Dari Bom Bali I hingga online dengan Jaringan ISIS di Nusakambangan

Eka Setiawan
Eka Setiawan
8 Min Read
Surat Lepas (bebas) Harry Kuncoro dari Lapas Pasir Putih, Nusakambangan, Cilacap, Provinsi Jawa Tengah, pada 20 Maret 2016 lalu.

Nama Harry Kuncoro yang ditangkap di BandaraSoekarno-Hatta, Tangerang, Provinsi Banten, pada Kamis 3 Januari 2019 saathendak terbang ke Iran, bukanlah ‘orang baru’ dalam jaringan terorisme.

Harry punya sepak terjang cukup panjang. Dia sempat jadi buronan Bom Bali I, dan setidaknya punya 9 nama alias; mulai dari Joko Suseno, Husen, Ucen, Bahar, Salim, Rahmat Nugraha, Nugraha, Sahroni Bagus, Ibnu Bagus, hingga Wahyu Nugroho. Nama terakhir ini digunakan Harry Kuncoro di paspor saat ditangkap Densus 88 di Bandara Soetta 3 Januari 2019 itu. Dia juga kerap berpindah – pindah tempat, di Jawa, luar Jawa hingga Malaysia, Filipina, sempat juga mengutarakan niatnya kabur ke Pakistan.

Harry Kuncoro lahir di Klaten, 27 Januari 1977, alamat tinggal di Jalan Sersan Sadikin nomor 45, Kelurahan Gergunung, Kecamatan Klaten Utara, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah.

Berikut sepak terjangnya;

November 2010 – Februari 2011

Harry tercatat sempat tinggal kos di Jalan Asparaga 7Tegalsari, Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Diatinggal kos bersama seseorang bernama Cahya Fitranto (ditangkap Densus 88Antiteror).

Mereka datang secara bertahap dari bulan November 2010– Februari 2011.

Harry Kuncoro sempat ikut kursus bahasa Inggris dibeberapa lembaga kursus di sana. Salah satunya di lembaga kursus Kresna, Pare,Kediri yang jaraknya sekira 200 meter dari tempat kosnya.

Di lokasi tinggal yang dikenal dengan sebutan KampungInggris itu, Harry sempat melakukan latihan bongkar pasang senjata api.

Saat itu, dia tercatat gabung dalam kelompok JamaahIslamiyah (JI), jadi anak buah Noordin M Top dan Dr Azhari.

Tahun 2009

Berdasar putusan pengadilan atas tindak pidanaterorisme Abrory alias Abrory M. Ali alias Maskadov alias Abrory Al Ayyuby(pendiri Ponpes Umar bin Khattab, Bima, NTB), teregisternomor:80/PID/2012/PT.BTN, nama Harry disebut dalam amar putusan tersebut.

Ketika polisi mengadakan konferensi pers terkaitpenangkapan Harry Kuncoro di Mabes Polri, Jakarta, Senin (11/2/2019), namaAbrory juga disebut polisi punya keterkaitan dengan dia.

Hasil penelusuran, Harry Kuncoro dengan Abrory ini kalipertama kenal pada tahun 2009. Ketika itu Harry datang ke Kabupaten Bimamenemui Uqbah alias Mujihadulhaq alias Mujahid alias Muhajir.

Oleh Uqbah, Harry dikenalkan kepada Abrory. Saat ituHarry berterus terang kepada Abrory kalau dirinya adalah buronan kasus Bom BaliI. Harry juga mengaku adik ipar dari Dulmatin (yang juga terlibat kasus BomBali I dan kasus pelatihan militer di Aceh – yang telah meninggal dunia).

Selanjutnya, Abrory mengizinkan Harry Kuncoro tinggaldan bersembunyi di Pondok Pesantren Umar bin Khattab. Harry tinggal selama 3bulan di sana. Setelah Lebaran Haji (Idul Adha 2009 – tanggal 27 November2009), Harry Kuncoro, Harry berpamitan kepada Abrory untuk pulang kembali keJawa karena sudah merasa aman.

Pada bulan April 2011, Harry Kuncoro sempat menelpon Abrorymemberitahu kalau dia ingin melarikan diri ke Pakistan dan butuh uang.  Sekitar bulan Mei 2011 alias sebulan setelahditelpon Harry, Abrory bersama beberapa temannya yakni Firdaus, Anas, Khairialias Heri dan Abdussalam mengirim uang sebesar Rp25juta kepada Harry Kuncorosecara bertahap melalui PT. Pos Indonesia.

Pada akhir Mei 2011, Abrory pergi ke Jakarta untukmenemui Harry Kuncoro di Pasar Glodok, Jakarta Barat. Harry saat itu dimintaibantuan Abrory untuk dibelikan senpi laras pendek jenis revolver sehargaRp5juta hingga Rp6juta, jenis FN buatan Pindad dengan harga kisaran Rp8jutahingga Rp10juta, senpi FN buatan Amerika harga sekira Rp13juta hingga Rp17jutadan senpi jenis Bareta dengan harga sekira Rp10juta. Harry Kuncoromenyanggupinya.

