Returnees

Returnees Juga Pernah Galau

By

Kalau saya ngomongin soal galau, pasti gak jauh-jauh dari cerita saya dulu. Galau, kok hidup gini gini aja? Kok di negara ini tidak adil? Aku mau jadi apa ya? dan masih banyak lagi. Galau saya mulai di umur 16 tahun yang membawa saya jadi returnees.

Emang galau itu apaan? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bilang, galau adalah sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran). Saya bakal membahas galau dalam arti yang terakhir, yaitu, kondisi atau keadaan dimana seseorang mengalami pikiran atau perasaan yang sedang tidak keruan atau kacau.

Galau bisa jadi karena banyak faktor. Mulai dari percintaan, pekerjaan, pendidikan,pilihan, pertemanan, dan lain-lain lagi. Pun, tidak sedikit orang yang sedang galau yang bias berujung stress, akhinya larinya ke agama. Mereka memeras hati dan pikiran yang kacau. Nampaknya saya merasa ini waktu yang tepat untuk “bertaubat”.

Sebagaimana kisah seorang mantan returnees asal Belgia. Dia sedikit menceritakan bagaimana dirinya pernah galau bahkan depresi. Kemudian ia berpikir bahwa hanya agama lah yang dapat menyalamatkan dirinya saat ini. Sayang sekali dia bertemu dengan orang yang salah di kanal facebook ketika ingin belajar agama. Dalam kondisi yang galau, inilah mangsa empuk bagi para kelompok ekstrimis. Teman-teman yang sedang galau ternyata sangat membutuhkan teman yang menerima dia atau bisa dijadikan tempat untuk konsultasi.

Selain dari kisah di atas, adalagi yang pernah diajak temannya ngaji. Tema yang dikaji mengenai demokrasi thogut, tauhid, Pancasila thogut, khilafah, dsb. Dia mulai galau, apakah ini memang benar? Karena kita tidak boleh menyembah kepada selain Allah. Disisi lain, dia ingin mencoba klarifikasi atau mengetahui perspektif yang lain, namun dengan siapa? Jika ada, orang lain ini terkadang memiliki jawaban yang kurang kuat dari temannya yang merekrut di awal.

Jujur saja, beberapa dari kita masih ada yang meremehkan teman kita yang sedang galau. Kita kerap membully atau sekadar bercanda, dengan mengatakan “Ah.. galau melulu! Abis putus cinta ya?”. Kenapa sih, galau selalau dikaitkan dengan cinta??

Saya aja sekarang juga sedang galau. Tahun depan akan ambil kuliah jurusan HI atau Komunikasi. Dagangan yang sedang saya rintis dengan keluarga, juga masih sama seperti yang lalu. galau, gimana dagangan kami bias disukai banyak orang dan laku.

Saat ini, hal yang paling penting adalah kita rangkul,berempati dan diberi perhatian atau penjelasan, dan pengertian. Teman teman kita, yang sudah terpapar paham radikalisme,ektrimisme kekerasan pun juga sering mengalami kegalauan. Tapi, teman kelompoknya akan selalu mendukungnya. Mereka juga manusi. Punya rasa punya hati. Ayo, kita sama sama merangkul

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like