ilustrasi_pelakor-ruangobrolid

Pelakor, Media Sosial, dan Stigma Sosial di Indonesia

By

Pelakor adalah istilah yang mulai populer beberapa tahun belakang ini. Istilah pelakor sering sekali digunakan di media sosial untuk menyebut seorang perempuan yang merebut pasangan orang lain. Pelakor sendiri merupakan akronim dari kalimat “perebut laki orang”.

Istilah Pelakor mulai terkenal pada tahun 2018, ketika viral kasus Bu dendy yang melabrak suaminya bersama seorang pelakor yang  ternyata adalah temannya sendiri. Kasus Bu Dendy tersebut menjadi berita sensasional yang viral seantero Indonesia. Kasus Bu Dendy telah memopulerkan istilah “pelakor” kepada masyarakat Indonesia, terutama netizen Indonesia yang kemudian sering menggunakan kata tersebut terhadap perempuan yang suka merebut pasangan atau suami perempuan lainnya.

Sebenarnya isu perselingkuhan di Indonesia sudah menjadi isu  mainstream yang sudah terjadi sejak dulu. Namun, dengan penggunaan media sosial secara massif di Indonesia, pelakor telah menjadi suatu fenomena  yang dapat merusak hubungan rumah tangga. Setelah kasus Bu Dendy viral, banyak terdapat berita  media sosial  atau video tentang penggerebekan terhadap pelakor. Maraknya kejadian tersebut menimbulkan pertanyaan, apakah yang membuat banyak perempuan menjadi atau terindikasi pelakor?

Menurut penulis sendiri, mungkin ada banyak faktor yang menyebabkan maraknya kasus pelakor belakangan ini. Media sosial kemungkinan berpengaruh besar terhadap munculnya para pelakor-pelakor baru.

Media sosial sekarang ini telah menjadi sebuah sarana untuk mendapatkan pengakuan. Banyak orang yang memamerkan foto-foto mereka dengan maksud memamerkan kekayaan dan kecantikan mereka melalui media sosial. Melalui media sosial juga, banyak oknum yang memanfaatkannya untuk mencari kesempatan dalam kesempitan. Para “pelakor” ini bisa dibilang telah memanfaatkan media sosial sebagai saran komunikasi untuk mencari target laki-laki yang mereka anggap menjanjikan secara ekonomi. Ditambah lagi media sosial telah mempermudah komunikasi antar individu sehingga para pelakor dengan mudah dapat merayu korbannya untuk jatuh kedalam pelukannya.

Kita juga tahu bahwa apa yang dilakukan oleh para pelakor adalah salah. Jika terjadinya penggerebekan terhadap pelakor dan pasangan orang lain pasti sang pelakor yang akan menerima semua hinaan dan tekanan sosial karena telah merebut pasangan orang lain. Kita harus menyadari adanya kesalahan atau sifat masyarakat kita dalam menanggapi kasus tersebut. Struktur sosial masyarakat Indonesia yang masih didominasi sistem patriaki telah mempengaruhi sudut pandang orang-orang Indonesia dalam kasus pelakor di mana pihak perempuan selalu disalahkan.

Padahal, kalau diperhatikan secara seksama, laki-laki sebagai target pelakor sebenarnya juga turut bersalah. Jika laki-laki mempunyai iman dan kesetian yang kuat, kemungkinan untuk tergoda oleh pelakor tentu akan sangat kecil. Laki-laki sebenarnya juga harus dipertanyakaan kesetiannya mereka.

Jika mereka benar-benar mencintai pasangan mereka, kenapa mereka tertarik dengan godaan pelakor?

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like