Penampilan dan Perilaku : Sebuah Titik Awal Ketertarikan (2)

Flowering Country Flowering Country (just a joke, hehehe) atau negara yang sedang berkembang seperti Indonesia yang sedang dimabuk berbagai kemudahan di era digital menjadi sasaran empuk berbagai propaganda budaya dan pemikiran, termasuk pemikiran radikal.

By

Di zaman yang serba digital ini seseorang bisa dengan mudah membangun brand atau image tentang dirinya dan kelompoknya melalui berbagai cara. Tapi intinya hanya melalui dua cara saja yang kemudian dikreasikan dan dipersonalisasi sedemikian rupa oleh para pelakunya, yaitu melalui visualisasi dan narasi.

Visualisasi dan narasi yang disebarkan dengan masif melalui siaran TV, film, radio, dan media sosial, sangat ampuh mempengaruhi persepsi seseorang.

Mari kita ambil beberapa contoh dari fenomena di sekitar kita.

Masifnya tayangan drama Korea yang sarat muatan propaganda budaya dan pariwisata Korea, termasuk musiknya, makanannya, gaya fashion-nya, sampai pada gaya pacaran yang menurut sebagian besar pengemarnya sangat romantis, telah menampakkan dampak sosial ekonomi yang luar biasa di negeri kita ini.

Lihatlah video Girlband Black Pink yang bisa tembus 100 juta view dalam 24 jam saja. Atau lihatlah pertumbuhan jumlah gerai kedai yang menjual makanan Korea dan pertumbuhan pengunjungnya yang semakin meningkat dari tahun ke tahun di Indonesia. Atau lihatlah gaya dandanan dan pakaian anak muda kita yang banyak meniru para artis Korea seperti dalam drama favorit mereka.

Mengapa itu bisa terjadi ?

Karena di dalam benak mereka K-Pop dengan segala turunannya adalah sangat keren untuk ditiru atau diikuti. Mengapa bisa dianggap keren dan mengapa baru sekarang dianggap keren ?

Karena masifnya visualisasi dan narasi yang bisa dengan mudah mereka akses. Coba misalnya di sini internet masih menjadi barang yang mahal, atau siaran TV sangat terbatas, yakinlah tidak akan sebesar itu pengaruhnya.

Atau misalnya hal ini disebarkan di negara-negara yang sedang dilanda konflik bersenjata yang berkepanjangan, pasti tidak laku karena orang-orangnya sedang mati-matian mencari cara untuk bertahan hidup.

Orang-orang yang baru mengenal dunia yang telah terhubung dengan internet akan sangat kepo terhadap apa yang terjadi di belahan bumi yang lain, termasuk apa yang sedang menjadi tren di dunia saat ini.

Tiba-tiba mereka jadi punya anggapan bahwa jika bisa mengikuti tren yang sedang terjadi di seluruh dunia mereka akan terlihat keren dan modern. Tidak lagi kudet seperti sebelumnya.

Yang tadinya hanya tahu sawah, ladang, hewan ternak, dan kehidupan di desa, tiba-tiba tahu bahwa Blackpink sedang digandrungi anak muda di seluruh dunia. Emak-emak yang tadinya hanya tahu urusan dapur dan sumur tiba-tiba tahu gosip selebriti dunia.

Masyarakat Indonesia yang selalu menyukai hal-hal yang baru membuat berbagai pihak melihat peluang bisnis atau peluang pasar yang sangat potensial. Yang perlu dilakukan hanya membombardir mereka dengan visualisasi dan narasi. Lambat laun sebuah budaya baru akan lahir dan pasar baru akan terbentuk.

Flowering Country (just a joke, hehehe) atau negara yang sedang berkembang  seperti Indonesia yang sedang dimabuk berbagai kemudahan di era digital menjadi sasaran empuk berbagai propaganda budaya dan pemikiran, termasuk pemikiran radikal.

Mengapa Flowering Country menjadi sasaran empuk ?

Karena masyarakatnya ingin maju atau terlihat maju tapi masih mencari tahu “kemajuan” yang seperti apa yang ingin mereka lakukan.

Para da’i pun masuk di ranah konstetasi itu. Mereka menawarkan konsep Islam sebagai tatanan nilai ideal yang harus dicapai. Tapi mereka ini masih kalah dalam hal membangun visualisasi dan narasi.

Visualisasi dan narasi terkuat mereka selain penjelasan dari nas-nas teologis hanyalah fakta historis tentang kejayaan Islam di masa lalu.

Meskipun begitu, maraknya fenomena hijrah dan ramianya pengajian-pengajian dan majelis taklim di berbagai kalangan menandakan mereka pun mulai mendapat tempat di masyarakat.

Kelompok seperti ISIS pun sangat sadar akan potensi dari masyarakat Flowering Country untuk menjadi pengikut mereka. Dan mereka melihat sebuah peluang yang jarang diperhatikan oleh para ‘kreator budaya’ yang berorientasi pada kemakmuran dunia dan status sosial.

Peluang itu ada pada orang-orang yang tertindas karena persoalan ekonomi, dan orang-orang yang memiliki semangat puritan yang tinggi yang anti terhadap produk budaya yang berasal dari luar Islam.

Kedua golongan ini adalah musuh bagi budaya yang hedonis materialistis yang sedang gencar-gencarnya disebarkan oleh para ‘kreator budaya’ itu. Dan kedua golongan inilah yang paling ingin ‘memberontak’ terhadap kondisi yang terjadi.

Masalahnya, mereka tidak tahu model ‘pemberontakan’ seperti apa yang paling bisa mempengaruhi dunia.

Di sinilah ISIS mulai memainkan perannya.

(Bersambung)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like