Kisahku Bersama Empat Orang Uighur di Rutan Mako Brimob (2)

By

Kronologi Kedatangan Mereka ke Indonesia

Di antara empat warga Uighur itu yang paling enak diajak ngomong adalah yang bernama -sebut saja- Ahmet. Ia cukup lancar berbahasa Inggris dan bisa juga berbahasa Arab. Jadi, ketika saya kesulitan mengungkapkan dalam bahasa Inggris, saya bisa beralih menggunakan bahasa Arab. Sepertinya di antara mereka dialah yang paling berpendidikan dan berpengalaman.

Dia sebelumnya pernah tinggal di Turki, tepatnya di kota/provinsi Adana. Di sana ia bekerja serabutan, seperti kuli bangunan, buruh kasar, penjaga kedai, dan lain-lain. Di samping itu ia punya kerjaan sampingan sebagai penyedia jasa pengadaan paspor dan dokumen perjalanan asli tapi palsu (aspal) bagi warga Uighur yang ingin bekerja di luar negeri, terutama yang ingin kerja di Turki. Ia memiliki jaringan orang-orang yang bisa mengatur perjalanan dan membuatkan paspor Turki aspal.

Ia melakukan itu bukan semata karena alasan ekonomi, tetapi juga untuk membantu saudara-saudaranya muslim etnis Uighur yang ingin mencari penghidupan yang lebih baik ke luar negeri. Karena di dalam negeri mereka tak ubahnya seperti bangsa yang terjajah. (Seperti apa bentuk keterjajahan mereka akan saya jelaskan nanti)

Pada saat itu sejak adanya kampanye dan propaganda masif dari kelompok ISIS, banyak orang-orang Uighur yang menghubungi dirinya untuk minta bantuannya agar mereka bisa masuk ke wilayah Suriah yang dikuasai ISIS melalui Turki. Ia pun kemudian mencari tahu bagaimana peluang untuk bisa memasukkan mereka ke wilayah Suriah.

Ketika sedang observasi dan mencari info di daerah perbatasan Turki-Suriah, ia tidak sengaja bertemu dengan orang dari Indonesia yang sedang menunggu panggilan masuk ke Suriah. Di situlah ia mendapat cerita tentang daerah Poso dan keberadaan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Kebetulan yang bertemu dengannya itu sepertinya mantan anggota MIT atau minimal simpatisan MIT.

Entah apa yang disampaikan oleh mantan anggota MIT itu, ia kemudian tertarik untuk mencoba mengirim orang-orang Uighur yang ingin mencari penghidupan baru yang lebih baik ke Poso. Apalagi menurutnya, sindikat pembuat paspor Turki aspal itu ada di Thailand. Jadi sudah dekat dengan Indonesia. Ia pun bertukar kontak dengan orang Indonesia itu.

Singkat cerita, ada tiga orang Uighur yang kemudian bersedia ia kirim ke Poso. Dan ketiga-tiganya ditangkap bareng dirinya. Ia juga menjelaskan kenapa ia harus ikut di perjalanan itu. Menurutnya ia ingin melihat langsung siapa Abu Wardah dan seberapa besar kelompok yang dipimpinnya, dan bagaimana kondisi Poso yang sebenarnya. Jika menurutnya layak, maka ia tidak akan ragu lagi untuk mengirim orang-orang Uighur ke Poso setelah itu.

Namun belum sempat bertemu Abu Wardah alias Santoso, ia dan ketiga kawannya tertangkap lebih dulu ketika masih dalam perjalanan. Dan setelah berada dalam tahanan dan menjalani proses penyidikan, barulah ia tahu seperti apa MIT itu dari para penyidik Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri. Katanya, andai ia tahu seperti itu kondisi MIT, mungkin ia juga tidak akan mengirim orang ke Poso.

Dia juga bercerita bahwa sebenarnya mereka berempat jadi rebutan antara polisi Indonesia dan intelijen China. Tapi ketika mereka ditanya oleh polisi Indonesia mau diserahkan ke China atau diproses di Indonesia, mereka memilih diproses di Indonesia. Sebab jika diserahkan ke China, mereka mungkin akan jauh lebih menderita. Dan bahkan mungkin akan dieksekusi mati.

Akhirnya yang saya tahu darinya kemudian, pihak Densus menjadikan paspor Turki mereka sebagai salah satu alasan kuat untuk tidak menyerahkan mereka ke China. Meskipun itu sebenarnya paspor aspal. Jadi, mereka juga merasa berterimakasih pada polisi Indonesia karena tidak menyerahkan mereka ke China.

(Bersambung)

ilustrasi: pixabay.com

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like