Pulang Adalah Kepastian

By

Seorang teman baik yang telah menyelesaikan pendidikannya di sebuah universitas di benua Eropa, saat diskusi kerap mengungkapkan kegelisahannya tentang dinamika hubungan internasional dengan sebuah kata, yaitu “ketidakpastian”. Sebuah kata yang juga acapkali diungkapkan saat menjalani hubungan antarmanusia, jika terlalu lama saat ingin naik fase dari pacaran ke pernikahan.

Anda mulai mengeluarkan suara ‘cie…cie…cie…’ saat baca ini? Boleh percaya atau tidak, saya dan teman-teman sekelas mendapat nilai baik dalam mata kuliah ‘Pengantar Hubungan Internasional’ karena jasa sang dosen yang mengajar. Beliau memberikan analogi sederhana ilmu hubungan internasional dengan percintaan, ada rindu dan ada benci. Sesuatu yang sangat manusiawi. Semua orang mengalami.

Membumikan isu terorisme, menurut saya sebaiknya bisa kita lakukan dengan metode yang sederhana, mempersiapkan masyarakat untuk terlibat dalam konteks pencegahan berbasis komunitas.

Konsep komunitas resiliensi bertumpu pada dua titik penting. Titik pertama adalah pemberi. Titik kedua adalah penerima. Harus dua arah.

Seperti cinta bukan? Anda kembali mengeluarkan suara ‘cie…cie…cie…’? Baiklah, paragraf-paragraf berikutnya adalah hal yang serius.

Apa salah dua yang setiap saat orang butuhkan? Makanan dan pekerjaan. Membentuk komunitas resiliensi bisa dari hal-hal keseharian. Mantan napi teroris, mantan kombatan, mantan residivis, mantan tim penjara, dan mantan-mantan lainnya yang ingin meninggalkan masa lalu, kemudian merencanakan masa depan, sering mendapat kendala saat kembali ke masyarakat. Ketidakpastian tentang kesempatan kedua. Ketidakpastian saat pulang ke rumah. Bantuan ekonomi pada satu waktu tidak menyelesaikan masalah melulu.

Noor Huda Ismail, peneliti terorisme, membangun ‘Dapoer Bistik Solo’ bagi mantan teroris di Indonesia. Chef Benny Se Teo, mantan narapidana obat-obatan terlarang, membangun ‘Eighteen Chefs’ bagi para mantan penghuni penjara di Singapura. Emily Hunt Turner, pengacara hak asasi manusia, membangun ‘All Square’, sebuah warung sandwich di Minneapolis, Amerika Serikat bagi mantan residivis.

Ketiga contoh bisnis makanan tersebut adalah inisiatif sosial yang reflektif dan progresif. Reflektif karena melihat masa lalu sebagai pelajaran untuk melangkah. Progresif karena melangkah maju untuk masa depan yang lebih baik.

Apapun inisiatif sosial yang hendak kita kembangkan bisa berpatok pada konsep pertemuan di bandara. Tidak pernah saya alami, jika bertemu di bandara lalu ditanya apa agamanya, dari suku mana berasal, atau dari kelas sosial yang mana asalnya.

Konsep pertemuan di ketiga bisnis makanan di atas, mengutip Anna Halafoff dalam “Countering Extremism: Building Social Resilience Through Community Engagement”, menggunakan pendekatan CRALD (Culturally, Religiously, and Linguistically Diverse), mempertemukan aktor-aktor negara seperti polisi dengan publik dengan prinsip multikultur, inklusi sosial, dan tanggung jawab keamanan bersama.

Saat individu mendapatkan penolakan akses terhadap kesempatan dan partisipasi dalam proses sosial politik dibarengi dengan minimnya peluang menyatakan pendapat, kemarahan, serta situasi lokal dan global yang identik dengan eskalasi konflik, maka kecenderungan untuk terlibat lingkaran kekerasan akan lebih besar.

Proses pendampingan dalam penjara, pembangunan kapasitas setelah keluar dari penjara, penempatan, dan kelulusan untuk replikasi model bisnis berbeda menjadi penting untuk memiliki kemampuan kritis menghadapi persaingan. Penjara memang tempat koreksi hidup bagi narapidana, tetapi publik pun bisa ciptakan KOREKSI (KOmunitas REsiliensi Kreatif berakSI). “Actions speak louder than words”.

 

SUMBER ILUSTRASI: Yale Climate Connections

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like