Apa yang Sudah Kita Beri untuk Indonesia?

By

ABukan apa yang akan kita terima

Tapi apa yang bisa kita berikan...

Bagi negri kita yang tercinta... 

Indonesia…

(Penggalan lagu anak-anak SMA Selamat Pagi Indonesia)

Pada artikel yang berjudul Say I Love U yang sudah saya tulis dalam postingan sebelumnya, saya membahas sedikit tentang anak-anak SMA Selamat Pagi Indonesia (SPI). 

Mereka adalah anak yatim piatu dan kurang mampu, dari beberapa daerah di seluruh Indonesia.

Tau gak sih, mempunyai sebuah pertunjukan besar bak the greatest showman nampaknya hanya bisa dilakukan oleh profesional kelas-kelas dunia. Tapi, siapa sangka… Anak-anak SMA SPI dapat melakukannya.

Saya menonton video mereka ketika sedang melakukan pertunjukan besar seperti; akrobat, melompat lingkaran api, drama musikal, dan bernyayi bak the greatest showman, dan juga ada pertunjukan kecil sulap di atas panggung.

Itulah apa yang saya lihat pada malam Tanggal 18 Februari 2019 di acara Showing Case Diversity, Tolerance, and Exceptionalism an Eventing with SMA SELAMAT PAGI INDONESIA, di Hotel Luminor Jakarta.

Setelah kata sambutan dari Yayasan SMA SPI, DASPRUI, Ketua dari United Nation office on Drugs and Crime, HDI, dan Astra, banyak sekali penampilan-penampilan dari murid-murid SMA SPI.

Sumpah?? Anak SMA? Aku tak percaya! Ya udah..coba saja silahkan mampir ke sekolahnya langsung, dan lihat sendiri kegiatan-kegiatan serta kurikulum di sekolah tersebut. Saya dan keluarga hadir di acara tersebut dan melihat langsung beberapa karya anak-anak hebat itu.

Pada awal datang, Setelah mengisi buku tamu, kami diarahkan ke pinggiran sisi ruangan, untuk melihat beberapa poster anak-anak SPI. Ibu Kepala Sekolah juga ikut memberikan penjelasan-penjelasan tentang sekolah itu.

Saya juga sempat ngobrol dengan salah satu siswi asal Malang, Jawa Timur. Beliau menjelaskan begitu detil.

Mereka tidak hanya diajarkan akademis layaknya sekolah-sekolah biasa, loh!. Namun, metode yang mereka jalankan berupa 20% teori, dan 80% praktik, yang mengarah pada entrepreneurship. Keren bangeut tau! .

Tidak hanya di show dan performance. Mereka juga bisa mengembangkan diri lewat divisi-divisi yang sesuai dengan passion mereka. Ada kampoeng kidz (pembelajaran untuk anak-anak TK, seperti study tour dan bermain), kampoeng teenz, restaurant, hospitality, retail store, food production, agriculture, tour n travel, pastry, workshop, production house,dan masih banyak lagi. Bayangin..  Itu mereka yang ngehandle sendiri looo.

Jaman gue SMA mah, malah nyusahin orang tua :(. Kalau jaman SMA teman-teman gimana? .Apakah cuma nongski-nongski atau melakukan hal faedah?

Ada salah satu perempuan asal Poso, Sulawesi Tengah, yang mana dia pernah mengalami konflik di kotanya.  Temen-teman tau kan, gimana konflik di Poso??. Sampai-sampai dia gak mau satu kamar dengan orang Muslim. Itu dulu..  Tapi sekarang, dia berteman pada siapapun. Karena di sekolah ini mereka juga diajarkan mengenai toleransi dan juga meyakini dan menghargai perbedaan.

Acara ini dihadiri beberapa kedutaan besar, lembaga masyarakat, wartawan.

Selain pemutaran beberapa kegiatan video mereka, dan pertunjukan sulap, mereka juga melakukan presentasi.  Seperti beberapa quotation yg ada pada sekolah mereka, dan juga tarian serta nyanyian.

Saya hanya bisa nganga sambil applause melihat pertunjukan dan presentasi mereka yang keren beut!.

Pada video selanjutnya, ada beberapa anak SMA SPI yang menceritakan tentang diri mereka. Ada yang sudah tidak punya orang tua, kesulitan dalam perekonomian, sampai pernah merasakan konflik.

Nah, yang makin buat netes air mata, ketika Pak Julianto –pendiri SMA SPI- menyampaikan bahwa mereka ini sangat ingin bisa membantu orang. Karena, biasanya merekalah yang sering dibantu. Salah seorang siswi dalam video itu berkata:

“Berbagi tidak harus menunggu kaya,  dan memberi bukanlah karena berlebih, tapi menjadi tujuan”.

Jleb!

Pak Julianto punya teknik sendiri ketika pertama atau awal-awal mengajarkan muridnya. Yaitu, dengan meningkatkan kepercayaan diri mereka, membuat mereka bahagia, tertawa, bernyanyi, berkasih sayang, mengajak nonton film. Tidak hanya itu,  selesai nonton mereka diminta untuk bisa mengambil nilai atau pesan dari film yang sudah mereka tonton.

Bener deh..  Gak nyesel, saya bisa hadir di acara tersebut. Rasanya langsung pengen suruh temen-temen saya yang memenuhi persyaratan, daftar kesitu!

bersama beberapa siswi SMA SPI

Saking bagusnya,  banyak banget orang tua yang mau masukin anaknya ke situ. Tapi,  Pak Julianto menolaknya. Karena janjinya ke Tuhan adalah membantu menyekolahkan anak-anak yatim, kurang mampu secara gratis!

Kontribusi apa ya..  Yang sudah kita kasih ke negeri ini???

Sumber gambar: Dokumentasi Nur Dhania

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like