SIAPAKAH YANG RENTAN TERPENGARUH RADIKALISASI ONLINE ? (5)

Energi kekhawatiran dari keluarga dan masyarakat itu seharusnya diubah menjadi dorongan bagi para ustadz, ulama, dan da’i yang ada di masyarakat untuk lebih aktif dan meningkatkan kapasitas dakwahnya.

By

Selanjutnya adalah kelompok kedua, yaitu orang-orang yang termasuk kelompok pemuda / orang yang bersemangat tapi bodoh. Siapa sajakah mereka ? Bagaimana kronologi prosesnya sehingga mereka bisa sangat berpeluang untuk terpengaruh pemahaman radikal ?

Kelompok pemuda/orang yang bersemangat tapi bodoh ini setidaknya ada dua golongan, yaitu :

  1. Para pelaku ‘hijrah’ di fase awal, dan

  2. Aktivis gerakan Islam yang tidak sabar dan kecewa dengan metode atau jalan perjuangan yang ditempuh kelompoknya

Mengapa para pelaku ‘hijrah’ di fase awal itu rentan terpengaruh oleh pemahaman radikal ?

Ada tiga faktor yang membuat mereka rentan terpengaruh pemahaman radikal.

  1. Mereka baru saja belajar tentang Islam sehingga mereka cenderung akan menerima semua ajaran Islam yang didapat dari orang-orang di sekitarnya (termasuk dari online).

  2. Memiliki latar belakang yang beragam (pendidikan, pengalaman hidup, lingkungan, dosa-dosa di masa lalu, titik balik perubahan, guru/orang yang berperan dalam menjemput hidayah, dst)

  3. Semangat yang menggebu-gebu dalam menjalankan ajaran agama karena terdorong rasa bersalah di masa lalu dan ingin sesegera mungkin menebus kesalahan itu.

Ketiga hal di atas bisa menjadikan seseorang memiliki pemahaman yang menyimpang jika dirinya tidak memiliki sosok guru yang lurus dan ikhlas yang menjadi pembimbingnya, karena ia akan memahami semua apa yang ia dapatkan berdasarkan kadar akal dan pengetahuannya sendiri yang tentu saja masih sangat minim.

Di sinilah dibutuhkan para ulama, ustadz, dan da’i yang lurus dan ikhlas. Lurus dalam kematangan ilmu dan pemahaman, serta ikhlas dalam mendidik dan membimbing.

Teman-teman saya yang jadi radikal secara instan itu rata-rata adalah orang yang ingin belajar Islam tetapi mendapatkan ustadz (baik secara offline maupun online) yang berpemahaman radikal dan tidak ikhlas dalam mendidik. Lho kok tidak ikhlas ? Tahu dari mana ? Secara batinnya memanglah tidak tahu, tapi secara lahiriyah saya ingin mengajak Anda untuk menilainya sendiri.

Saya bertanya pada Anda. Jika ada sekelompok orang yang sedari awal ingin membentuk sebuah kelompok perlawanan atau ingin mendapatkan pendukung sebanyak-banyaknya agar mudah dalam memperoleh dukungan finansial, lalu hanya mengajarkan tauhid dalam arti yang sangat sempit (baiat kepada pemimpin ISIS dan memerangi thaghut dalam berbagai bentuk/tingkatan) dan cukup berputar-putar di situ saja tanpa ada pembinaan agar menciptakan pekerjaan yang mandiri dan bebas dari riba misalnya, apakah mereka ini benar-benar ikhlas menginginkan kemajuan Islam dan kaum muslimin?

Bukankah yang demikian ini adalah memperjuangkan kelompok diri sendiri saja ? Yang penting sudah ‘bertauhid’, yang penting sudah berbaiat, dst. Tak peduli umat Islam masih menderita, atau malah menderita karena ulahnya, masih bodoh, dst.

*******

Akhir-akhir ini banyak orang yang resah terhadap maraknya orang-orang yang menjalani proses ‘hijrah’ yang sebagiannya ada yang cenderung eksklusif. Sebagai masyarakat awam dan keluarga terdekat ada yang kemudian khawatir mereka akan jadi radikal, dan itu wajar sebagai bentuk kewaspadaan.

Tetapi seharusnya yang paling ’wajib’ untuk khawatir adalah para ustadz dan da’i yang ada di tengah masyarakat. Karena merekalah yang paling berkewajiban untuk mendidik dan membimbing umat.

Merekalah yang menjadi tumpuan harapan dari masyarakat dan keluarga terdekat dari orang-orang yang ‘hijrah’ itu. Masyarakat dan keluarga dari orang-orang yang ‘hijrah’ itu wajar jika mereka khawatir bila orang yang hijrah itu terpapar pemahaman radikal. Tetapi mereka tidak tahu bagaimana cara mencegah atau mengatasinya.

Energi kekhawatiran dari keluarga dan masyarakat itu seharusnya diubah menjadi dorongan bagi para ustadz, ulama, dan da’i yang ada di masyarakat untuk lebih aktif dan meningkatkan kapasitas dakwahnya.

Jangan hanya khawatir, cemas, dan was-was tetapi pada saat yang sama para ulama, ustadz, dan da’i justru stagnan pada dakwah atau pembinaan yang sedang dilakukannya.

Kepada para ulama’, ustadz, dan da’i, bertindaklah proaktif mendatangi orang-orang yang sedang dalam proses ‘hijrah’ itu dan membimbing mereka.Mereka butuh bimbingan dan arahan dari Anda serta dukungan dari masyarakat.

Ingat, mengabaikan mereka adalah kesalahan kita. Sedangkan mendapatkan guru dan komunitas yang ‘salah’ adalah kesalahan mereka. Tetapi jika mereka kemudian mendapatkan guru dan komunitas yang salah karena pengabaian kita, maka sedikit atau banyak, diakui atau tidak, kita punya andil dalam membuat mereka ‘tersesat’.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like