Apa Jadinya Jika Bakat Berkembang di Tempat yang Salah?

Arif Budi Setyawan
Arif Budi Setyawan
4 Min Read

Anda tahu kerja para pencopet? Mereka tidak pernah bekerja sendirian, selalu bekerja secara tim. Mereka ini luar biasa sekali dalam hal keterampilan tangan, mengelabui pergerakan agar tidak mencurigakan, kecepatan bergerak, dan kekompakan kerja tim.

Mungkin tidak berlebihan jika dikatakan kekompakan mereka ini boleh jadi setara dengan kekompakan kerja dalam sebuah unit pasukan komando.

Ketika seseorang yang menjadi korban pencopetan menyadari dirinya kecopetan, biasanya barang yang dicopet itu sudah berpindah jauh dari tempatnya berada. Berpindah dari tangan ke tangan dengan cepat dalam satu tim. Semakin banyak tim yang bekerja makin sempurnalah operasi pencopetan itu. Sebab makin sulit ditemukan barangnya dan siapa pelaku sebenarnya.

Anda tahu permainan bola basket ? Dua tim yang masing-masing berisi 5 orang memperebutkan sebuah bola untuk dimasukkan ke dalam keranjang untuk mencetak skor. Di mana inti permainan ini adalah bagaimana cara merebut bola dari lawan dan melemparkannya kepada kawan lain yang memiliki posisi yang bagus untuk menghasilkan sebuah tembakan ke dalam keranjang.

Keahlian mencuri bola dari pemain lawan itu sangat mirip dengan keahlian para pencopet mencuri barang dari korban mereka. Melemparkan bola kepada kawan yang lain dengan cepat juga mirip dengan memindahkan barang yang dicopet ke kawannya yang lain.

Dalam kasus para pencopet dan tim bola basket ini ada kesamaan atau setidaknya ada kemiripan. Yaitu dibutuhkannya keahlian mengambil barang dan mengoperkannya kepada kawan yang lain yang memiliki posisi yang bagus.

Artinya sebenarnya para pencopet dan para pemain basket itu memiliki bakat yang sama, yaitu kecepatan tangan dan kemampuan kerja tim yang hebat. Tapi karena keduanya berkembang di tempat yang berbeda dengan tujuan yang berbeda pula, hasilnya pun sangat berbeda.

Untuk para pencopet itu hasil akhirnya boleh jadi adalah status narapidana di lembaga pemasyarakatan (lapas) sedangkan para pemain basket bisa meraih trofi dan berbagai penghargaan dari olahraga yang mereka tekuni itu.

Kata copet dan lapas mengingatkan saya pada salah satu kisah lucu yang pernah saya temui di sana terkait masalah bakat para narapidana.

Biasanya di bulan Agustus seperti saat ini ada yang namanya Pekan Olahraga dan Seni Narapidana (Porsenap) di mana para narapidana diberi kesempatan untuk unjuk kemampuan mereka di bidang olahraga dan seni.

Kisah lucunya adalah ketika ada pertandingan futsal yang mempertandingkan antara dua tim yang masing-masing mewakili blok hunian mereka. Dalam sebuah pertandingan ada salah satu pemain yang beberapa kali berusaha menangkap bola ketika ingin merebut bola itu dari pemain lawan sampai dikasih kartu kuning oleh wasit.

Pemain tersebut banyak diteriakin oleh para penonton : “Dasar pencopet, tangannya lebih terampil dari kakinya”, “Eh, ini main futsal bukan lagi nyopet di pasar malam”, “Woi, itu bukan dompet”, “Ketahuan kalau mantan copet Lu!”, dan seterusnya. Intinya ngledekin sang pemain yang memang ternyata beneran mantan pencopet.

Kembali lagi pada soal bakat yang berkembang di tempat yang salah.

Seseorang yang memiliki bakat teknik mengutak-atik dan memperbaiki sesuatu bila berkembang di tempat yang salah pun bisa menghasilkan sesuatu yang justru merugikan orang banyak.

Misalnya, seseorang yang karena bakatnya kemudian menjadi ahli rangkaian elektronika, tapi kemudian memilih jalan menjadi perakit rangkaian elektronik pemicu bom bagi kelompok teroris atau yang karena bakatnya suka mengutak-atik kemudian bisa menciptakan senjata rakitan untuk kelompok teroris, bukankah yang seperti ini berbahaya ?

Jadi, untuk menghasilkan kebaikan, bakat itu harus berkembang di tempat yang benar dan dengan tujuan yang benar. Jika tidak, maka bakat itu justru boleh jadi akan menghasilkan sesuatu yang merugikan.

FOTO DOKUMENTASI LAPAS KELAS I SEMARANG

Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) tampil di pentas untuk lomba menyanyi saat kegiatan Pekan Olahraga dan Seni Narapidana (Porsenap) dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Share this Article
Posted by Arif Budi Setyawan
Follow:
Observing and Inspiring
Leave a comment