Festival Jihad Nusantara

By

Sepekan sudah sejak peristiwa serangan bom bunuh diri terjadi di Sri Lanka yang memakan hampir 350-an jiwa. Hingga kini, dunia masih berkabung atas tragedi memilukan yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Meski demikian, hal ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Terlebih melihat kenyataan bahwa insiden ini merupakan bagian dari agenda gelap jaringan internasional yang mendompleng kebesaran nama Islam untuk berbuat onar.

ISIS, organisasi yang berbasis di Suriah muncul sebagai ancaman baru bagi warga dunia yang tadinya diklaim oleh pemerintah lokal telah ‘binasa’.

Organisasi yang dianggap telah punah ini bertranformasi pada kelompok lokal untuk melakukan aksi di tengah masyarakat saat tengah berbondong-bondong merayakan hari besar Paskah.

Orang-orang nampak berwajah ramah dan lemah lembut ini mendadak menjadi monster yang tak lagi mengenal batas kemanusiaan dan sikap welas asih pada sesama. Bagi mereka, siapa pun yang dianggap berbeda layak untu dimusnahkan tanpa peduli status gender, usia, ras dan keyakinannya.

Sementara dalam kondisi yang sama, mereka adalah ayah bagi anak-anak dan kepala rumah tangga bagi keluarganya. Tentunya ada anak-anak dan istri yang menjadi tanggung jawabnya.

Kenyataannya, kondisi ini tak jauh berbeda nasib atas apa yang menimpa bangsa kita selama hampir dua dekade ini. Bermula dari rentetan ledakan yang menyasar pada belasan gereja pada malam natal tahun 2000. Lalu bom Bali pada dua tahun setelahnya yang juga banyak menelan korban jiwa.

Apakah nasib tragis yang mencederai prinsip kebhinnekaan berhenti sampai disini? Kenyataannya tidaklah demikian.

Meski pemerintah Indonesia sudah bersusah payah menghalau laju gerakan teror dengan pembentukan satgas anti teror, Densus 88. Realitas yang ada, jaringan ini justru semakin berkembang dengan beragam rupa.

Jika dulu, muncul nama Jama’ah Islamiyah (JI) sebagai organisasi sayap kanan yang gemar melakukan aksi teror. Sekarang, JI justru bukanlah aktor tunggal dan satu-satunya kontestan di atas panggung. Belakangan, muncul nama-nama baru sebagai kompetitor yang turut meramaikan ‘festival jihad’ di bumi pertiwi. Umumnya, para kompetitor jihad ini lahir dengan berbagai agenda yang variatif.

Misalkan JI, muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap hegemoni kekuatan global yang mencengkeram hak-hak umat Islam. Kekuatan global selalu diasumsikan oleh negara-negara Barat. Maka muncullah bom Bali jilid 1 & 2, bom Kedubes Australia, bom Hotel JW Marriot dan Ritz-Carlton Jakarta.

Kelompok Abu Umar, muncul sebagai representasi atas pembelaan terhadap Muslim Rohingnya di Myanmar. Mereka menyerang simbol-simbol keagamaan tertentu yang dianggap turut berperan dalam konflik sektarian yang terjadi negara tersebut. Bahkan kantor Kedubes Myanmar pun pernah menjadi target serangan kelompok ini.

Lalu ada kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso pimpinan Santoso alias Abu Wardah. Kelompok ini, secara spesifik memilih Polri sebagai musuh bebuyutan. Hal ini lebih didasari sebagai bentuk perlawanan dan pembelaan atas anggotanya yang tertangkap atau ditembak mati dalam berbagai aksi teror.

Beberapa kali kelompok ini juga mencoba melakukan aksi serangan yang menargetkan markas-markas kepolisian atau anggota personil yang mereka jumpai. Puncak serangan kelompok ini ketika mereka berusaha melakukan aksi serangan di Mapolres Poso melalui operasi bom bunuh diri. Belakangan, pasca serangan diketahui jika pelakunya adalah warga Lamongan, Jawa Timur.

Hal ini sekilas bisa dibaca, jika orang-orang yang terlibat dalam jaringan kelompok radikal di Poso bukan saja berasal dari warga setempat, namun juga terdapat persinggungan antar wilayah. Kasus ini juga mengindikasikan bahwa kelompok ini secara aktif menjadikan anggota kepolisian sebagai musuh bersama, tak terkecuali di wilayah Poso.

Dan yang terkini adalah kelompok ISIS. Kelompok ini membentuk jaringan baru bernama Jama’ah Anshorud Daulah (JAD), kelompok lintas tandzim yang menyatakan sikap dukungan terhadap Abu Bakar Al-Baghdady, selaku amir tertinggi kelompok ISIS yang berpusat di Suriah.

Awalnya, kelompok ini tidak terlalu banyak turut campur dalam dinamika politik di tanah air. Sebab mereka lebih difokuskan untuk melakukan perjalanan massal menuju Suriah untuk berhijrah pasca munculnya deklarasi Daulah Islamiyah oleh Abu Bakar Al-Baghady. Sejak itu, banyak dari kalangan kelompok konservatif yang terafiliasi pada paham Takfiri ini mulai bermigrasi ke Suriah.

Namun kelompok ini mulai terlibat dalam berbagai aksi teror ketika pemerintah Indonesia melarang berbagai aktivitas yang dilakukan oleh para simpatisan ISIS ini. Termasuk menutup semua akses menuju Suriah. Tak sedikit dari para WNI yang ditangkap, baik oleh pemerintah Indonesia maupun negara-negara luar. Mereka yang tertangkap umumnya saat berada di bandara atau ketika berada di perbatasan saat akan menuju ke Suriah.

Kelompok yang kecewa ini kemudian membentuk sel baru bernama Jama’ah Anshorud Daulah (JAD). Semenjak itu, mereka mulai ‘rajin’ melakukan berbagai aksi teror yang menyerang fasilitas publik atau instansi pemerintah. Salah satu yang paling banyak menyedot perhatian publik adalah ketika kelompok ini menyerang jantung ibu kota, tepatnya di kawasan Sarinah, Thamrin, Jakarta pada Januari 2016 lalu.

Pasca peristiwa tersebut, muncul gerakan massa melalui digital #kamitidaktakut yang kemudian menjadi trending di berbagai media. Bahkan beberapa petinggi negara asing memberikan apreasi atas sikap berani yang muncul dari kalangan akar rumput ini.

Indonesia memang termasuk salah satu negara langganan aksi teror. Cukup wajar, melihat keberagaman dalam ekspresi beragama begitu tinggi.

Meski demikian, lantas tak menjadikan kita kehilangan nalar dan mengorbankan saudara sebangsa sendiri demi ego semata berbalut agama. Damailah selalu ibu pertiwi.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like