Xinjiang, Melting Pot Dari Beragam Budaya

By

Xinjiang dalam beberapa hari terakhir ramai dibicarakan di media. Sebab provinsi di China ini menjadi kantung populasi terbanyak dari masyarakat Uighur, etnis minoritas yang sebagian besarnya beragama Islam. Bukan kali ini saja, pemberitaan tentang Xinjiang dan Uighur berhasil menarik perhatian masyarakat Indonesia.

Namun, bukan soal kontroversinya yang akan kita bahas kali ini. Tetapi justru tentang betapa pentingnya wilayah ini bagi peradaban manusia.

Jauh sebelum laman-laman media memuat berita soal Xinjiang, provinsi yang kental dengan nuansa gurun di Asia Tengah ini sudah familiar di telinga para saudagar sejak 1.400 tahun yang lalu. Bagi siapapun di masa itu yang ingin memperdagangkan komoditasnya, dari wilayah Timur ke wilayah Barat atau sebaliknya, pasti kan melewati jalur khusus yang terkenal dengan nama Jalur Sutra. Rute kuno ini memungkinkan kain sutra bisa dinikmati oleh Raja Alexander yang Hebat, daun teh untuk para bangsawan Eropa, penyebaran rempah-rempah, dan lain-lain.

Gerbang yang membuka komoditas dari China kepada masyarakat di Asia Tengah, Mediterania, Timur Tengah, dan bahkan Eropa itu adalah Provinisi Xinjiang. Letaknya yang berada di sisi paling Barat dari wilayah China memungkinkan fungsi itu terjadi. Pada peta dunia modern saat ini, Xinjiang berbatasan langsung dengan Tajikistan, Kirgistan, Kazakhstan, Afghanistan, dan sebagian Pakistan.

Letaknya yang strategis dan menjadi wilayah yang selalu dilewati para pedangang yang menggunakan Jalur Sutra, memungkinkan Xinjiang menjadi melting pot bagi beragam budaya. Bahkan, ini yang mungkin menjadi salah satu faktor yang membentuk etnis Uighur yang cenderung berbeda dengan masyarakat China yang lain. Meskipun demikian, sebagai sebuah provinsi yang relatif besar, tidak hanya etnis Uighur saja yang mendiami wilayah tersebut.

Bukti paling nyata dari perpaduan budaya di wilayah Xinjiang ini dapat diselami lewat makananya. Ya, kuliner memang bisa menjadi jendela untuk memahami sebuah peradaban. Pengaruh Islam yang kental di wilayah ini membawa jenis-jenis makanan yang cenderung tidak menggunakan babi. Pilihan daging paling umum di provinsi ini adalah Domba, seperti halnya wilayah di Asia tengah. Daging domba banyak sekali ditemui di sajian khas daerah ini.

Selain itu, penanda lain yang menunjukkan adanya perlintasan budaya di Xinjiang, adalah dari rempah-rempah yang digunakan. Beberapa masakan memang masing menggunakan bahan dasar mie, seperti halnya masakan China yang lain. Namun, sebagai topping atau sausnya, masakan Xinjiang banyak menggunakan rempah-rempah yang biasa ditemui di Asia Tengah atau Timur Tengah seperti jintan, kayu manis dan saffron.

Kebab domba atau Chuanr adalah salah satu contoh makanan dari hasil persilangan budaya. Daging domba yang ditusuk gagang besi lalu dibakar di atas bara panas ini sangat familiar di Xinjiang, begitu pula dengan Kawasan Asia Tengah, Turki dan Timur Tengah. Paduan bumbu jintan, garam, merica hitam, dan bubuk cabai lebih memperkuat percampuran budaya tersebut. Disajikan dengan roti naan yang menjadi khas Xinjiang, Chuanr akan memberikan dimensi rasa yang cenderung berbeda dengan masakan di kawasan China yang lain.

Contoh lain dapat ditemui pada olahan nasi masyarakat Xinjiang. Mereka menyebut nasi yang dimasak dengan tambahan wortel merah dan kuning, serta saffron itu dengan nama polo atau untuk masyarakat Asia Tengah seperti Kazakhstan dan Uzbekistan sebagai pilaf. Disajikan dengan potongan daging domba, polo memiliki aroma khas yang keluar dari saffron.

Sedangkan untuk makanan khas yang lebih kental dengan unsur China adalah Laghman atau mie tarik. Di Provinsi Xinjiang, mie dibuat dengan olahan tepung yang ditarik dengan tangan dan dibentur-benturkan ke meja. Tujuannya agar tekstur mie menjadi kenyal dan tidak mudah lembek. Mie tarik ini disajikan dengan saus khusus yang menggunakan bahan-bahan yang sedang musim, seperti tomat, terong, paprika, kacang panjang, bawang Bombay, dan lain-lain. Dalam beberapa versi, mie tarik ini juga menggunakan daging domba.

Persilangan budaya yang ada Xinjiang bisa menjadi pembelajaran soal kesabaran dalam menerima perbedaan. Kesabaran itu justru berujung pada percampuran yang dapat memberikan sisi positif bagi perdaban. Sangat disayangkan jika warisan sejarah dan budaya ini hilang karena konflik.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like