Last Men in Aleppo

Kharis Hadirin
Kharis Hadirin
4 Min Read

Di tengah puasa seperti saat ini, lapar dan haus adalah hal biasa. Terlebih ketika memasuki  waktu pertengahan, saat matahari sedang terik-teriknya, sementara berbagai aktivitas kerja menuntut segera untuk diselesaikan secepatnya.

Kondisi demikian, tak jarang menjadi godaan paling berat bagi mereka yang sedang melaksanakannya. Minum atau sekedar mencicipi makanan tentu tak mungkin. Apalagi menunggu waktu Maghrib tiba, tentu sangat suntuk.

Biasanya, kondisi demikian banyak dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk melakukan aktivitas lain demi mengurai kejenuhan sambil menghabiskan waktu hingga menjelang petang. Salah satunya yakni dengan nonton film.

Nah, bagi kalian yang sering menghabiskan waktu dengan menonton film. Barangkali film berikut bisa menjadi alternatif pilihan yang bisa dinikmati baik sendiri, bersama rekan kantor, atau dengan keluarga di rumah.

Adalah film berjudul Last Men in Aleppo. Ini merupakan film dokumenter dengan durasi sekitar 1 jam 50 menit.

Last Men in Aleppo merupakan film yang menggambarkan tentang perang sipil yang terjadi di Suriah dan sudah memakan ratusan ribu korban jiwa.

Dalam film dokumenter ini diceritakan adanya sekelompok orang yang terlibat organisasi kemanusiaan bernama White Helmets yang berjibaku menolong orang-orang yang menjadi korban perang baik yang masih hidup maupun meninggal dunia.

Aleppo, merupakan kota terbesar di Suriah dan paling bersejarah. Kota ini menjadi saksi hidup atas perubahan peradaban dari masa ke masa. Tak hanya menyimpan berbagai tempat paling bersejarah, Aleppo juga menjadi salah satu kota terkuno di dunia yang mampu bertahan sekian ribu tahun lamanya, jauh sebelum bangsa Fir’aun berkuasa. Tak mengherankan, jika Aleppo menjadi salah satu destinasi wisata sejarah bagi dunia internasional selain Mesir dan Jordania.

Sayang, menjelang pertengahan tahun 2011, negara Suriah dihantam perang sipil yang memaksa jutaan rakyatnya untuk mengungsi ke berbagai negara. Tak terkecuali Aleppo, kota yang pernah mendapatkan penghargaan sebagai ‘Islamic Capital of Culture 2006’ ini, runtuh menjadi puing-puing.

Kota ini pun kemudian ditinggalkan oleh sebagian besar penduduknya untuk menghindari perang, mengungsi ke tempat-tempat aman.

Di tengah kondisi kritis seperti ini, dimana pesawat dan helikopter lalu lalang di langit Aleppo dengan memuntahkan rudal atau bom yang menyasar masyarakat sipil, rupanya masih ada  segelintir orang yang mau menggadaikan nyawanya untuk membantu antar sesama manusia.

Tak jarang kendaraan mereka menjadi sasaran para sniper atau muntahan bom ketika sedang melakukan proses evakuasi di tengah reruntuhan bangunan gedung.

Meski harus meninggalkan anak istrinya dan bertaruh nyawa, namun tak jarang mereka mendapatkan berbagai tudingan miring dari beberapa kalangan lain. Terlebih pada organisasi (White Helmets) tempat dimana mereka bernaung yang pernah ramai oleh isu manipulasi data.

Terlepas hal miring yang berkembang terkait Whiite Helmets, organisasi ini berhasil menyelamatkan lebih dari 114 ribu jiwa. Bahkan lebih dari 200 anggotanya gugur selama konflik ini berlangsung, termasuk beberapa tokoh yang ikut berperan dalam film ini.

Meski para pemeran dalam film ini berakhir tragis, namun Feras Fayyad, sang sutradara selaku produser film berhasil menyajikannya dengan apik dan penuh haru.

Film ini sendiri meraih penghargaan World Documentary Grand Jury Prize dalam ajang 2017 Sundance Film Festival pada 2017 di Utah, Amerika Serikat dan berhasil masuk dalam nominasi sebagai film dokumenter terbaik dalam ajang 90th Academy Awards.

Last Men in Aleppo, tak sekedar film dokumenter yang bercerita tentang kehancuran akibat peperangan. Melainkan juga tentang sebuah perjuangan seorang ayah yang rela meninggalkan istri dan anak-anaknya demi membantu orang lain yang menjadi korban keganasan perang.

Dan tentu, melalui film ini barangkali bisa menyadarkan kita tentang betapa menggerikannya peperangan. Tak ada lagi batas atau sekat-sekat kemanusiaan, semua bertumpu pada kawan atau lawan. Maka patutlah kita bersyukur masih tinggal di negara yang aman, dan semoga selalu terhindar dari berbagai peperangan.

 

Link foto: https://cdocff.com.au/program/last-men-in-aleppo/

Share this Article
Leave a comment