Catatan Perjalanan : Yogyakarta dalam Cerita (1)

Bertemu dengan pedagang asongan, pengemis, pengamen, calo angkot, pedagang koran, dll, membuat saya bisa lebih menghargai hidup, melatih kepekaan sosial, dan belajar menghargai orang lain dengan latar belakang yang berbeda-beda.

By

Terakhir kali saya berkunjung ke Yogyakarta adalah di tahun 2003 ketika studi tour sewaktu jadi mahasiswa dulu. Satu setengah tahun sebelumnya saya juga ke Yogyakarta, sama dalam rangka studi tour tapi masih pakai seragam SMK. Dua-duanya sama-sama berakhir dengan jalan-jalan di seputaran kawasan Malioboro.

Beberapa waktu yang lalu saya kembali berkesempatan mengunjungi kota Yogyakarta kembali setelah 16 tahun. Kali ini dalam rangka urusan pekerjaan yang tak jauh-jauh dari passion saya sejak dulu. Sebuah pekerjaan yang menantang dan membantu orang lain.

Setelah urusan pekerjaan itu selesai, saya sengaja untuk menginap semalam lagi demi agar bisa menelusuri kawasan Malioboro dengan lebih leluasa dan bisa sepuasnya. Bagi saya Yogyakarta itu sangat identik Malioboro. Sedari dulu saya sudah jatuh cinta dengan suasana di Malioboro terutama di malam harinya.

Jika bersama keluarga wisata favorit saya adalah mengunjungi tempat yang memiliki keindahan alam khas. Tetapi jika sedang sendiri, saya lebih senang dengan wisata kota. Menjelajahi sudut-sudut kota dengan berjalan kaki sambil mengamati dinamika para penduduknya.

Bertemu dengan pedagang asongan, pengemis, pengamen, calo angkot, pedagang koran, dll, membuat saya bisa lebih menghargai hidup, melatih kepekaan sosial, dan belajar menghargai orang lain dengan latar belakang yang berbeda-beda.

Ketika di penjara saya pun bertemu dengan orang-orang ‘buangan’ karena tindakan kriminal mereka, tetapi ada banyak pelajaran dari mereka. Dan kehidupan di penjara itu semakin kuat melatih empati saya terhadap sesama. Reflek untuk bergerak membantu orang yang kesusahan semakin terasah di penjara.

Dulu sebelum di penjara ketika melihat misalnya seorang ibu atau bapak tua yang keberatan membawa barang bawaan di terminal atau pun di jalan-jalan, saya masih cenderung cuek untuk tidak membantunya meskipun kadang juga tergerak untuk membantu ketika misalnya sebelumnya terlibat obrolan di dalam kendaraan.

Tapi sekarang tidak lagi. Ketika menemui yang seperti itu secara reflek dan ringan saya akan berkata, “ Pak, Bu mau kemana ? Boleh saya bawakan sebagian barangnya sampai halte, ruang tunggu, atau sampai persimpangan jalan di sana ?”

Senyuman dan ucapan terimakasih mereka adalah hal yang paling menyenangkan bagi saya, karena itu berarti mereka senang dengan apa yang saya lakukan. Inilah arti sedekah dengan senyuman menurut saya, yaitu membuat orang lain tersenyum karena perbuatan baik kita.

Dan hal-hal seperti itulah yang saya sukai ketika berwisata berkeliling kota atau ketika sedang travelling. Saya juga sedari dulu lebih senang mengabadikan (dalam foto) orang lain daripada diri sendiri ketika singgah di tempat-tempat yang baru dikunjungi.

Dan hari itu saya ingin mengabadikan suasana kota Yogyakarta di kawasan Malioboro sejak pagi hingga di malam hari. Saya yakin pasti banyak yang akan saya dapatkan, termasuk kemungkinan bertemu dengan orang-orang yang sedang kesusahan di tengah mayoritas orang yang datang ke kawasan tersebut untuk bersenang-senang.

Sebelumnya saya menyiapkan pecahan uang lima ribuan dan sepuluh ribuan buat jaga-jaga jika bertemu dengan orang yang membutuhkan.

(Bersambung, In sya Allah)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like