Kamis Berdarah di Pandeglang Banten

By

Oleh Lutfi Awaludin Basori (freelance journalist)

 

Siang itu, Kamis 10 Oktober 2019, sekira 5 menit sebelum tepat pukul 12.00 WIB, sebuah mobil SUV warna hitam berpelat nomor RI 16 berhenti di gerbang Alun-Alun Menes, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Beberapa mobil ikut berhenti di belakangnya.

Sejurus kemudian, pintu belakang mobil warna hitam itu dibuka oleh seorang berkemeja putih. Sosok yang ditunggu banyak warga, termasuk anak-anak sekolah di alun-alun itu, kemudian keluar dari mobil.

Pria itu berpeci, mengenakan batik warna hijau – biru. Pria itu adalah Wiranto, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan.

Begitu turun dari mobil, Wiranto langsung menyalami seorang polisi yang menyambutnya. Ada di sisi kiri Jenderal (Purn) TNI itu. Polisi itu adalah Komisaris Polisi Dariyanto, pejabat Kepala Kepolisian Sektor Menes.

Lalu, di antara kerumunan, seorang pria berbaju hitam menyelinap persis dari belakang Kapolsek, menghujamkan pisau ke perut Wiranto. Mantan Panglima ABRI di era Presiden Suharto itu refleks, berusaha menangkis dengan tangan kirinya.

Tetapi serangan cepat itu berhasil melukai perut Wiranto. Dia roboh.

Insiden itu langsung cepat direspons para pengawalnya termasuk Kapolsek Menes dan beberapa anggota Polri dan TNI di sana. Mereka berusaha menghalau si penyerang, sembari mencoba meringkus.

Di antara keributan itu, serangan tetap terjadi membabi buta. Kapolsek terkena tusukan di punggung, pengawal Wiranto juga ikut terluka. Pria si penyerang itu akhirnya dibekuk setelah dijatuhkan.

Pria itu ternyata tak sendiri, ada seorang perempuan –yang belakangan diketahui adalah istrinya- ikut ditangkap di situ.

Kamis 10 Oktober itu jadi insiden berdarah bagi sang menteri.

Peristiwa yang direkam banyak warga menggunakan ponsel itu kemudian ditanggapi beragam oleh warganet. Salah satunya, menuduh aksi teror itu adalah sandiwara belaka.

Tuduhan warganet, salah satunya berpegang video yang beredar di dunia maya.  Mereka merujuk pada posisi keamanan yang saat itu memang terlihat longgar, sehingga pihak keamanan seolah membiarkan saja penyerang mendekati Wiranto.

Namun, tuduhan adanya rekayasa atau drama bisa dibilang mentah jika hanya berdasar pada asumsi mereka belaka. Perlu data tambahan, seperti; siapa perancangnya? Di mana mereka merancang dan kapan merancangnya? Ini sangat-sangat sulit untuk dibuktikan, jika tak mau dibilang mustahil. Sementara, jika keamanan terlihat longgar maka sejatinya itu adalah kesalahan keamanan hingga terjadi penyerangan itu. Bukan membuktikan ada “sandiwara”.

Pihak keamanan sendiri membantah jika mereka kecolongan. Bila seperti itu, bila pengamanan telah ketat dan sesuai dengan prosedur, maka artinya prosedur keamanan perlu direvisi lagi. Sebab terbukti jika dengan keamanan sesuai SOP, ternyata seorang pejabat tinggi negara masih juga hampir kehilangan nyawanya.

Lalu jika ini adalah serangan teror, betapa “tololnya” melakukan teror dengan sebuah belati? Ini adalah salah satu pertanyaan yang muncul dari mereka yang menganggap serangan kepada Wiranto itu hanya sebuah drama.

Pertama, fakta di lapangan ada penyerang dan ada korban. Hal ini tak bisa dibantah bahwa ada aksi terorisme di sana.

Kedua, meminjam istilah dari Direktur Pelaksana Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikalisasi (PAKAR) Adhe Bhakti, Banten adalah wilayah “merah”. Sebab di Banten sendiri secara historis masih ada jejak Negara Islam Indonesia (NII).

Sementara di Banten juga memiliki dua jejak kelompok teror yang mendominasi serangan teror di Indonesia saat ini, yaitu Jamaah Islamiyah (JI) dan Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Salah satu jejak kelompok yang ada di Banten adalah “Kelompok Banten”. Kelompok ini dulu berperan merampok toko emas pada 2002, kemudian hasil perampokan itu digunakan sebagai dana untuk Bom Bali dan insiden itu dikaitkan dengan JI.

