Cinta.. Cinta.. Milenial

By

Cinta cinta melulu! Udah sekolah aja dulu yang bener! Eits…tunggu dulu.

Ini tuh cinta apa siih...Cinta apa yang harus ditebar oleh milenial tuh,  seperti apa? (Bukannya tebar pesona, ya pemirsah… )

Kekhawatiran Kak Nagawati Limantara akan maraknya intoleransi dan radikalisme di negeri kita ini, maka Beliau selaku mahasiswi fakultas hukum Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin dan duta Indonesia Millenial Movement 2018, membuat sebuah Seminar Nasional bertema cinta milenial demi pancasila yang ideal pada 16 Februari 2019 di Mahligai Pancasila, Banjarmasin.

Sebagai ketua pelaksana Seminar Nasional, beliau juga memaparkan banyak hal seputar intoleransi dan radikalisme. Dalam presentasinya, beliau memaparkan bahwa ada temuan dari Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LAKIP), tentang potensi radikalisme di Indonesia. Dalam penelitian yang dipimpin Bambang Pranowo Guru Besar Sosioligi Islam di UIN Jakarta pada Oktober 2011, terungkap bahwa hampir 50% pelajar setuju tindakan kekerasan berdasarkan radikalisme.

Menurut Data Pew Research Centre ada 4% warga Indonesia mendukung ISIS, dan kurang lebih ada 10 juta bersimpati. Kemudian, 19 ponpes terindikasi menyebarkan kegiatan radikalisme.

Nah, tahun 2011 aja udah segitu…  Bagaimana dengan akhir-akhir ini??  Apalagi dengan maraknya aksi bom di mana-mana.

Beberapa hal di atas, dapat terjadi salah satunya karena intoleransi. Kak Nagawati menyampaikan akan pentingnya menghargai perbedaan. Karena berbeda bukan alasan untuk bermusuhan.

Nampaknya banyak anak muda yang sudah mengetahu hal tersebut, tapi kenapa ya masih saja intoleransi terjadi di tengah-tengah kita???

Di hutan aja, contohnya pohon pinus. Ada yang pendek, tinggi, lurus, melengkung, dan itu menjadikannya indah beragam. 

Apakah semua orang di muka Bumi harus dipaksakan mengikuti keyakinan kita?? Sehingga semuanya harus sama…

Salah satu hal yang bisa kita contoh untuk meningkatkan kepedulian dan toleransi adalah tindakan yang Ibu Mariatul Asiah, MA dari LK3 Banjarmasin.

Beliau memaparkan seputar kebhinekaan. Ternyata, di Banjarmasin selalu mengadakan religi expo tiap tahunnya, loh!  Religi expo ini dihadiri tokoh-tokoh agama, dimeriahkan pertunjukan tari serta pameran penjualan makanan, karya, dan organisasi sosial.

Jarang-jarang banget loh, ada kegiatan semacam ini. Yang kerennya lagi acara ini diadakan setiap tahun! Dari kegiatan ini,  kita bisa banyak belajar, bahwa kita bisa hidup bersama dalam keberagaman, dengan meyakini kepercayaan yang kita anut, dan menghargai pilihan orang lain yang berbeda.

Ketika melihat video itu, saya langsung terpikir “Wah… Keren sekali ini. Bagaimana kalau kita coba buat di Jakarta atau Depok? Karena memang sedikit kegiatan-kegiatan seperti ini. 

Memang tidak semudah yang ferguso pikirkan. Karena kegiatan ini, kegiatan besar. Sehingga harus kerja sama dan persiapan yang matang. Apalagi, dengan latar belakang yang berbeda-beda.

Jadi nih ya,  pemirsaah

Toleransi bukan berarti kita harus mengikuti ritual dan kepercayaan agama lain. Tapi, dengan menghargai pilihan mereka dan membiarkan mereka bebas melakukan ritualnya tanpa kita ganggu gugat.

Lakum diinukum wa liyadiin…

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like