Konflik di Papua: Collective Identity dan Tantangan Media Sosial Untuk Perdamaian

By

Sedih rasanya mengamati pemberitaan dua hari terakhir ini. Tanah Papua kembali memanas. Orang-orang turun ke jalan. Api tersulut dari benda-benda apapun yang dapat terbakar, memblokade jalan-jalan di Manokwari, Papua Barat. Gas air mata berterbangan untuk membubarkan massa.

Kali ini, sumber masalah bukan berasal dari dinamika yang terjadi di Pulau Papua. Tetapi justru dari kericuhan yang terjadi ribuan kilometer jauhnya, di Pulau Jawa. Aksi demonstrasi mahasiswa Papua di Malang berakhir ricuh dengan adanya saling lempar batu dengan warga sekitar. Sementara di Surabaya, Asrama Papua harus didatangi pihak kepolisian karena adanya dugaan pelecehan simbol negara.

Apa yang membuat kejadian yang jaraknya sangat jauh itu dapat beresonansi dengan cepat dan memunculkan reaksi?

Pertama, saya memahami konflik ini sebagai sebuah ekspresi tentang rasa kebersamaan dan collective identity yang kuat. Identitas adalah hasil dari sebuah proses sosial yang terjadi di setiap manusia. Secara alami, manusia akan mendefinisikan tentang dirinya sendiri melalui rangkaian ingatan dan hal-hal yang terjadi di sekelilingnya. Selanjutnya, dia akan mentautkan identitas diri tersebut pada cakupan yang lebih luas, seperti pada etnisitas, negara, atau bahkan pada pandangan agama.

Soal collective identity ini memang menjadi bahasan yang unik. Individu dapat merasakan rasa sakit yang sama terhadap individu lain, meskipun tidak saling mengenal dan jauh jaraknya, hanya karena memiliki collective identity yang sama. Bahkan, seorang individu bisa mengorbankan dirinya untuk menunjukkan pembelaan atau melindungi individu lain di kelompoknya. Sehingga, tidak mengherankan juga kondisi yang terjadi di Jawa, dapat dirasakan oleh mereka yang berada di Papua.

Meskipun tidak bisa serta merta disamakan, namun situasi yang sama juga bisa menjelaskan soal mobilisasi ratusan Warga Negara Indonesia (WNI) untuk bergabung dengan ISIS. Identitas yang dibangun oleh ratusan orang tersebut memiliki frekuensi yang sama dengan identitas yang dibentuk oleh ISIS. Sehingga pergerakan itu terjadi. Bahkan karena rasa yang sama itu pula lah, terjadi aksi-aksi di Indonesia.

Pun terhadap adanya orang Indonesia yang berangkat ke Afghanistan di tahun 1980an. Kesamaan identitas dan keinginan untuk membela saudara se-iman, mendorong mereka untuk menjadi foreign fighter disana.

Oleh karena itu, terhadap situasi di Papua, salah satu upaya yang perlu dilakukan pemerintah adalah benar-benar menujukan rasa keadilan disana.

Kedua adalah soal media. Hal yang memungkinkan munculnya pembelaan dan rasa kebersamaan itu adalah soal arus informasi. Media, bukan hanya soal informasi yang menyebar melalui outlet media massa konvensional, tetapi juga melalui media sosial.

Peristiwa yang terjadi di Malang dan Surabaya, seketika menyebar dengan cepat di Tanah Papua melalui media sosial. Arus informasi yang tidak terbendung itu membangkitkan naluri pembelaan terhadap mereka yang berbagi identitas. Jarak bukan lagi menjadi masalah. Ekspresi itu kemudian muncul di tempat mereka berada.

Untuk kesekian kalinya, keampuhan sosial media terbukti disini. Sebagian besar dari kita mungkin masih ingat soal Arab Spring. Aksi bakar diri yang dilakukan oleh satu orang di Tunisia, mampu memicu revolusi di negara tersebut. Tidak hanya itu saja, kejadian ini juga menyulut terjadinya gerakan revolusi di beberapa negara di Afrika Utara. Atau soal propaganda ISIS yang menyebar ke seluruh dunia dan beresonansi dengan orang-orang dengan beragam latar belakang. Media sosial dapat menembus ruang-ruang tanpa batas.

Apa yang terjadi dengan sosial media saat ini, tidak jauh berbeda dengan televisi di masa-masa keemasannya. Dahulu, kotak ajaib dengan gambar bergerak itu juga memiliki pengaruh pada kondisi sosial masyarakat. Pada satu masa di Inggris, televisi menjadi salah satu penyebab terjadinya moral panik terhadap tawuran antar anak muda atau konsumsi alkohol berlebihan. Televisi juga menjadi pemicu terjadinya konflik karena menyampaikan informasi yang sudah dipoles sedemikian rupa.

Namun, disisi lain, televisi sebagai salah satu bentuk media, juga bisa menjadi alat untuk mereduksi atau meredam konflik. Vladimir Bratic, seorang Phd dari Universitas Ohio dan pakar komunikasi massa, pernah menjabarkan soal fungsi media tersebut. Dalam jurnalnya yang berjudul Media Effects During Violent Conflict: Evaluating Media Contribution to Peace Building, di menyimpulkan bahwa media apapun bentuknya mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi pengguna atau penontonnya dalam opininya, cara berpikirnya, atau aksinya. Oleh karena itu, penting untuk memiliki kesadaran tentang penggunaan media sebagai penyeru perdamaian atau pereda konflik.

Meskipun Vladimir Bratic masih merujuk pada media konvensional, akan tetapi hal yang sama juga bisa diterapkan pada media sosial. Sebagai sebuah alat, media sosial hanya akan meneruskan informasi yang dibuat oleh penggunanya. Oleh karena itu, mengetahui efek yang signifikan dari media sosial, kita seharusnya bisa lebih berhati-hati dalam menggunakannya. Kesadaran bahwa pesan yang kita sampaikan di media sosial dapat beresonansi dalam ruang yang lebih luas dan mempengaruhi tidak hanya mereka yang dekat, sangat penting untuk dimiliki.

Sehingga, ketika konflik terjadi, seperti di Papua, kebijaksanaan dari jari kita yang sangat diperlukan.  Jika tidak menjadi bagian dari solusi, sebaiknya mampu menahan diri.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like