Teroris Pintar Dalam Dokumen Sejarah

By

Dalam sejarah terorisme modern, banyak literatur mencatat kiprah Emile Henry dan si Unabomber, Ted Kacynski. Mereka adalah dua orang yang cemerlang dari sisi intelektual, namun justru dihukum karena melakukan tindakan terorisme.

Emile Henry adalah pria Prancis yang meledakkan sebuah bom di tengah kerumunan orang di Café Terminus, Paris Perancis pada 12 Februari 1894. Hasil ledakannya membuat 1 orang meninggal dan 20 lainnya terluka. Bom tersebut bukan yang pertama. Sebelumnya dia sempat meledakan sebuah kantor pertambangan dan menewaskan 5 orang lalu seperti tidak terjadi apa apa, dia kembali ke tempat kerjanya.

Ledakan bom itu adalah simbol protes Emile terhadap kaum borjuis yang tidak pernah memperhatikan kesengsaraan di sekitar mereka, namun hanya tenggelam pada pesta dan kekayaan saja. Menariknya, Emile sendiri adalah bagian dari kaum borjouis atau kaum elit itu. Dia bukan orang bodoh dan tidak terpelajar, sehingga mudah dipengarhui. Pria yang lahir dari keluarga kelas menengah ini justru pernah merasakan sekolah terbaik di Paris. Dia mendapatkan posisi karena bibinya yang kaya.

Meskipun demikian, ketidakadilan sudah bagian dari proses hidup Emile. Ayahnya adalah seorang kelas menengah yang melarikan diri dari statusnya untuk bergabung bersama gerakan revolusi Perancis. Menghindari hukuman mati, sang ayah melarikan diri ke Barcelona, Spanyol. Disanalah Emile Henry pertama kali melihat dunia.

Masa kecilnya diisi dengan tekanan pemerintah terhadap ayahnya. Menyita seluruh hartanya dan memaksa ayahnya untuk bekerja di sebuah tambang yang membuatnya keracunan bahan kimia. Saat itu, Emile baru berusia 10 tahun.

Ibunya lah yang kemudian merelakan Emile untuk diasuh oleh bibinya yang kaya raya. Karena itulah, dia berhasil mendapatkan tempat di sekolah terbaik di Perancis. Banyak dokumen mencatat, bahwa dalam Pendidikan, Emile sangat berhasil. Dia lulus sebagai seorang Insinyur.

Meskipun berada di lingkungan borjuis bibinya, Emile justru semakin memupuk dendam. Dia justru merasakan ketidakadilan itu. Orang-orang di kelas bawah harus ditekan sedemikian rupa untuk bekerja demi memupuk kekayaan kaum borjuis.

Berbeda dengan Emile Henry, Ted Kacynski justru adalah seseorang dengan gelar doctor di bidang matematika yang melakukan teror bom selama sekitar 17 tahun di Amerika Serikat. Dalam kiprahnya, dia dijuluki sebagai Unabomber karena merujuk pada target bomnya, yaitu universitas dan maskapai penerbangan (Unabomb – university and airline bomb).

Ted sangat sukses di dunia Pendidikan. Pada umur 16 tahun, dia berhasil mendapatkan beasiswa di Universitas Harvard. Setelah lulus dari universitas terpandang itu di tahun 1962, dia melanjutkan Pendidikan Master dan Doktoratnya di Universitas Michigan pada tahun 1964 dan 1967. Mendapatkan gelar Doktor, Ted tercatat sebagai Associate Profesor termuda yang pernah ada di Universitas California di Berkeley. Ketika itu, dia baru berusia 25 tahun.

Ted memulai seri terornya pada tahun 1978. Sesuai dengan julukannya, dia mengirimkan paket bom melalui jasa pengiriman surat ke universitas. Universitas Northwestern adalah target pertamanya. Salah satu bomnya sempat meledak di pesawat dalam proses pengiriman. Dia juga sempat membuat Presiden United Airlines, Percy Wood, terluka parah karena kiriman bomnya.

Dalam karirnya sebagai Unabomber, dia sudah melakukan 14 serangan yang menggunakan 16 bom. Serangan terakhirnya terjadi di tahun 1995 yang menyebabkan kematian pelobi ulung di industry kayu, Gilbert Murray.

Berseri-seri bom yang dikirimkan Ted ke berbagai target selam 17 tahun itu didasarkan pada kekecewaannya terhadap revolusi industri dan kemajuan teknologi yang merenggut kebebasan manusia. Ted berhasil ditangkap karena tulisannya sendiri.

Berkaca pada dua kisah teroris ini, kita belajar bahwa tidak ada satu factor penentu yang membuat orang mampu dan mau melakukan tindakan terorisme. Bahkan, John Horgan, seorang Profesor Psikologi mengatakan bahwa melakukan profiling terhadap teroris justru akan berujung pada kegagalan. Karena fackor penentu di satu orang, tidak berlaku di orang yang lain.

Faktor ekonomi, faktor pendidikan, faktor psikologi, dan faktor-faktor yang lain itu saling bertautan. Sebab, seseorang menjadi teroris adalah sebuah proses. Memahami proses itulah yang memungkinkan kita untuk menemukan solusi terhadap permasalahan terorisme ini.

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like