Mencegah Radikalisme Harus dilakukan Sejak Kecil

By

Sikap intoleran, kemudian bisa berujung ke tindakan radikal dan terorisme bisa dicegah sejak dini.

Hal itu diungkapkan Kepala Kepolisian Daerah Jawa Tengah, Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel. Pimpinan kepolisian tertinggi di Jawa Tengah itu terus mengupayakan pencegahan.

“Sebetulnya deradikalisasi itu wilayah-wilayah pekerjaan daripada Densus 88 bekerja sama dengan BNPT (Badan Nasional penanggulangan terorisme). Akan tetapi kita juga melalui fungsi Binmas (Pembinaan Masyarakat) juga melaksanakan tugas-tugas preemtif, mencegah bahaya daripada radikalisme dan terorisme,” kata Rycko ketika ditemui di Lapas Kelas I Semarang pada Sabtu (17/8/2019) lalu .

Walaupun diakui tak mudah, namun tindakan-tindakan seperti itu bisa dicegah dengan memberikan narasi damai sejak kecil lewat contoh-contoh nyata.

“Memang (soal ideologi) tak semudah membalik telapak tangan, karena ideologi itu merupakan keyakinan. Apalagi sudah digunakan dengan menggunakan simbol-simbol agama seperti itu,” lanjut peraih Adhi Makayasa alias lulusan terbaik Akpol angkatan 1988 itu.

Mantan Gubernur Akpol itu mengemukakan, fenomena yang bisa membuat tumbuhnya intoleransi, radikalisme hingga terorisme biasanya disampaikan oleh orang-orang yang dianggap mempunyai kemampuan di bidang agama.

Itu bisa dilakukan melalui berbagai ceramah-ceramah ataupun kajian-kajian yang cenderung eksklusif. Hal seperti itu disampaikan sejak dari kecil. Dicekoki terus menerus sehingga dianggap sebagai sebuah kebenaran.

“Menjadi keyakinan, yang hanya bisa dipisahkan dengan kematian,” tambahnya.

Sebab itulah perlu langkah-langkah cepat mencegahnya. Bisa dilakukan mulai dari sekolah-sekolah dasar. Para murid diajarkan tentang toleransi, saling menghormati, tentang menghindari cara-cara kekerasan, cara-cara mau menang sendiri. Menghindari anggapan orang lain selalu salah sementara pribadi atau kelompok sendiri itu yang selalu benar.

“Jangan ketika sudah tua baru disampaikan (bahaya radikalisme). Menyelesaikan persoalan dengan cara-cara kekerasan, dengan kekuatan, itu salah satu ciri-ciri radikal. Kalau dari kecil sudah diajarkan (akan lebih susah menyelesaikannya). Misalnya, jadi kami nggak bisa bilang itu radikal, kami kan dari kecil sudah diajarkan,” tutupnya.

 

FOTO RUANGOBROL.ID/EKA SETIAWAN

Kapolda Jateng Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel (bermain gitar) bernyanyi bersama beberapa narapidana di Lapas Kelas I Semarang alias Lapas Kedungpane, Sabtu (17/8/2019) lalu.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like