Catatan dari Masa Lalu : Dialog Antara Kubu Jihad dan Kubu Dakwah (7)

By

Lanjutan tanggapan dari kubu dakwah :

Kalimat antum:

Sudahkah antum ber-ittiba’ dalam berdakwah kepada Islam? Sehingga ketika ada aksi jihad terus kalian menyalahkan aksi jihad tersebut. Oke, bisa jadi ada kesalahan dalam suatu aksi jihad. Lalu apakah dengan kesalahan itu jihad terus tidak boleh lagi? Karena membuat para da’i kesulitan?

Sesulit apakah dakwah antum sehingga sampai tega bersikap seperti itu?

>> Kami tidak menyalahkan jihad antum. Tapi melihat jihad antum dengan perspektif kami sebagai da’i. Pekerjaan dakwah memang meluruskan jika ada yang perlu diluruskan, tentu dengan panduan ilmu yang shahih. Apakah seseorang yang melakukan amaliyat jihad serta merta menjadi maksum dan suci sehingga pasti semua langkahnya benar? Mujahid juga manusia, yang dalam melakukan jihadnya boleh jadi agak sembrono. Ingatkah antum dengan teguran Rasulullah saw kepada Usamah bin Zaid r.a yang membunuh musuh yang sudah mengucap la ilaha illallah? Rasulullah saw dengan teguran itu tidak lantas dipandang MENGGEMBOSI JIHAD bukan?

Kalimat antum:

Oke, bisa jadi ada kesalahan dalam suatu aksi jihad. Lalu apakah dengan kesalahan itu jihad terus tidak boleh lagi? Karena membuat para da’i kesulitan?

>> Kalimat pertama antum berisi pengakuan yang bagus. Tapi kalimat kedua, ini tuduhan yang tak berdasar. Adakah satu patah kata pun dari kami yang melarang jihad? Yang kami coba beri masukan kepada antum adalah, bahwa kita dalam jihad sejatinya juga sedang berdakwah. Ketika Rasulullah saw menegur Usamah bin Zaid r.a yang tetap membunuh musuh yang sudah mengucapkan la ilaha illallah, itu juga berisi pesan dakwah. Bahwa jihad kita harus mempertimbangkan misi dakwah.

Artinya, jika dengan mengucapkan la ilaha illallah seseorang masih dibunuh, padahal belum ketahuan ia jujur atau dusta, lalu apa perlunya sekian tahun Rasulullah saw mendakwahkan kalimat tauhid? Berarti, usaha dakwah sekian tahun mengajak manusia kepada kalimat tauhid dipatahkan oleh aktifitas jihad yang sembrono itu. Jika ini dibiarkan, kelak jika orang didakwahi untuk bertauhid, ia akan komplain: buat apa kalimat tauhid itu jika tak berguna memelihara jiwaku dari ancaman pedangmu? Lha itu buktinya, Usamah membunuh orang yang sudah mengucapkannya?

Bukankan tindakan Usamah bin Zaid ra ini membuat Rasulullah saw kesulitan menjelaskannya di hadapan umat manusia?

Bahwa Rasulullah saw mendapat tantangan dakwah yang demikian berat dari orang kafir, itu benar. Tapi jangan sampai kesulitan dakwah itu justru datang dari Usamah bin Zaid r.a, sahabat sendiri. Ini titik tekan nasehat kami kepada antum.

Maka jangan paksa para da’i untuk sekedar menjadi tukang stempel atas apapun tindakan para mujahid yang tidak hikmah itu. Mari kita pahami persoalan ini secara utuh, jangan GHULUW terhadap jihad !

DAKWAH BUKAN SOSOK KAMBING CONGEK YANG SELALU DICIBIR KARENA KURANG JANTAN, dan TIDAK MEMBANGKITKAN ADRENALIN. Sebaliknya, JIHAD adalah SEGALA-GALANYA sehingga POKOKNYA HARUS JIHAD, apapun akibatnya. TIDAK, sekali lagi TIDAK.

Kami bukan bekerja untuk sekedar gagah-gagahan, tapi untuk menegakkan Islam hingga jaya. Semua cara harus ditempuh, dan JIHAD bagi kami BUKAN OBAT SEGALA PENYAKIT, tapi hanya sebagian penyakit. Ada penyakit lain yang hanya bisa diobati dengan ILMU dan DAKWAH.

Kalimat antum:

Karena saya yakin, ketika mujahidin melakukan aksi tidak sembarangan. Ada prosedur yang cukup ketat dan standar yang mereka jalani sebelum melakukan aksi.

>> Kalimat ini terlalu mengkulutskan mujahidin. Seolah tak mungkin mujahidin melakukan kesalahan. Bahwa mujahidin punya prosedur, itu benar. Tapi ada kalanya keliru perhitungan, itu sangat manusiawi.

Terakhir:

Ada kesan kuat, bahwa jika kritik itu datang dari da’i, tak perlu didengarkan. Itu ibarat kritik anak SD terhadap sarjana.

Tapi seandainya kritik itu datang dari Usamah bin Ladin  karena sama-sama sarjana, maka diterima.

BELUM PERNAH JIHAD KOK MENGKRITIK JIHAD !

La haula wala quwwata illa billah.

Sejak kapan jihad melahirkan arogansi seperti ini?

Semoga Allah membimbing kita kepada jalan yang diridhai-Nya.

Demikian,

Afwan.

Komentar oleh Da’i — Februari 28, 2010 @ 3:36 pm

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like