Teror Jumat Kelabu di Selandia Baru dan Antisipasi Bahaya Setelahnya

Mencegah bahaya lebih diprioritaskan daripada mendatangkan manfaat

By

Hari Jumat yang kelabu di Christchurch Selandia Baru. Dunia heboh. Seluruh dunia terkejut dengan aksi sadis nan brutal seorang teroris bernama Brenton Harrison Tarrant, 28 tahun, yang menembaki orang-orang muslim yang sedang berada di dalam dua masjid di Christchurch Selandia Baru.

Korban pun berjatuhan. Puluhan muslim gugur syahid di rumah Allah, dan puluhan yang lainnya terluka.

Mayoritas penduduk bumi mengecam dan mengutuk aksi biadab nan sadis itu, kecuali segelintir orang yang memang hatinya dipenuhi dengan kebencian dan dendam.

Di berbagai belahan bumi muncul aksi-aksi simpatik dari warga non muslim untuk menunjukkan betapa mereka membenci dan mengutuk tindakan teror dan barbar yang dilakukan oleh si teroris Brenton Harrison Tarrant.

Misalnya : masyarakat Selandia Baru menanggapi serangan mematikan di dua masjid Christchurch itu dengan mengumpulkan dana untuk membeli makanan halal dan menawarkan bantuan menemani Muslim yang takut datang ke masjid. Atau di Inggris ada yang ikut menjaga masjid ketika kaum muslimin shalat.

Sisi kelam dari aksi teror si teroris Brenton selain banyaknya korban yang ditimbulkan adalah dirinya menyiarkan langsung aksi sadis dan brutalnya itu melalui media sosial yang notabene adalah ranah publik yang bisa diakses dan di-download oleh oleh siapa saja.

Seseorang yang dengan sengaja menyiarkan aksinya di media sosial pasti telah merencanakan aksi itu dengan matang dan memiliki tujuan tertentu dari aksi menyiarkan tindakannya itu. Adanya tulisan manifesto yang dibuatnya semakin memperkuat bukti bahwa ia memang merencanakan aksi itu dengan matang.

Ia tahu resiko dari tindakannya itu yaitu mungkin saja dirinya ditembak mati oleh aparat di tengah aksinya atau sesaat setelah aksinya sehingga ia memilih menyiarkan aksinya itu secara live.

Tayangan live dari aksinya itu merupakan sebuah pesan propaganda yang sangat kuat dan dia harapkan akan dapat menimbulkan dampak yang luar biasa.

Di dunia radikalisme dan terorisme, yang dilakukan oleh si teroris Brenton itu adalah sebuah provokasi dua arah. Di satu sisi ia ingin membangkitkan gerakan perlawanan atau pemberontakan dari orang-orang seperti dirinya, dan di sisi lain ia ingin agar orang-orang Islam terpancing untuk membalas aksi biadabnya itu sehingga terjadilah perang terhadap umat Islam yang merupakan musuhnya dan musuh orang-orang seperti dirinya.

Provokasi yang memanfaatkan media sosial inilah yang lebih mengerikan dampaknya daripada jatuhnya korban pada peristiwa itu. Pihak-pihak yang memang memiliki benih-benih kebencian seakan mendapat suntikan amunisi baru untuk lebih meruncingkan kebencian dan permusuhannya. Dan hal ini bisa berlangsung terus menerus selama menemukan lahan yang subur untuk tumbuh berkembang.

Video rekaman aksi live peristiwa penembakan brutal itu dengan mudah menyebar dari satu titik ke titik lain melalui kecanggihan dan kemudahan jaringan komunikasi masyarakat masa kini. Meskipun pihak Facebook langsung menghapus konten itu, tetapi sudah ada yang lebih dulu mengunduh videonya dan kemudian menyebarkannya.

Banyak orang-termasuk kaum muslimin- yang kemudian karena terbawa emosinya langsung ikut menyebarkan video itu tanpa pikir panjang. Padahal ada dampak negatif dari penyebaran video itu.

Mengutip dari laman https://konsultasisyariah.com/34516-hukum-menyebar-video-penembakan-sadis-di-new-zealand.html (dengan sedikit perubahan), seorang mukmin itu adalah orang yang selalu menimbang sikapnya dengan ilmu, di setiap keadaan. Berkaitan penyebaran video penembakan biadab di New Zealand Jumat kemarin, ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan :

Pertama, menjaga wibawa Islam.

Aksi penembakan membabi buta yang terekam jelas, adalah penghinaan kepada kaum muslimin, terutama saudara-saudara kita yang menjadi korban. Seakan membunuh kaum muslimin itu begitu mudah seperti menembaki burung di sawah.

Dengan tidak menyebarkan video tersebut, berarti ikut andil dalam menjaga wibawa Islam dan kaum muslimin. Demikian pula sebaliknya, jika ikut menyebarkan video tersebut berarti ikut andil dalam menjatuhkan wibawa Islam.

Kedua, wajib menjaga kehormatan seorang muslim saat hidup maupun setelah wafat
Dalam video tersebut terekam para korban yang diperlakukan tidak manusiawi, sangat menjatuhkan martabat mereka. Apalagi mereka orang muslim. Tentu diantara bentuk menjaga martabat meraka, dengan tidak menyebarkan video biadab tersebut.

Ketiga, bisa menginspirasi orang-orang kafir (non muslim) yang lain.

Jika alasannya adalah maslahat membangkitkan kecemburuan kaum Muslimin yang lain, hal itu tidak harus dengan menyebar video tersebut, bisa melalui sarana lain, seperti objek visual lainnya yang lebih aman, seperti gambar/video masjidnya atau objek lain.

Hal ini adalah berdasarkan kaidah fikih : “mencegah bahaya lebih diprioritaskan daripada mendatangkan manfaat”.

Keempat, dapat memancing kemarahan kaum awam yang hanya didasari emosional.

Sehingga bisa memicu aksi balasan yang tidak sejalan dengan kemuliaan Islam dan berdampak mencoreng Islam, yang barangkali memang direncanakan oleh orang-orang kafir (non-muslim).

Kita semua mengecam aksi biadab yang dilakukan oleh teroris bernama Brenton Tarrant yang menembaki saudara-saudara seiman kita di hari Jumat yang kelabu, tetapi kita harus bijak dalam menyikapinya agar tidak menimbulkan bahaya yang lebih parah dari yang sudah terjadi hingga hari ini.

Source image : http://cdn2.tstatic.net/jabar/foto/bank/images/senjata-yang-digunakan-brenton-tarrant.jpg

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like