Cara Milenial Mengkritisi Bias Informasi Media

By

Mengakses media bagi setiap orang kini makin mudah bahkan sudah jadi semacam kebutuhan primer bagi mereka yang haus informasi, hiburan maupun pengetahuan.

Di tengah banyaknya informasi yang berserakan di berbagai media, sudah barang tentu kita ingin yang sesuai fakta. Tapi yang terjadi kerap sebaliknya. Masih ada media yang menampilkan kontennya secara bias.

Tak terkecuali yang terjadi pada media massa luar negeri misalnya, terutama yang merupakan bagian dari masyarakat di negara-negara Barat. Sebut saja; Amerika, Inggris, dan Kanada, sering terpengaruh oleh stigma bahwa agama Islam mengajarkan kekerasan. Stigma yang telah dipercayai oleh masyarakat tersebut menimbulkan ketegangan karena perbedaan budaya.

Hal tersebut kemudian membuat mereka (media massa luar negeri) cenderung melakukan pemberitaan yang negatif terhadap agama Islam.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh MDPI ( Multidiciplinary Digital Publishing Institute) yang berasal dari Swiss pada tahun 2018 menunjukkan bahwa rata-rata pemberitaan media massa surat kabar tidak menunjukkan sisi positif terhadap agama Islam; seperti pesan moral yang dapat diambil dari setiap ritual keagamaan, ajakan perdamaian saat perayaan Hari Raya, serta toleransi dengan makhluk hidup lain.

Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan dan menganalisa artikel dari banyak surat kabar ternama di empat negara itu (Amerika, Kanada, Inggris, dan Australia).

Media Barat bisa memiliki peran penting dalam perdamaian antara Islam dan masyarakat Barat pada masa mendatang. Dengan catatan jika media tersebut mengambarkan Islam secara berimbang, namun sebaliknya jika tidak objektif dan terus menggambarkan Islam secara negatif maka keharmonisan tidak akan tercipta, malah menjadi semakin buruk.

Dalam pandangan mahasiswa, media Barat dipandang kerap menggambarkan Islam sebagai agama yang sering melakukan aksi terorisme.

Fauzan misalnya mahasiswa ilmu komunikasi di salah satu universitas di Jakarta, beranggapan bahwa distorsi media Barat terlihat begitu gencarnya terhadap umat Islam.

Mereka lebih sering melihat Islam dari perspektif negatif. Seperti pada kasus penembakan brutal yang terjadi di Masjid Christchurch, New Zealand. Pemberitaan kasus tersebut di beberapa media asing, seringkali tidak menyebutkan bahwa kasus tersebut merupakan kejahatan terorisme. Kebanyakan judul yang dimuat hanya menyebutkan seorang pria yang memakai senjata atau gunman dan melakukan aksi brutal

“Jadi aksi terorisme hanya ditunjukan pada Muslim aja, jika dia Muslim udah pasti akan digencarkan pemberitaanya, dan disebut sebagai kasus terorisme,” ujar Fauzan.

Madjufri, mahasiswa manajemen di salah satu universitas di Jakarta perpendapat bahwa penting bagi kita untuk dapat memilah sebuah informasi yang tersebar agar tidak langsung diterima begitu saja. Bersikap kritis dengan mencari referensi pembanding saat mengkonsumsi informasi bisa jadi salah satu caranya.

“Sebenarnya yang berperan di sini tuh bukan hanya media tapi masyarakatnya juga, jadi kalau masayarakatnya teredukasi, masyarakatnya bisa memilah apakah berita ini benar atau tidak, media yang ingin membuat sebuah propaganda atau stigma tertentu itu gak akan berpengaruh apapun kontennya ke kita,” ungkap Madjufri

Penulis:

Fiqoh Abdullah

Arizza Alfirdausi

 SUMBER ILUSTRASI: pixabay.com

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like