Wuhan Jiayou: Teriakan Solidaritas di Tengah Bencana

By

Never underestimate the power of words. Jangan pernah memandang rendah kekuatan kata-kata.

Ungkapan di atas, agaknya sudah menjadi barang jamak di telinga kita. Tentang bagaimana kata-kata mampu menggerakkan seseorang untuk merubah nasib dan melakukan sesuatu yang sangat besar. Dan bagaimana kata-kata itu bekerja untuk menginspirasi, saling meneguhkan, dan memotivasi antarsesama.

Sebagaimana saat dahulu Bung Tomo, dengan kalimat takbir Allahu akbar’, ia membakar semangat arek-arek Suroboyo untuk bangkit bersama merebut kemerdekaan bangsa dengan melawan pasukan penjajah. Meski hanya berbekal senjata parang dan bambu runcing, tak gentar melawan desingan suara bedil. Hasilnya, Inggris kocar-kacir.

Kondisi yang sama juga pernah terjadi pasca peristiwa bom Thamrin di Jakarta pada Kamis (14/1/2016) dan bom gereja di Surabaya pada Minggu (13/5/2018). Narasi ‘Kami Tidak Takut’ dan ‘Teroris Jancok’ berhasil menggerakkan ribuan massa untuk turun ke jalan menentang berbagai aksi terorisme.

Dan hari ini, semangat yang sama juga terlihat pada masyarakat Wuhan, ibu kota Hubei, Cina.

Di tengah penderitaan dan keputusan pemerintah untuk mengkarantina masyarakatnya yang berpenduduk hampir 11 juta jiwa akibat virus corona, mereka tak lantas menjadi gentar dan menyerah dengan keadaan. Mereka mampu bangkit dari keterpurukan dan berdiri tegak untuk saling menguatkan.

Sebuah video suasana malam di kota terisolasi Wuhan menunjukkan bagaimana reaksi masyarakat yang luar biasa. Dari balik jendela gedung-gedung apartemen, warga kompak saling menyemangati dengan teriakan ‘Wuhan Jiayou!‘ atau ‘Tetap semangat Wuhan’.

Kata-kata penyemangat itu menggelora di tengah belantara gedung-gedung kota, sahut-menyahut memecah keheningan malam. Dalam sekejap, suasana hangat merangkul Wuhan dan penduduknya. Menciptakan momen haru untuk tetap saling menguatkan sesama.

Peristiwa ini pun berhasil menyita perhatian publik secara luas. Bahkan di Twitter, tagar ‘Wuhan Jiyou’ merajai trending internasional. “People in Wuhan are self-quarantined because of the #coronavirus outbreak. But, despite the adversity, the people have found a way to support one another & show solidarity,” tulis salah satu pemilik akun @minhtngo.

Awal kemunculan virus corona

Virus corona atau novel Coronavirus (2019-nCoV) awal pertama kali terdeteksi pada 31 Desember 2019 di Kota Wuhan, Ibu Kota Provinsi Hubei, China. Hingga kemudian menyebar ke berbagai negara tetangga, termasuk ke kawasan Eropa dan Amerika.

Masuknya wabah virus endemik ini ke berbagai negara lain diketahui banyak berasal dari turis asal Cina maupun mereka yang sedang bepergian ke sana. Demi alasan keamanan, banyak negara yang kemudian melarang warganya bepergian ke Cina, termasuk dengan memulangkan kembali para turis ke negara asalnya.

Hingga kini, seperti dilansir dari laman berita Time pada Sabtu (1/2) jumlah korban tewas akibat corona (2019-nCoV) yang sudah terkonfirmasi mencapai angka 259 jiwa. Sementara yang berhasil dilaporkan positif terinveksi hingga Sabtu (1/2) yakni sebanyak 12.024 jiwa, dengan 7.100 kasus di antaranya berasal dari Hubei, Cina.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like