Terjebak Nostalgia

Pengalaman di Tanah Konflik Memicu Saya Terus Menulis dan Tampil untuk Suarakan Pesan Damai

By

Saat ini pemerintah Indonesia juga tengah sibuk mencari skema yang tepat untuk memulangkan warganya dari Timur Tengah. Mereka yang ingin pulang setelah sempat tergelincir masuk ke wilayah ISIS.

Fenomena tersebut menyeret ingatan saya, sekira dua tahun lalu. Sebab, saya pun pernah mengalami kejadian serupa. Hingga pada  Sabtu, 12 Agustus 2017 saya bisa kembali ke Indonesia tercinta setelah dievakuasi pemerintah maupun unsur swasta yang bekerja sama sangat baik ketika itu.

Momen itu amat penting bagi saya, menjadi sebuah titik balik, setelah sekian lama survive dan terombang-ambing tak karuan di negeri konflik.

Dari pengalaman tersebut, ada beberapa hal yang membuat saya semakin tertarik untuk di lakukan. Yaitu, membaca, menulis, dan public speaking. Untuk masalah membaca, selain dari komik, majalah game, dan novel-novel ringan, dulu saya kurang suka dan bahkan cenderung malas untuk membaca hal-hal yang lain daripada itu. Menulis pun hanya seperlunya saja.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, apalagi setelah saya menetap cukup lama di Suriah, minat saya akan kedua hal tersebut menjadi jauh meningkat, beberapa hobi dan minat saya yang dulunya sempat berada di posisi teratas, menjadi berpindah sedikit ke bawah.

Beberapa faktor yang membuat saya menyukai hal tersebut mungkin bisa disebabkan karena akibat yang “diderita” oleh ex-returnee seperti saya. Satu hal yang cukup sering saya lakukan untuk kontra narasi isu-isu terorisme adalah speak up di media maupun berada di depan forum.

Dengan menghadiri kegiatan yang membutuhkan kemampuan public speaking yang baik, saya pun harus membekali diri saya dengan berbagai macam informasi, salah satunya adalah dengan membaca.

Beri makan otak kita dengan ilmu yang bermanfaat. Dengan begitu, kapabilitas kita untuk menyaring informasi atau sebuah permasalahan pun akan jauh lebih baik dan bijak. Tidak mudah terpengaruh oleh propaganda-propaganda dan hoaks yang bertebaran di dunia maya.

Begitu pula dengan menulis, salah satu minat yang saat ini juga menjadi salah satu mata pencaharian yang saya lakukan.

Berbicara tentang minat, ada yang bilang jika minat selalu di asah bisa mengalahkan bakat seseorang. Dan bukan tidak mungkin jika bakat yang dimiliki sebuah individu bisa kalah dengan seseorang yang selalu meng-improve minat yang ia geluti.

Saya berkata seperti ini bukan berarti minat yang saya miliki telah mampu melampaui orang-orang berbakat.

Tapi yang jelas adalah, apapun minat dan bakat yang kita miliki seperti menulis, menjadi public speaker, melukis, atau aktivitas positif lainnya. Tetaplah kembangkan semua hal itu semaksimal mungkin. Selama bakat dan minat yang kalian miliki itu positif dan bisa bermanfaat, ya lakukanlah.

#WriteForPeace #AgentOfChange

 

FOTO  RUANGOBROL.ID/ARIF BUDI SETYAWAN

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like