STM Melawan Senayan

By

“Minggir ka, biar kami di depan” teriak seorang pelajar sambil berlari. Mereka adalah pelajar dari Sekolah Teknik Mesin (STM) di sekitar Senayan. Barisan putih-abu itu hadir ke depan gerbang DPR membawa tas sore dua hari lalu(24/9). Pulang sekolah ye kan.

Seorang mahasiswa juga bercerita kepada saya, “Anak STM berani banget ka!” katanya. Mahasiswa yang tak mau disebutkan namanya itu mengatakan para mahasiswa lari ketika polisi mengusir mereka dengan gas air mata. Lain halnya dengan anak STM yang justru melangkah maju. Ketika Polisi mulai maju mengejar para pendemo, anak STM lebih maju menghalau polisi.

Kemarin (25/9), anak STM melanjutkan aksi. Berdasarkan beberapa sumber, anak STM bermaksud memprotes RUU bermasalah. Mereka ingin melanjutkan perjuangan mahasiswa sehari sebelumnya.

Protes dari para pelajar ini tersebar dari Palmerah, Jakarta Barat hingga depan pintu DPR. Tol dalam kota tersendat karena aksi para pelajar. Mereka berlarian di jalan tol. Gak ada takutnya.

Sampai hampir tengah malam, kerumunan masa pelajar ini masih berkumpul di belakang gedung DPR. Bahkan dari video yang beredar, beberapa terluka di tubuhnya.

6 Pembelajaran dari Anak STM

Demonstrasi kemarin tidak lagi dilakukan oleh mahasiswa. STM mengambil peran justru lebih di depan. Maju terus, pantang pulang sebelum menang dan dicariin emak.

Ada beberapa pembelajaran dari para anak STM. Pertama adalah pembelajaran literasi sebelum melakukan aksi. Ini penting, jangan sampai kita memprotes hal yang kita sendiri tidak paham. Akhirnya kita melakukan labelisasi sepihak. Padahal salah.

Sebuah video diunggah Rexy Ambarwati di twitter tentang aksi anak-anak ini. Perekam video menanyakan apa yang mereka protes dan mereka menjawab “RUU”. Ketika ditanya maksud dari RUU itu sendiri mereka bingung. “Gak tau pak, saya anak mesin bukan anak IPS” jawabnya lantang.

Kedua, maju terus! Kalau menurut mereka itu benar, ya maju. Mereka bahkan tidak takut sama sekali. Kadang dalam beberapa hal perlu aksi juga supaya paham dimana yang salah. Lebih baik minta maaf dibanding minta izin.

Ketiga, kembangkan kemampuan di segala kesempatan. Kemampuan dan keberanian mereka dalam baku hantam, disalurkan dalam protes ini.

Dalam video lain yang diunggah askmf, pelajar maju ke depan ketika disiram air. Perekam video lantang bilang “mandi woy mandi”. Tak lama kemudian, seseorang berteriak “woy buku gua basah”.

Pembelajaran keempat, mereka tetap memperhatikan keilmuan. Buku adalah ladang ilmu. Ketika buku basah, bagaimana mereka bisa belajar? Sabar ya de, simpan aja diatas ricecooker atau belakang kulkas. Pasti kering besok pagi.

Pelajaran kelima, tetap positif. Mereka merasa polisi berbaik hati memandikan ketika air disiram ke arah mereka. Betapa mulianya adik-adik ini.

Kemuliaan adik-adik ini juga ditunjukkan saat mereka mendengar adzan. Video lainnya merekam bagaimana seorang pelajar berteriak meminta pelajar lain menghentikan aksi. Hal itu karena adzan berkumandang. “Woy, berhenti, berhenti. Adzan .. Adzan .. gak pada ngaji lu?” Ujarnya.

Terakhir, aksi STM Melawan mengajarkan persatuan. Pelajar ini berasal dari Jabodetabek. Mereka berkumpul di Senayan. Meski kadang saling baku hantam, demi rakyat mereka bersatu. Para kampret dan cebong harus belajar dari anak STM. Hidup anak STM!

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like