Hari Gini Masih Jomblo?

By

​“Eh, Lo udah punya pacar belom ?”

“Hari gini masih jomblo aja, duh cape dehh. .”

“Ciee yang jones. . . jomblo ngenes, hahaha”

“Lo udah jadian ? Kapan nih lanjut ke pelaminan ?”

Pertanyaan-pertanyaan di atas acap kali dikatakan kepada rekan, teman, sahabat ataupun saudara kita yang masih berstasus single. Yang mana seolah-olah status seseorang yang masih belum memiliki pasangan adalah sebuah aib. Hal ini juga bisa dimasukkan dalam kategori bullying.

​Semua yang ada di dunia ini bersifat sementara dan segalanya pasti berakhir. Sebagaimana penggalan firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 36:

wa lakum fil ardhi mustaqorruw wa mataa’un ilaa hiin

Kalimat “ilaa hiin” sering diulang dalam ayat-ayat Alquran. Artinya segala sesuatu itu memiliki batas tertentu.

​Termasuk dalam hal ini kejombloan atau kesendirian Hanya yang jadi masalahnya, kita tidak tahu akan lebih dulu berakhir di pelaminan atau malah di kuburan. Setiap manusia memang diciptakan berpasang-pasangan.

Allah sendiri menegaskan dalam Surat An-Naba [78]: 8 yang artinya,

“Dan Kami menciptakan kalian berpasang-pasangan”.

Sayangnya maksud berpasang-pasangan di sini adalah: laki-laki dengan perempuan, siang dengan malam, panas dengan dingin, dsb. Jadi kalau ada yang belum sampai pada jodohnya di dunia, itu hanya masalah non teknis saja, bukan ayatnya yang salah.

​​Insya Allah jika ia Muslim yang baik dan menjalani kehidupan sesuai syariat-Nya, Allah telah siapkan jodoh terbaik untuknya di akhirat. Jika tidak, sesungguhnya ia telah sampai pada “jodoh” yang sebenarnya yaitu kematian.

Jodoh datangnya belum pasti, tetapi kematian sudah pasti akan mendatangi kita semua. Sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Qur’an di Surat Ali-Imran [3]: 185. Pada kalimat pertamanya.

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati”

Jika jodoh bisa diikhtiarkan kedatangannya, lain halnya dengan kematian. Tanpa kita ikhtiarkan, kematian akan datang dengan sendirinya. Dan itu pasti.

​​Yang bisa kita ikhtiarkan dalam kematian ini bukan waktu kedatangannya, tapi kondisi saat kita meninggal nanti. Apakah meninggal dalam keadaan khusnul khotimah atau su’ul khotimah.

Entah akan berakhir di pelaminan atau kuburan, sudah seharusnya kita mempersiapkan amal sebanyak mungkin sebagai bekal menghadapi kematian, jangan sampai salah memantaskan diri.

Terkadang kita terlalu sibuk dengan perihal jodoh, jodoh dan jodoh. Sampai pada akhirnya kita lupa bahwa kematian itu lebih pasti datangnya untuk setiap makhluk yang bernyawa.

So, buat kalian yang masih sendiri dan kalian masih merasa nyaman dengan hal itu, ya jalanin aja.

Toh, itu adalah hidup kalian. Untuk apa memaksa memiliki pasangan tapi hanya untuk “membahagiakan” orang lain ?

Don’t worry, be happy. Keep calm, be yourself. 🙂

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like