Media Sosial

Kenal Media Sosial Sejak SD?

By

Apa cerita yang paling berkesan dalam hidupmu selama menggunakan media sosial? Pernahkah membandingkan kehidupan sebelum dan sesudah menggunakan facebook, misalnya? Sebagai sebuah alat, ada saja kelebihan dan keburukannya. Bahkan, ada yang sampai kehilangan nyawa karena ini.

Media sosial itu seperti uang. Uang akan baik jika digunakan dengan baik. Tapi ia akan jadi malapetaka kalau memang kita gunakan dengan buruk.

Sebagai generasi milenial akhir, saya sudah mengenal facebook sejak SD! Saat itu facebook masih pakai komputer. Penggunaan awal lebih mengikuti trend karena orang tua, teman sekolah dan banyak orang punya akun Facebook. Apalagi saat itu teman sudah punya 100 pertemanan, dan saya memulai dengan 5 pertemanan saja.

Semakin berkembangnya zaman ini, terasa sekali handphone makin canggih dan provider beradu promo kuota paling murah terutama untuk media sosial. Sebagai anak labil, semua platform sempat saya coba mulai dari BBM, Wechat, kakaotalk, youtube, Deviantart, Twitter, Pinterest, snapchat, path, askfm, instagram, whatsapp, line, telegram, KIK, Tumblr, dan masih banyak lagi.

Setidaknya berkat medsos, saya bisa komunikasi dengan teman lama melalui akunnya. Tanpa harus mencari, biasanya usulan pertemanan muncul juga teman yang tak disangka-sangka. Tak jarang juga orang bisa ketemu teman hidup lewat medsos. Ihiy!

Lebih lanjutnya, medsos bahkan digunakan sebagai penyampai pesan, dakwah, ajakan, marketing, sales, bahkan kampanye. Media sosial jadi sarana universal yang bisa dijangkau siapapun dari ujung utara hingga ujung selatan.

Entah kenapa kita sering merasa dekat ketika di media sosial. Misalnya di Instagram, seorang tokoh yang kita ikuti bisa kita tahu dimana dia makan, sedang apa dan kegiatannya sehari-harinya dari instastory. Facebook juga mampu menggambarkan perasaan seseorang saat itu sehingga kita bisa berempati ke dia tanpa harus bertemu. Meskipun tak jarang karena medsos hubungan malah renggang, sindir-sindiran bahkan adu pendapat.

Masih mending kalau cuma adu pendapat, penipuan bahkan tindakan kejahatan bisa muncul dari media ini. Saya pernah jadi korban ini, bagaimana propaganda politik juga sering digunakan oleh ISIS. Belum lagi tahun politik kemarin ramai media sosial oleh hoax-hoax yang terstruktur, sistematis dan masif dari kedua belah pihak. Bahkan sampai sekarang sekalipun kedua calon sudah salaman.

Akhir-akhir ini, media sosial juga jadi ukuran seseorang dalam tindakan dan perilaku. Banyak perusahaan bahkan penerimaan pegawai negeri sipil diukur dari jauhnya seseorang dari sifat alay dan tidak pro khilafah dari akunnya. Saya baru paham kalau kini standarisasi alay itu ternyata di medsos!

Padahal dulu Mark Zuckerberg punya maksud baik dalam membuat facebook. Zaman doi kuliah dulu di Harvard,  ia ingin buat direktori bagi semua mahasiswa secara online. Oleh karenanua, ia menginisiasi face book atau buku perkenalan antara mahasiswa baru dimana ada foto dan data diri setiap mahasiswa.

Terkait hal ini, kita gak bisa hanya nyuruh pemerintah atau penyedia layanan untuk memblokir atau suspend. Akan sangat sulit membendung hoax, hate speech, provokasi bahkan teror yang kadang sengaja diproduksi. Kita sebagai  pengguna perlu mendapatkan pencerahan literasi digital dan rajin melakukan verifikasi kebenaran bukan cuma rajin share.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like