Nasi

Nasi Emang Bisa Nangis?

By

“Kalau makan dihabisin, nanti nasi nya nangis loh!”

Sebuah pesan penuh makna yang sering disampaikan oleh orangtua kita kalau kita ogah ngabisin makanan. Coba deh kita perhatikan di sekitar kita! Ada banyak kasus kejahatan terjadi karena kemiskinan, seperti pencurian atau perampokan. Mereka “terpaksa” mencuri karena tidak ada uang untuk makan. Jadi, bisa dibilang kalau gak makan ya, gak hidup.

Makanan emang salah satu hal krusial dalam hidup kita. Untuk gizi seimbang, kekuatan jiwa raga, fungsi otak dan anggota tubuh lainnya. Sehingga bisa beraktifitas,bekerja,dan berpikir. Makanya, ada yang pernah bilang “Logika tidak akan berjalan tanpa logistic”. Tapi harus tetap ingat untuk tidak berlebihan. Apapun yang berlebihan kan gak baik dan jangan sampai jadi “kenyang bego”. Saking kekenyangan, gak bisa ngapa-ngapain.

Belajar perdamaian lewat makanan tidak sebatas pada pesan damai yang terselubung dari makanan tersebut. Tapi, ketika kita duduk secara bersamaan di meja makan, bersama keluarga, kolega, teman, kita dapat membangun hubungan dan komunikasi yang baik. Dengan membangun komunikasi yang baik lewat konfrensi meja makan, kita juga bisa mengingatkan kepada salah satu teman atau keluarga, untuk tidak membuang buang makanan. Karena makanan, bukan hanya sesuatu yang kita beli di pasar,warung, atau supermarket.

Ketika kita membuang makanan, ternyata kita juga telah mubazir dan buang buang tanah, pupuk,air, pasir, dan orang orang yang bekerja dalam proses memproduksi makanan tersebut. Ada banyak yang berkontribusi mulai dari petani, kurir, orang supermarket, sampai orang yang mengolah makanan tersebut hingga bisa masuk ke perut kita.

Menariknya, di Jerman dan Inggris telah membuka sebuah toko yang menjual sampah makanan, dan bahan pangan buangan. Salah satu Toko tersebut bernama “The Good Food” yang menjual sayuran, makanan, buah, minuman bir, dan lain-lain. Nicole Klaski (pemilik) juga mengatakan bahwa dengan mengurangi makanan yang dibuang, bisa membantu jutaan orang yang kelaparan. Menariknya, para pembeli bisa membayar produk di The Good Food sesuka hati. Pastinya tetap memperhitungkan apakah makanan yang “dibuang” ini masih layak atau tidak.

Dari sini kita belajar untuk lebih menghargai makanan dan minuman. Masih banyak di luar sana orang orang tak seberuntung kita. Kita juga bisa lebih menghargai kerja keras orang yang bekerja dibalik makanan tersebut. Jadi, jangan buang nasi ya!

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like