Azzam, AL Qaeda, Lalu ISIS: Secuil Kronologi (1)

By

Pada 21 Agustus 2019 lalu, muncul sebuah berita yang menarik perhatian media. The Times menuliskan bahwa Pimpinan ISIS, Abu Bakr Al Baghdadi yang sedang sakit parah menyerahkan urusan keseharian organisasi teroris itu kepada orang kepercayaannya. Dia adalah Abdullah Qardash, mantan pejabat militer Sadam Hussein. Namun, berita yang disinyalir bersumber dari Amaq ini ditepis oleh BBC sebagai fake news. Alasannya, karena gaya bahasa dan pilihan kata yang tidak lazim digunakan oleh ISIS.

Entah berita tersebut benar atau tidak, saya justru tertarik untuk membahas soal peralihan kekuasaan pada organisasi seperti ISIS ini. Yuk, kita bahas, bagaimana sebenarnya alur terbentuknya ISIS yang dimulai dari Al Qaeda dan bahkan sejak Perang Afghanistan.

Dia adalah pria kelahiran Palestina yang menyerukan mobilisasi foreign fighter dari seluruh dunia. Karena fatwa dan pemikirannya, dia disebut sebagai pencetus Global Jihad. Jihad tentunya memiliki beragam makna, namun dalam hal ini, jihad baginya berarti sempit yaitu perang.

Adalah Abdullah Azzam yang mengimplementasikan pemikiran-pemikiran Sayyid Qutub tentang makna jihad yang menjadi kewajiban masing-masing individu. Mobilisasi pasukan Soviet ke Afghanistan di tahun 1979, menjadi ladang bagi Azzam untuk memanggil sesama Muslim. Dia menyerukan dalam fatwanya bahwa mempertahankan wilayah milik kaum Muslimin adalah kewajiban setelah menyatakan keimanan. Azzam berargumen bahwa umat itu adalah satu tubuh. Sehingga jika ada wilayah kaum Muslimin yang terancam maka wajib bagi Muslim yang lain untuk merasa sakit dan ikut membantu. Karyanya Join the Caravan di tahun 1987 semakin memperjelas fatwa itu dengan menyebutkan 16 alasan untuk pergi berjihad atau perang.

Selama perang di Afghanistan, Abdullah Azzam adalah tokoh penting. Dibantu dengan anak didiknya, Osama bin Laden, Dia mengendalikan perputaran manusia, senjata, bahkan dana. Namun, kiprah Azzam harus berakhir di tahun 1989. Setelah usai dengan perang di Afghanistan, dia justru dibunuh dengan sebuah bom yang menghancurkan mobil yang dikendarainya. Pada tahun inilah, ribuan foreign fighter yang sempat dipimpinnya berada di persimpangan jalan. Perdebatan dan silang pendapat memang sudah kerap terjadi sejak perang di Afghanistan dianggap selesai dengan menyingkirnya pasukan soviet.

Dalam sengkarut perdebatan itu, muncullah Osama bin Laden. Murid Abdullah Azzam dan anak dari saudagar kaya asal Arab Saudi itu menjadi pemimpin dari organisasi yang dibentuknya, Al Qaeda. Berawal dari beberapa orang dekat Osama saja, organisasi ini kemudian berkembang dan memfasilitasi gerakan teror di seluruh dunia. Paska perang Afghanistan, memang tidak semua foreign fighter sepakat dengan Al Qaeda. Banyak yang pulang kembali ke negaranya karena misi telah usia. Ada pula yang membentuk faksi-faksi lain.

Al Qaeda yang memiliki banyak bentuk di beberapa negara ini benar-benar mendapat perhatian dunia setelah serangannya ke Amerika Serikat. Organisasi ini mengaku bertanggung jawab terhadap peristiwa 9/11 atau runtuhnya Gedung World Trade Center (WTC) pada 11 September 2001. Dua buah pesawat berhasil mereka bajak dan ditabrakan serta diledakan di Gedung tersebut. Ribuan nyawa hilang karena itu.

Tidak hanya itu saja, serangan menggunakan pesawat umum itu juga ditujukan ke Pentagon, pusat militer Amerika Serikat. Hal ini tentu saja membuat Paman Sam kebakaran jenggot. Sejak saat itulah perburuan terhadap Osama bin Laden benar-benar serius dilakukan. Hingga akhirnya, 10 tahun kemudian, pimpinan Al Qaeda itu berhasil di tembak mati oleh pasukan Navy SEAL di Pakistan.

Namun seperti Hydra, makhluk mitos yang mampu menumbuhkan kepalanya kembali setelah dipenggal, Al Qaeda tidak berangsur surut. Kematian Osama bin Laden justru menuntun pada penunjukkan Ayman Al Zawahiri sebagai pimpinan Al Qaeda. Pria kelahiran Mesir ini adalah salah satu dari ratusan orang yang terlibat dalam upaya pembunuhan Presiden Mesir, Anwar Sadat, pada tahun 1981. Ayman memang sejak lama bahu membahu membangun Al Qaeda bersama Osama. Sebelum secara formal memimpin organisasi itu, dia sudah menjadi pimpinan operasi dan strategi Al Qaeda.

Dalam perkembangan Al Qaeda dan munculnya berbagai ‘cabang’ di beberapa wilayah, terdapat sebuah kelompok yang mengambil peran signifikan saat invasi Amerika Serikat ke Irak. Upaya militer untuk menjatuhkan Sadam Hussein itu dimanfaatkan oleh Abu Mushab Al Zarqawi untuk mengangkat namanya dan kelompoknya. Pria inilah yang nantinya menjadi cikal bakal ISIS.

– bersambung

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like