Melihat Aktivitas Penghayat di Semarang

By

Di Indonesia ada 6 agama yang diakui, mulai dari Islam, Buddha, Hindu, Kristen, Katolik dan Kong Hu Cu. Namun demikian, ada pula ‘Penghayat’ yang belum lama ini diakui dan dibolehkan ditulis di kolom agama di KTP.

Para Penghayat tentu senang dengan hal itu. Mereka beranggapan apa yang dianutnya sebagai keyakinan bukanlah hal baru di Indonesia, bahkan merupakan tradisi kuno Nusantara.

“Memang tidak ada kitab sucinya, ini adalah sistem bertuhan orang-orang Nusantara yang turun-temurun,” kata Dewan Pembina Majelis Luhur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (MLKI) Pusat, Hertoto Basuki, saat gelaran diskusi para Penghayat di Kota Semarang, Kamis (29/8/2019) malam.

Walaupun tidak ada kitab suci, sebut Basuki, tetapi Penghayat punya semacam pegangan alias semacam buku ajaran.

“Ditulis oleh orang-orang yang sudah mengalami, dasarnya pengalaman spiritual,” lanjutnya.

Mereka punya ritual tersendiri untuk menemukan Tuhan yang mereka percayai. Salah satu ritual yang bisa dilakukan adalah dengan cara meditasi. Inti ajaran Penghayat, sebut Basuki, adalah mencari Guru Sejati.

“Melihat diri ke dalam untuk menemukan Tuhan,” kata dia.

Di Kota Semarang sendiri, ada pertemuan rutinnya. Salah satunya yang digelar di rumah Hertoto Basuki itu, lokasinya di Jalan Taman Durian III nomor 3, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang.

Pertemuan rutin digelar tiap Kamis malam. Pertemuan besar digelar tiap Selasa Kliwon dan Sabtu Kliwon, semuanya malam hari. Mereka berkumpul untuk memanjatkan doa yang mereka percayai dengan istilah Hastungkara.

Selain itu, para Penghayat juga melakukan diskusi-diskusi hingga berbagi kisah, khususnya tentang pengalaman spiritual yang pernah dialami. Diskusi ilmiah juga dilakukan di sana.

Salah satunya membahas tentang bagaimana sertifikasi terhadap para guru yang akan mengajar Penghayat di sekolah-sekolah paska diizinkan pemerintah masuk kurikulum pendidikan.

Diskusi ilmiah sebagai mata kuliah juga dilakukan, terutama bagaimana menyusun apa saja mata kuliahnya. Ini menyusul saat ini sedang dipersiapkan Program Studi (Prodi) Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yang akan ada di kampus Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang.

Salah satu Penghayat yang hadir pada diskusi malam itu adalah Sumarwanto, seorang insinyur. Dia adalah dosen di Untag Semarang.

“Prodi itu yang akan segera dibuka, menjadi yang pertama di Indonesia,” katanya.

 

FOTO ISTIMEWA

Diskusi para Penghayat di Kota Semarang, Kamis (29/8/2019) malam.

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like