Sementara, jejak JAD di Banten bisa diwakili oleh Iwan Dharmawan Mutho alias Rois yang dikenal sebagai Ketua Kelompok Darul Islam atau “Ring Banten”. Rois dipidana mati Pengadilan Jakarta Selatan pada 2005 karena terlibat pengeboman Kedubes Australia pada 2004 dan menyembunyikan teroris kelas kakap Dr Azahari dan Noordin M Top.

Dengan kemunculan ISIS pada 2013, Rois akhirnya bergabung dengan teman satu selnya di Nusakambangan, Aman Abdurahman untuk membentuk kelompok JAD pada 2014 dan mendukung ISIS. Dari balik penjara Rois, selanjutnya mengatur serangan bom di Jalan Thamrin pada 2016.

Kelompok Mana Penyerangnya?

Jika dilihat dari pola serangan, tak mungkin ini dilakukan oleh kelompok JI, sebab kelompok JI memiliki rancangan serangan yang presisi, dan merusak. Sebut saja; Bom Bali I, Bom Bali II dan Bom Kedutaan Australia yang mengakibatkan banyak korban jiwa.

JAD sendiri juga tak bisa dibilang serangannya tak terencana. Misalnya serangan Bom Thamrin, dan serangan “triple bom” di Surabaya. Keduanya dirancang betul jauh-jauh hari dengan seksama sehingga sulit tercium oleh aparat keamanan.

Jika begitu kelompok mana yang menyerang Wiranto?

Pasti bukan JI dan bisa jadi bukan JAD, tapi Adhe Bhakti yakin 99% jika penyerang ini adalah simpatisan ISIS. Sebab kelompok ISIS memiliki strategi penyerangan yang disebut “lone wolf”. Yaitu menyerang sendirian tanpa komando secara struktural dan menggunakan apa saja yang bisa digunakan.

Salah satu contohnya adalah serangan yang dilakukan oleh seorang pemuda 22 tahun ke polisi di pos Polisi Kawasan Pendidikan, Cikokol, Tangerang pada 2016. Serangan itu mengakibatkan tiga polisi kena luka tusuk termasuk Kapolsek Tangerang saat itu Kompol Effendi.

Jika memang pelaku penyerangan Wiranto adalah kelompok JAD, artinya mereka bertindak sendiri tanpa melapor kepada amir alias pimpinan mereka.

Tuduhan serangan kepada Wiranto sebagai “sandiwara” semakin mentah setelah identitas penyerang diungkap ke media. Kedua penyerang Wiranto disebut bernama Syahril Alamsyah alias Abu Rara dan Fitri Andriana. Kedua nama itu bulan lalu disebut oleh Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono.

Argo menyebut pasangan suami istri itu kala menjelaskan penangkapan 9 terduga teroris di beberapa wilayah di Bekasi dan Jakarta. Salah satu yang ditangkap adalah pimpinan kelompok JAD Bekasi Fazri Pahlawan alias Abu Zee Ghurobah.

Peran Abu Zee selain sebagai amir JAD Bekasi, ia juga mengkoordinir orang-orang untuk bergabung dengan JAD. Abu Zee juga menikahkan sesama anggota kelompoknya di kontrakannya di daerah Tambun, Bekasi. Salah satu yang dinikahkan oleh Abu Zee adalah Syarial Alamsyah alias Abu Rara dan Fitri Andriana, pasutri yang ditangkap ketika menyerang Wiranto itu.

Artinya, setelah teman-temannya tertangkap, pasutri itu kemudian menyerang Wiranto. Ini secara tidak langsung menjadi bukti jika keduanya adalah JAD dan sangat-sangat kecil kemungkinan keduanya mau bekerja sama untuk membuat sandiwara penyerangan dengan Wiranto, sebagaimana tudingan warganet.

Mengapa Membawa Istri?

Kasus teror bom di Surabaya sudah dapat menjawab itu. Kasus “hijrahnya” banyak keluarga yang membawa istri dan anak-anak mereka ke Suriah untuk berjihad, saya pikir juga cukup untuk menjawab itu.

Artinya, serangan teror saat ini bukan dominasi para pria, bahkan juga melibatkan keluarga dan anak-anak.

Yang patut dikhawatirkan saat ini adalah “Copycat”. Yaitu serangan yang dilakukan oleh pasutri ke Wiranto akan dicontoh dan menjadi barometer serangan oleh anggota kelompok teror lain. Artinya, pejabat-pejabat tinggi negara bisa menjadi target serangan teror seperti Wiranto.

Kekhawatiran ini juga yang seharusnya membuat polisi memperbaiki pengamanan terhadap pejabat negara, terutama kepada Presiden sebagai Kepala Negara.

 

Sumber foto: Istimewa

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like