Khilafah

Sengkarut Jama’ah dalam Isu Khilafah Islamiyah

By

Deklarasi Khilafah Islamiyah dengan mengangkat Abu Bakar Al Baghdady sebagai Amirul Mukminin, berhasil menciptakan euforia bagi kalangan jihadis di dalam negeri. Hadirnya Khilafah Islamiyah, seolah berhasil mengobati rasa rindu yang selama ini terkungkung dalam sistem sekuler bernama demokrasi.

Mereka yang telah lama merindukan khilafah, kini mulai banyak berbicara tentang bagaimana situasi terkini di Suriah dan realita yang ada disana.

Di berbagai forum kajian agama, Khilafah Islamiyah menjadi isu yang cukup banyak untuk didiskusikan. Ironisnya, pemerintah Indonesia sendiri seolah menutup mata dengan fenomena ini.

Sampai suatu ketika, saat Aman Abdurrahman yang didaulat menjadi Amir bagi kelompok ISIS di Indonesia, menyerukan kepada seluruh anggotanya untuk menyatakan sumpah setia kepada Amirul Mukminin, Abu Bakar Al Baghdady, dan menyambut seruan hijrah ke Suriah.

Kondisi ini pun semakin pelik, ketika Abu Bakar Ba’asyir (ABB) yang selama ini menjadi tokoh sentral jihadis di Indonesia, memberikan pernyataan bai’at kepada Abu Bakar Al Baghdady. Menariknya, seluruh rangkaian peristiwa tersebut terjadi dari balik penjara yang konon paling ketat di Indonesia, Lapas Nusa Kambangan, Cilacap.

Pernyataan bai’at ABB terhadap ISIS, rupanya berhasil menciptakan jurang yang dalam bagi organisasi yang dipimpinnya, Jama’ah Anshorut Tauhid (JAT).

Kelompok JAT yang selama ini menjadi perpanjangan lidah ABB, mendadak mencabut semua simpati kepada pimpinannya. Karisma ABB seolah lenyap seiring berkembangnya kelompok ISIS di Indonesia dan mulai banyaknya anggota kelompok yang menyambut seruan hijrah ke Suriah.

Jerih payah JAT seolah dikhianati ABB. Kelompok ini pun lantas berpecah menjadi dua kubu, kelompok Muhammad Achwanu dan loyalis ABB.

Kelompok JAT yang merasa kecewa dengan sikap ABB ini, memberikan pernyataan mundur dari organisasi. Sementara mereka yang mendukung langkah ABB tetap setia di lingkarannya, termasuk Nanang Ainur Rafiq jubir JAT, yang kini berada di Suriah dan telah tewas disana.

Beberapa tokoh penting dalam tubuh JAT yang memilih mundur diantaranya Muhammad Achwanu  alias Ustad Achwan, Fuad Al Hazimi, dan Abu Tholut.

ABB sudah ditinggalkan para loyalisnya, bahkan anaknya pun, Abdurrahim Ba’asyir, terpaksa terlontar keluar dan membentuk ikatan baru dari serpihan-serpihan yang terbuang dan membentuk kelompok bernama Jama’ah Anshorus Syari’ah (JAS) dengan menempatkan Muhammad Achwanu di pucuk  kepemimpinan organisasi.

Pasca runtuhnya JAT dengan keluarnya tokoh-tokoh seperti disebutkan di atas, JAS lalu menjelma sebagai sosok yang aktif mencounter isu-isu tentang ISIS.

Jika Aman Abdurrahman dan ABB membuat propaganda tentang kebenaran panji khilafah ala ISIS, maka JAS hadir di garda depan sebagai kelompok yang justru berani membongkar kebobrokan dan dusta ISIS di Suriah yang selama ini digaungkan oleh Aman dan kelompoknya.

Perdebatan sengit dengan menghadirkan dua kelompok yang berseberangan pun kerap diadakan di beberapa wilayah di Jakarta dan sekitarnya.

Sementara itu, ISIS memandang bahwa kelompok yang menolak keabsahan Khilafah Islamiyah versi mereka seperti halnya JAS sebagai orang-orang murtad dan halal untuk dibunuh.

Pertikaian antar kelompok ini tentu saja menarik banyak kalangan untuk tahu lebih dalam tentang siapa mereka dan apa tujuannya, sebab masing-masing kelompok cukup getol berjualan isu khilafah.

Hingga saat ini, drama tentang Khilafah Islamiyah seperti ini tak juga kunjung usai. Faktanya, meski pemerintah menyatakan sikap perang dengan kelompok ISIS, bahkan di Suriah sendiri harus terlunuta-lunta. Namun tak bisa dipungkiri bahwa persebaran pemahaman ini tetap menjamur dimana-mana.

Dan tentu saja, persoalan tentang terorisme yang terjadi di Indonesia tentu tidak bisa dilihat pada aspek teologis semata. Memahami pola perekrutan jaringan serta motivasi yang mendorong individu untuk terlibat dalam bagian kelompok juga menjadi basis yang cukup penting untuk menjelaskan fenomena ini kepada publik secara luas. Hal ini perlu dilakukan agar publik tidak terjebak pada stigma negatif yang lahir melalui framming media.

 

Link foto: https://jakartaglobe.id/context/indonesian-islamic-state-financier-jailed/

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like