Terjebak Tindakan Berlebihan

By

Tulisan saya kali ini saya awali dengan mengutip status ‘galau’ teman lama saya di akun media sosialnya yang isinya sebagai berikut:

“Lihat pemuda ngaji ke kalangan kanan, takut. Lihat pemuda ngaji ke kalangan kiri, takut. Lihat pemuda ngaji dengan kelompok A, takut. Lihat pemuda ngaji dengan kelompon B, C D, takut. Lihat pemuda ngaji pada guru X , takut. Lihat pemuda ngaji pada guru Y, takut. Lihat pemuda ngaji pada guru Z takut.

Setiap pemuda ditanya afiliasimu kemana? Kalau mengaku diri berpikiran terbuka, bukannya malah membebaskan pemuda-pemuda itu belajar pada siapapun ya? Membiarkan pemuda-pemuda itu membaca buku apa pun. Sampai kemudian si pemuda akan menemukan apa yang menjadi tujuannya. Menyaring segala informasi dengan akal dan daya pikirnya. Bukan malah ditakut-takuti, diancam ini itu”.

Ungkapan pemikiran-pemikiran kawan lama saya melalui status di akun media sosialnya itu seringkali cukup memantik diskusi di kolom komentarnya. Maklum, kawan saya itu seorang aktivis dan konon pernah jadi dosen. Dan menurut saya dia termasuk orang yang sangat kritis.

Ungkapan dalam statusnya di atas cukup membuat saya ikutan berfikir tentang hal yang sama. Mengapa jika memang mendewakan dan selalu mendakwahkah agar berpikiran terbuka, kok malah banyak tokoh yang justru ‘takut’ ketika melihat para pemuda yang semangat belajar?

Kalau dikaitkan dengan ancaman terpaparnya para generasi muda kita oleh ideologi radikalisme yang menjurus pada ekstremisme kekerasan, maka hal itu masih bisa dimaklumi asalkan tidak berlebihan.

Nah, menjaga agar tidak berlebihan inilah yang kurang dipahami oleh banyak pihak. Radikalisme yang menjurus pada ekstremisme kekerasan itu benar adanya. Para aktivisnya pun beneran ada. Tapi sangat kecil bila dibandingkan dengan jumlah rakyat Indonesia secara keseluruhan.

Jadi penanganannya pun harus tepat sasaran. Tidak berlebihan. Karena kalau berlebihan akan menimbulkan kesan yang kurang baik. Ibarat orang mau memetik mawar tapi menggunakan kapak, tentu akan ditertawakan.

Nah, rupanya kawan lama saya itu melihat upaya pencegahan dari penyebaran paham radikalisme yang menjurus pada ekstremisme kekerasan sudah mulai berlebihan. Mulai cenderung mengarah pada paranoid.

Menurutnya yang sebenarnya paling penting adalah kemampuan menyaring semua yang dipelajari. Bukan khawatir pada apa yang dipelajari. Pendapat ini benar dan saya setuju. Persoalannya adalah, bagaimana meningkatkan kemampuan menyaring itu? Dan seperti apa kemampuan menyaring yang baik itu?

Masing-masing orang tentu punya kriterianya sendiri dan punya pedoman masing-masing soal penyaringnya. Tapi saya rasa semua sepakat bahwa semakin baik penyaringnya atau kemampuan menyaring seseorang, maka semakin baik pula hasil positif yang ia peroleh dari yang ia pelajari.

Jadi, mari kita beli saringan yang berkualitas di supermarket terdekat! Mumpung lagi banyak diskon. Eh, kok malah jadi ngajakin belanja? Nggak nyambung ya? Maaf, saya termasuk yang terpapar virus ‘HARBOLNAS’ kemarin. Hehehe. Peace!

ilustrasi: pixabay.com

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like