Ngopi

Ngopi Sebagai Pemantik Pagi Sampai Revolusi

By

Pagi selalu lebih ceria dan bersemangat dengan ngopi. Kafein pada kopi merangsang hormon dopamin dimana hormon ini berguna untuk mengurangi kecemasan dan meningkatkan semangat. Dopamin juga berfungsi mempengaruhi perilaku dan kontribusi pada gerak tubuh.

Namun, kafein juga bisa membuat adiktif. Sifatnya yang adiktif membuat sulit lepas sehingga kecemasan justru akan muncul jika belum mengkonsumsinya. Makanya ada istilah, “ngopi dulu biar gak tegang”.

Menurut historia.id, kopi dikonsumsi manusia (bisa jadi) berawal dari Abyssinia. Pengembara bernama Kaldi menemukan kambingnya mengkonsumsi biji merah dan nampak lebih segar. Ia pun kemudian mengkonsumsi biji merah tersebut dan ia lebih bersemangat. Awalnya kopi dilarang Agamawan, namun kemudian justru berkembang sebagai pengganti minuman keras. Sejak saat itu, penyebar agama islam membawa kopi sebagai komoditasnya.

Kebiasaan ngopi ini terus berkembang di seluruh dunia. Arrazi sempat menyebut sebagai zat yang dipercaya menyembukan penyakit. Tahun 1453, toko kopi pertama berdiri di Turki. Turki bahkan menyebarkan kebiasaan ngopi dengan  mengeluarkan kebijakan memperbolehkan istri menceraikan suami yang tak mampu memenuhi kebutuhan ngopi. Dahsyat gak tuh?

Kopi Sempat Dilarang

Ngopi juga ternyata berdampak besar. Dikutip dari The Economist, Elif Shafak menyebutkan bahwa secangkir kopi menyimbolkan pergerakannya dalam politik. Ahli studi gender dan politik ini tak pernah terlepas dari kebiasaan ngopi setiap pagi. Ia menulis bahwa kebiasaan ngopi ini pernah dilarang oleh Rezim Ottoman karena dianggap memicu revolusi rakyat. Sebagai informasi, Elif adalah diplomat sekaligus penulis asal Turki. Ia pernah dituduh menjadi pengkhianat negaranya karena menulis novel “The Bartard of Istanbul“. Novel ini disebut menghina Turki dan memuaskan negara barat.

Ketakutan Rezim Ottoman ini ternyata memang terjadi. Ruangobrol juga pernah menyebutkan bahwa ngomongin negara sering kali berawal dari obrolan warung kopi (Lihat : Warkop Naik Kelas). Pergerakan demonstrasi besar berujung konflik berkepanjangan di Suriah juga berawal dari warkop. Para sarjana Suriah lulusan Eropa melakukan konsolidasi tentang reformasi di warung kopi. Pergerakan pun dimulai pedagang pasar hingga lapisan militer. Sarjana-sarjana ini pun kemudian ditangkap oleh pemerintah Suriah karena dianggap pengkhianat. Warung kopi dan kafe ditutup. Ya bukan karena ditutup pemerintah sih, karena hancur juga di bom karena pertempuran pesawat tempur.

Di Indonesia, obrolan tentang reformasi 1998 juga dimulai dari obrolan-obrolan para aktifis di warung kopi. Pergerakan mereka juga dimulai dari pertemuan dari warkop ke warkop lintas generasi dan kalangan. Pemerintah merespon ini dengan puluhan aktifis hilang dan diculik. Obrolan di warung kopi berhenti bahkan mereka yang berkumpul di warung kopi tak bisa membicarakan negara jika tak mau hilang. Kata senior saya, kalau anak minta izin mau ngopi, orang tuanya akan cemas. Namun hadiahnya, reformasi yang diimpikan pun nyata di Indonesia. Indonesia masuk masa demokrasi sebenar-benarnya.

Jadi warga negara berflower harus bersyukur saat ini

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like