Teknik Survival ala Santri

By

Teknik survival tak melulu soal hidup nelangsa di tengah belantara hutan dan hanya mengkonsumsi dedaunan saja layaknya karnivora.

Teknik survival juga tak selalunya berkaitan pada nasib seorang bintara yang selalu memanggul senjata kemana-mana layaknya istri muda.

Seorang santri pun juga mesti memahami skill bertahan hidup di barak yang minim fasilitas seperti pondok pesantren.

Jika kehidupan di pondok pesantren diibaratkan replika dalam wujud miniatur dengan purwarupa dan serba-serbi yang ada di dalamya. Maka memahami teknik survival atau cara bertahan hidup di pondok pesantren memiliki peranan penting demi kalangsungan hajat hidup seorang santri.

Minimnya fasilitas penunjang hidup, serapan gizi yang buruk, dan pembagian lauk yang tak pernah cukup, tentu tidaklah mudah bagi seorang santri yang biasa hidup paceklik tanpa uang jajan.

Maka kemampuan teknik survival menjadi perkara penting yang harus dimiliki oleh setiap prajurit sarung ini.

Dalam siklus kehidupan pesantren, mati ide adalah perkara runyam.

Di dunia yang serba terbatas dan minim fasilitas seperti pesantren, memiliki ide seluas belantara hutan Temanggung adalah anugerah terbesar dari Ilahi.

Sebuah peribahasa muncul, ‘Tak ada piring, gayung pun jadi’.

Barangkali, jika anda menanyakan peribahasa tersebut pada masyarakat awam yang tak pernah mengenyam sedikit pun bagaimana peliknya kehidupan pesantren, tentu akan dikiranya memiliki makna filosofis yang dalam dan penuh dengan nilai kebijaksanaan.

Padahal nyatanya, peribahasa tersebut tak lain adalah kalimat harfiyah tanpa memiliki  makna dan nilai filosofis sama sekali.

Secara teknis, seseorang akan menjadi lebih aktif dan kreatif saat dirinya dihadapkan dalam kondisi sulit dan serba terbatas.

Kondisi seperti ini adalah bagian dari self-defense system atau sistem pertahanan diri yang muncul sebagai reaksi atas tekanan yang ada.

Naluri bertahan hidup yang muncul sendiri cenderung beragam, bergantung pada kondisi yang dihadapi dan fasilitas yang ada di lingkungan sekitar.

Cerita seorang jurnalis kepada penulis yang pernah melakukan liputan di dalam pesantren. Ia merasa terkejut tatkala dirinya menemukan seorang santri yang tertidur pulas dengan menggunakan batu bata sebagai bantal kepala.

Atau misalnya, seorang santri yang merasa kehilangan piring atau tempat makannya. Dalam kasus seperti ini, mengulur waktu untuk mendapatkan nasi tentu tidaklah mungkin sebab urusannya bisa saja kehabisan jatah. Lalu muncullah ide yang barangkali hanya bisa ditemukan dalam kehidupan pesantren.

Menyantap nasi dengan menggunakan wadah daun pepaya atau mangga bukanlah hal yang tabu dan baru. Jika kebetulan nasinya berkuah, maka plastik tak jarang sering menjadi pengganti piring sebagai alternatif lain. Atau bahkan juga memanfaatkan gayung mandi sebagai piring atau gelas.

Untuk pembagian air es atau makanan kolak, memanfaatkan ember pakaian sebagai wadah pun agaknya sudah menjadi hal lumrah.

Dengan melihat berbagai peristiwa unik yang barangkali hanya ada dalam kehidupan seorang santri, maka tak perlu heran jika melihat para alumninya yang cenderung aneh-aneh bentuknya.

Selalu saja muncul ide-ide nyeleneh dan ganjil yang ditemukan dari mereka yang pernah menikmati pahitnya hidup di penjara suci bernama pesantren.

Meski demikian, tak jarang mereka mendapat stigma tak berakhlak dan tak beradab dari netizen dengan sebutan sebagai kaum jumud, kuper (kurang pergaulan), kudet (kurang update) dan katrok. Padahal, di tangan merekalah ujung moral kebangsaan negeri ini terjaga.

Sebab merekalah calon ustadz dan juru dakwah yang sesungguhnya, yang benar-benar mengenyam manisnya ilmu agama dengan segala kemewahannya. Bukan ustadz kaleng-kaleng yang hanya berguru pada internet dan sosial media, apalagi yang gemar mengumpat, sumpah serapah, dan nyampah.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like