K.L.I.K dan “MELEDAK”

By

Judul di atas mengarah ke beberapa hal, ayo coba pikir, tentang apa? Asumsi awal bisa jadi langsung mengarah kepada aksi teror dengan bom atau melepas kunci granat nanas atau gambaran untuk sesuatu yang tidak bisa ditahan lagi dan harus segera diungkapkan lewat kata-kata. Yang namanya asumsi bisa A sampai Z penjelasannya, bisa beragam pemaknaannya, bisa eksplisit, bisa juga implisit, atau, sesuatu yang sedang tren beberapa tahun belakangan ini, paradox marketing.

Pemasaran paradoks, melawan tren lalu diharapkan bisa tercipta tren, begitu kira-kira padanannya menurut profesor di fakultas bahasa kalbu. Apa bagusnya jika berlawanan arah? Jangan-jangan, para pemotor yang suka sekali melawan arah dan merasa yang paling benar karena jumlahnya seperti pasir di laut, mempraktikkan teknik “pemasaran paradoks”. Sempat saya berpikir, bahwa pemasaran paradoks itu seperti “Oppressed Majority”, mayoritas yang terpinggirkan, berjumlah banyak, merasa ada yang membela jika melakukan kesalahan apapun, sah jika melawan aturan, tapi merasa sebagai “Minoritas”.

Dalam konteks ekonomi kreatif, ide tidak pernah salah, namun ide bisa jadi jadi tidak cocok untuk semua orang karena kurang tepat penempatannya. Pernah dengar “Rawon Setan”, “Es Pocong”, “Sate Kere”, atau “Kerupuk Melarat”? Apakah setelah makan atau minum akan menjadi setan, pocong, atau miskin? Tentu tidak. Di era kecanggihan internet, gabungan kata yang paradoks justru membuat penasaran, apalagi ditambah diseminasi pesan melalui media sosial, pengalaman adalah kuncinya, masuk dan merasakan ke dalam.

Apa kesamaan yang nampak pada individu yang bergabung dengan kelompok berpaham kekerasan dan pemasaran paradoks? Untuk mulai memahami, kita bisa melihat dari aspek penerimaan informasi sebagai bagian dari komunikasi, yaitu: menyerap, mengonsumsi, menunjukkan, dan memengaruhi. Secara sederhana bentuknya adalah: informasi diserap, kemudian informasi dikonsumsi, lalu hasil pengolahan informasi ditunjukkan lewat simbol-simbol, dan diharapkan diseminasi pesan mampu membuat banyak orang dipengaruhi.

Jika informasi yang diserap dan dikonsumsi adalah soal kelompok teroris maka hasil olahan informasi akan ditunjukkan dengan simbol-simbol yang berkaitan dengan kelompok teroris dan diharapkan hasil akhirnya bisa mempengaruhi sebanyak mungkin orang, setidaknya untuk menjadi simpatisan. Dalam kaitannya dengan bahasan kita kali ini, setidaknya kita bisa melihat bahwa, tidak harus menjadi simpatisan teroris, bahkan menjadi penyebar berita bohong atau pelintiran kebencian pun prosesnya akan sama, berada dalam “ruangan” yang sama, tidak bisa menghargai pendapat yang berbeda atau bisa jadi memaksakan kehendaknya demi merubah persepsi orang lain dengan cara-cara yang tidak cocok untuk semua orang.

Ada banyak hal yang menarik soal simbol-simbol yang coba dipertontonkan oleh simpatisan teroris, walaupun beberapa kali juga aparat keamanan menangkap orang yang menunjukkan simbol-simbol tersebut. Disini letak paradoksnya, semakin dilarang, semakin berkembang. Menarik menganalisa hal ini dengan mengutip soal pemasaran paradoks menurut Arief Yahya, mantan Direktur Utama Telkom, yang menekankan empat hal, yaitu: produk (product), harga (price), tempat (place), dan promosi (promotion).

Dari sisi produk, apa yang ditawarkan oleh kelompok teroris menarik secara kemasan, ada bendera, kaus, warna, dan desain. Harga yang ditawarkan relatif terjangkau dan tempat menjualnya pun sudah masuk toko online, seperti Firman Hidayat Silalahi yang sempat ditahan kepolisian karena memiliki atribut yang dianggap polisi berhubungan dengan kelompok teroris, bisa mendapat dengan mudah melalui internet. Dan, tentang promosi, Program on Extremism The George Washington University, pada tahun 2017 pernah mengeluarkan riset berjudul “Digital Decay?”, soal simpatisan kelompok teroris yang mengkomunikasikan simbol lewat akun media sosial berbahasa Inggris, ini artinya kelompok teroris pun sadar tentang cara mempromosikan pesan agar mendunia.

Era internet membuat segala sesuatu menjadi lebih mudah dan lebih cepat. Jika yang berhubungan dengan kekerasan, perkataan dan perbuatan, bisa menyebar seperti tanpa batas dan tanpa jeda waktu, maka tidak terlalu muluk jika konten-konten yang berhubungan dengan perdamaian bisa kita sebar dengan lebih mudah dan lebih cepat juga. Jadi, mari K.L.I.K dan “MELEDAK”-kan perdamaian dengan masif, gunakan pengalaman, keilmuan, dan jaringan kita untuk hal-hal yang baik dan benar.

Foto: Amsterdam Animation Festival

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like