Arif Tuban

Saya Iri Dengan Pak Arif Tuban

By

Media Sosial merupakan salah satu pemicu munculnya rasa iri dan dengki pada diri kita. Gimana engga, tidak sedikit orang yang membagikan berbagai foto keseruan, keberhasilan, kesuksesan mereka di media sosial seperti Instagram. Followers yang banyak, jumlah like yang ratusan ribu dan dipuja puji oleh followersnya. Pun, tidak sedikit dari kita yang bergumam dalam hati “Masha Allah keren ya.. dia. Kapan gue bisa sukses kayak dia” dan lain lain. Tak jarang juga mengundang hujatan dan pandangan buruk. Padahal si pembagi tak ada maksud buruk seperti pamer. Akhirnya ada usaha “menghancurkan” orang itu agar tidak merasakan kebahagiaan lagi. Entah bully atau report bahkan diretas. Pokoknya seram, deh.

Secara agama maupun psikologis, iri dan dengki merupakan hal yang buruk. Makanya, sampai ada doa nya di surat al falaq agar kita terhindar dari orang orang yang dengki.

“dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”(Qs. Al-Falaq:5)

Bertrand Russell, seorang filsuf dan peraih hadiah Nobel Sastra, mengatakan bahwa iri hati adalah salah satu penyebab utama ketidakbahagiaan. Orang yang iri hati tidak hanya menyebabkan ketidakbahagiaan bagi dirinya sendiri, orang tersebut bahkan mengharapkan kemalangan orang lain.

Tapi, iri nampaknya tidak selalu buruk. Karena ada hal hal kita iri terhadap keberhasilan atau kebaikan bersedekah dan berbagi ilmu, menjadi energi terbaik yang mampu mendongkrak kita untuk mencapai keberhasilan

Saya pun saat ini iri dengan salah satu sobatngobrol. Nama beliau berseliweran di page ruangobrol, yaitu, Pak Arif Budi Setiawan. Pertama kali kenal dan bertemu Pak Arif atau yang biasa dikenal dengan Arif Tuban di acara CVE workshop yang diadakan oleh Yayasan Prasasti Perdamaian tanggal 14-16 Maret 2018. Acara tersebut dihadiri oleh 10 mantan kombatan, 10 ustadz dan 10 ustadzah.

Hari kedua, tema yang dibahas adalah teknik public speaking yang dibawakan oleh salah seorang tim dari TEDx Jakarta, Mba Kartika. Saya duduk ditengah tengan dua mantan kombatan, Bapak Arif tuban dan Pak Mustaghfirin. Kami diperintah untuk membuat kelompok yang beranggotakan dua orang dan harus ada yang menjadi pendengar serta pembicara. Saya berkesempatan satu kelompok dengan Pak Arif Tuban. Saya menjadi pembicara dan disuruh menceritakan kisah nabi yusuf dalam waktu 5 menit pada sesi pertama. Waktu habis.

Selanjutnya giliran saya menjadi pendengar di sesi kedua. Pembicara diminta menceritakan kisah paling berharga dalam hidupnya. Pak Arif akan menceritakan pengalaman hijrah beliau. Masa-masa ketika beliau ditangkap, mendapatkan pencerahan dari seseorang, dan bagaimana penyesalan beliau atas apa yang telah beliau lakukan.

“Pada suatu hari datang seseorang menemui saya untuk membesuk saya. Ia memberi nasehat agar saya bisa lebih tegar dan bisa mengambil pelajaran dari apa yang saya alami waktu itu.” Katanya.

Dalam dialog dengannya, ia mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat yang sangat menghujam ke dalam sanubari saya. ‘Siapakah sebenarnya yang antum perjuangkan selama ini ?’. Saya dengan tegas dan mantap menjawab, ‘Saya memperjuangkan Islam dan kaum muslimin’. Lalu dia berkata lagi, ‘Jika antum memperjuangkan Islam dan kaum muslimin, coba lihat dampak yang terjadi, dari hasil perjuangan antum itu, pada Islam dan kaum muslimin. Apakah mereka mengerti dengan yang antum perjuangkan ? Apakah Islam jadi semakin dihormati karena perbuatan antum atau malah jadi tercoreng akibat perbuatan antum ?’

Saya terdiam tidak bisa menjawab. Tiba-tiba pikiran saya bergejolak hebat, mulai mempertanyakan apakah yang telah saya lakukan ini, ‘benar’ ?

Ia berkata lagi, “ Lihatlah akibat dari perbuatan antum yang terjadi pada diri antum saat ini yang akan terpenjara untuk beberapa waktu lamanya. Lalu, akibat yang akan ditanggung oleh keluarga antum yang tidak tahu apa-apa dengan yang antum lakukan selama ini, dan dampak yang terjadi pada kaum muslimin yang sangat mungkin justru akan menjauhi antum. Apakah ini jalan perjuangan yang antum anggap benar dan akan terus antum pertahankan ?”

Saya semakin dalam berpikir dan terus diam tak menjawab, tetapi saya tak bisa menahan air mata saya waktu itu.” Suasana yang tadinya ramai menjadi sangat hening. Saya melihat raut wajah beliau mulai memerah karena menahan tangis. Saya tidak bisa berkata apa apa. Saya juga terhanyut dalam cerita beliau. Saya benar benar merasakan apa yang beliau rasakan, sambil beberapa kali mata saya melirik kearah timer.

“Terbayang oleh saya apa yang akan terjadi pada saya, keluarga saya, dan kaum muslimin yang saya perjuangkan selama ini. Dan yang paling membuat saya berpikir dalam adalah, akibat yang terjadi pada Islam dan kaum muslimin. Jika yang saya lakukan adalah benar, tentu dampaknya seharusnya positif. Tapi yang akan terjadi nanti adalah saya yang justru akan dijauhi oleh kaum muslimin, lalu Islam yang justru akan tercoreng akibat ulah saya dan teman-teman. Beberapa hari pasca dialog itu, saya masih terus memikirkan apa yang disampaikan oleh seseorang tersebut. Akhirnya saya sampai pada keyakinan dan kesimpulan bahwa yang selama ini saya lakukan dalam memperjuangkan Islam dan kaum muslimin adalah salah. Dari kisah itu, saya mendapatkan sebuah pelajaran penting: ‘Apabila kita memudahkan urusan manusia, maka Allah akan memudahkan urusannya’ “. Lanjutnya.

Waktu habis. Saya masih belum bisa berkata apa apa. Perasaan saya kala itu bercampur. Mulai dari kagum,terharu,sedih. Beliau begitu tegar menceritakan masa lalunya. Karena, tidak semua orang bisa menceritakan masa masa sulit dan titik baliknya dengan mudah.

Saya masih belum puas, karena ceritanya hanya 5 menit. Tapi saya sedikit tenang karena beliau telah banyak menuliskan kisah nya di laman ruangobrol.

Saya iri dengan beliau. Bisa dibilang, kami punya masa lalu yang sama, terjebak dalam paham radikalisme. Beliau aktif menuliskan kisah dan pesan damai. Saya iri, karena masih belum bisa menulis pesan damai secara rutin seperti beliau. Beliau saja sudah menerbitkan sebuah buku. Iri dengan semangat beliau dalam menyampaikan pesan damai. Dan beliau menjadi salah satu inspirasi saya untuk terus menulis kisah perjalanan dan pesan damai.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like