Diskusi Antara Seorang Mantan Napiter dengan Seorang Ustadz (1)

Arif Budi Setyawan
Arif Budi Setyawan
5 Min Read

Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan seorang kawan lama. Saya bertemu terakhir dengannya adalah di tahun 2005, di mana pada waktu itu kami masih sama-sama sebagai aktivis pengajian dan statusnya masih sebagai binaan para ustadz JI (Jamaah Islamiyah) sama dengan saya.

Pada pertemuan yang terakhir itu dia telah menjadi salah satu ustadz pembina beberapa komunitas yang sudah cukup terkenal di kotanya. Saya kaget begitu tahu dia sudah jadi sedemikian masyhur di kalangan aktivis kajian keislaman. Dan dia pun kaget begitu tahu saya pernah dipenjara karena kasus terorisme.

Kedatangan saya menemuinya selain untuk silaturahmi, saya juga ingin berdiskusi dan melakukan test bagaimana reaksi atau sikap orang-orang seperti dirinya kepada mantan napiter seperti saya. Sebelum diskusi saya menyampaikan bahwa saya pernah menjadi klien pendampingan dari LSM (YPP) dan alasan mengapa saya mau menjadi klien pendampingan dari YPP, yaitu karena tidak ada komunitas yang bisa menerima saya untuk kembali berkarya untuk umat.

Kami pun sepakat untuk mulai diskusi seputar dinamika perkembangan dakwah, khususnya di kalangan JI. Beliau tampak bersemangat untuk berdiskusi setelah saya bertanya apa saja dampak yang dirasakan oleh JI dengan adanya fitnah terorisme dan radikalisme terutama pasca kemunculan para ‘jihadis takfiri’, dan apa yang dilakukan oleh JI untuk menanggulanginya.

Saya juga menyampaikan sebagai orang yang pernah punya andil merusak tatanan yang dibuat oleh JI, ingin tahu seberapa jauh dampaknya dan apa yang dilakukan oleh JI untuk menanggulanginya, karena saya ingin ikut andil dalam menanggulangi dan memperbaiki kerusakan yang ada sebagai bentuk taubat saya.

Dia kemudian memulai diskusi dengan bercerita tentang bagaimana dirinya dan teman-temannya yang merupakan aktivis dakwah sosial sempat beberapa kali bersinggungan dengan orang-orang dari kelompok jihadis lapangan.

Ada dua cerita yang ia sebutkan untuk mengawali diskusi, dan cerita itu dia anggap sudah mewakili cerita-cerita serupa di tempat lain.

Pertama :

Ketika ada orang yang datang membawa kabar bahwa ada pelatihan militer di Poso yang sudah punya basis yang bagus di hutan/gunung dan menawarkan untuk ikut andil dalam pendanaan atau mengirimkan personel untuk ikut pelatihan di sana.

Sebagai orang dakwah yang bergerak di permukaan, tentu saja ia dan teman-temannya harus berhati-hati bersinggungan dengan gerakan yang seharusnya bersifat klandestin. Orang yang datang itu tidak diketahui asal-usulnya yang jelas, maksudnya harus ada ‘sanad’ dan track record yang bisa diketahui. Tiba-tiba datang membawa berita ‘rahasia’ dan meminta bantuan dana atau untuk ikut terlibat dalam kegiatan rahasia itu.

Hal itu menurutnya adalah sebuah tindakan yang sembrono bagi sebuah gerakan klandestin. Dengan mudahnya mendatangi orang yang sebelumnya belum dikenal dengan baik dan menawarkan kerjasama untuk kegiatan klandestin yang beresiko tinggi. Ini menunjukkan kualitas orang-orang yang terlibat dalam kegiatan tsb yang rawan terbongkar dan sangat berpeluang untuk gagal.

Tentu saja dirinya dan orang-orang seperti dirinya akan menolak dan menasehati. Tapi kemudian dirinya dan orang-orang seperti dirinya dianggap sebagai orang yang hanya duduk-duduk, mujahid mimbar, penggembos jihad, diragukan perjuangannya, dst…dst oleh orang itu.

Itulah dilemanya. Tetapi dia yakin dan tetap teguh dengan jalan yang diambilnya. Dakwah dan sistem yang sedang dibangun tidak boleh goyah oleh gangguan seperti itu. Biar saja mereka mencela, mencaci, dsb. Dakwah harus tetap jalan, karena perjuangan ini masih panjang sehingga itu menjadi prioritas pertama untuk kondisi seperti saat ini.

Saya menanggapi cerita itu dengan menyampaikan refleksi saya tekait hal tsb. Ketika kami meminta dana kepada ummat dan ummat menolaknya dengan berbagai alasan, itu sebenarnya menunjukkan bahwa ummat belum membutuhkan jihad. Dan seharusnya kami hanya perlu menghentikan proyek itu, bukannya malah mencela orang-orang yang menolak membantu kami dan melanjutkan proyek itu dengan mencari ‘jalur alternatif’ pendanaan melalui perampokan atas nama fa’i dan sejenisnya.

Dia membenarkan refleksi saya itu dan memujinya.

(Bersambung)

Source Image : https://jagad.id/

Share this Article
Posted by Arif Budi Setyawan
Follow:
Observing and Inspiring
Leave a comment