Besok Lagi, Bukbernya di Grup WA Aja Ya! 

By

Bulan Ramadan identik dengan buka bersama atau bukber. Ini adalah salah satu moment yang bisa jadi sangat ditunggu, bisa jadi sebaliknya. Hahaha.

Bukber itu identik dengan kebersamaan. Wong namanya aja buka bersama, jadi sama-sama bergembira bersama kawan, sohib, partner, sindikat atau apalah, menyambut bedug Magrib.

Tapi, sekarang-sekarang ini, beberapa bukber agaknya jadi sedikit menggemaskan (untuk menghindari diksi: menyebalkan hehe).

Tak lain dan tak bukan adalah, sepertinya moment bukber jadi kehilangan arti. Adalaaah; ketika para peserta bukber disibukkan dengan gawainya masing-masing.

Mulai dari update status (sekaligus ‘mengupdate’ status marital, ekonomi atau status sosial), bikin IG story, foto cekrak-cekrek, sampai power bank ikut-ikutan habis baterainya.

Pokoknya, serasa jadi para individualis yang sedang rame-rame nongkrong. Raganya sih deketan, tapi pikirannya sendiri-sendiri, sibuk sendiri-sendiri dengan gawainya.

Kalau sudah begini, rasa-rasanya ini adalah momentum yang menyebalkan. Momentum bukber yang pesertanya sibuk dengan gawainya masing-masing, jadi malah “menjauhkan yang dekat”.

Moment bukber seperti ini juga sempat disindir kawan saya. Dia kira-kira menulis begini: “Bukber Ramadan, foto-foto, lalu sibuk dengan HP masing-masing, kemudian bubar. Kemudian fotonya diupload di medsos dikasih caption: indahnya kebersamaan” kebersamaan apanya cobaaa hahaha.

Ramadan taun lalu, seorang kawan wartawan yang pandai membuat video juga sempat merekam aktivitas bukbernya. Yang terlihat hanyalah; sedikit tertawa (sendiri-sendiri) dan tentu saja, semua sibuk dengan gawainya masing-masing. (kawan saya lalu menuliskan: besok lagi bukbernya di medsos aja ya, dibikin grup, dikirim foto makanan masing-masing, selamaat berbukaa!)

Ahhh, moment macam apa ini, kalau kumpul-kumpul tapi tidak ada kedekatan hati, tidak ada saling cerita antarkawan.

Padahal, percayalah, apapun tentang kawan itu terkadang selalu membuat rindu. Entah itu celetukan khasnya, gaya bicara, suaranya, ekspresi ketika bercerita, atau apalah. Intinya itu tentang teman-teman kita.

Sayang banget kalau moment seperti itu dilewatkan cuma gara-gara sibuk dengan media sosial masing-masing.

 

Sumber gambar:

https://i.pinimg.com/originals/0a/3f/f4/0a3ff4ca2daf42153488f5660827d4ae.jpg

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like