi banding yang pesertanya dari luar negeri yang belum banyak dikenal juga oleh publik di luar Singapura, tapi beliau sangat antusias melayani dengan sebaik-baiknya.

Itulah adab dan akhlak yang mulia dari beliau yang dapat saya rasakan. Meskipun hanya sekali itu saya berurusan dengan beliau tapi kesannya begitu mendalam.

Kemarin malam betapa terkejutnya saya membaca berita bahwa Gus Sholah meninggal dunia pada Ahad 2 Februari jam 20.55 WIB. Sang Kyai telah sempurna waktunya beramal di dunia. Saatnya ia kembali pada Sang Pencipta. Dan kita kembali merasa kehilangan dengan berkurangnya lagi ulama yang sekaligus tokoh bangsa di negeri ini.

Selamat jalan, Kyai. Semoga senantiasa mendapat  rahmat dan ampunan Allah SWT serta mendapat tempat yang terbaik di sisi-Nya. 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like