Setelah itu, Harry kembali menerima transferan uangdari Abrory dibantu kawan-kawannya kisaran Rp25juta hingga Rp28juta untukkeperluan membeli aneka pesanan senpi itu.

Tapi belum sempat dibelikan, pada 9 Juni 2011 HarryKuncoro ditangkap petugas Densus 88 Antiteror Polri. Saat di Jakarta, Harryjuga tercatat pernah tinggal di Kampung Melayu, Jakarta Timur.

  • TentangAbrory:

Lahirdi Desa Kenanga, Bima, Provinsi NTB, 27 November 1975

Alamat:

1.RT006/RW003, Desa Kenanga, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, Provinsi NTB.

2.Pondok Pesantren Umar bin Khattab, Desa Sanolo, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima,NTB.

Abrorysempat jadi santri di Ponpes Al Muttaqin Jepara (1997-1998), setelah itu pulangke Bima mendirikan Toko Sembako dan Ponpes Umar bin Khattab.

Diaterlibat dalam ightilayat (pembunuhan diam-diam) kepada Brigadir RohmadSyaifudin (anggota Polsek Bolo, Bima) pada Jumat 1 Juli pukul 03.00 WITA.Pembunuhan itu dilakukan oleh Syakban alias Syakban A Rahman alias Sya’banalias Umar Sa’ban bin Abdurrahman, seorang santri tingkat akhir atau santriyang akan lulus dan akan diwisuda pada tahun 2011 di Ponpes Umar bin Khattabitu.

Abrorymenanamkan kebencian terhadap negara termasuk aparaturnya (thgout) kepadasantri-santri di sana, sehingga memunculkan serangan yang menyasar polisi.Selain menggunakan senjata tajam, mereka juga menyiapkan molotov dan peledaklainnya yang dirakit sendiri.

Harry juga tercatat pernah mengunjungi kontrakan UmarPatek (terpidana terorisme Bom Bali I yang sekarang ditahan di Lapas PorongSidoarjo, vonis 20 tahun penjara saat sidang di PN. Jakarta Barat) selama diPamulang, Tangerang, Banten. Saat itu, Umar Patek akan uji coba 3 senpi jenisM16 bersama rombongan Dulmatin. Uji coba senpi dilakukan di pantai wilayahBanten, ditembakkan ke laut, mulai jam 20.00 – 20.30 WIB.

Tiga senpi itu yang kemudian dibawa Umar Patek ke Aceh(pegunungan Jalin Jantho) untuk latihan militer pada 2010. Senpi itudimaksudkan untuk perangi musuh-musuh Islam.

Ditangkap dan ditahan di Nusakambangan (2011 – 2016)

Saat ditangkap Densus 88 Antiteror pada 9 Juni 2011,keterlibatannya pada insiden Bom Bali I (12 Oktober 2002) adalah membantumempersiapkan pengeboman bersama-sama dengan Imam Samudera, Mukhlas, Amrozi,Dr. Azhari, dan Noordin M Top.

Harry mengantar Dulmatin yang tak lain adalah kakakiparnya, untuk membeli perlengkapan elektronik perencanaan Bom Bali. Untukhubungan saudara ini, Harry adalah adik kandung Istiadah, dan Istiadah ini adalahistri dari Dulmatin (alias Amar Usman atau Joko Pitono -> yang tewas dalampenggerebekan di Pamulang, Tangerang, Banten pada 9 Maret 2010).

Harry juga terlibat latihan militer di Pulau Buru(Maluku) dan Filipina. Latihannya meliputi penggunakan senpi jenis revolver,meledakkan TNT, bela diri dan memperbaiki pistol.

Pada tahun 2003 bersama Dulmatin dan Maulana berangkatke Tawaw, Malaysia. Di sana dia bertemu dengan Umar Patek.  

Setelah penangkapan itu, Harry divonis 6 tahun penjaradi PN. Jakarta Barat pada 15 Maret 2012. Salah satu deliknya, menyembunyikanDulmatin serta terlibat dalam distribusi senjata dan amunisi untuk kelompokDulmatin di Jawa Tengah. Beberapa barang buktinya; sebuah pistol kaliber 45,empat magasin, dan 33 butir peluru kaliber 45.

Harry ditahan di Lapas Pasir Putih Nusakambangan. Disana, dia ditahan di Blok D, satu sel dengan Abu Bakar Baasyir. Sehari-hari,Harry ini juga melayani segala keperluan Abu Bakar Baasyir mengingat kondisi siustaz yang sudah tua.

Pada hari  Minggu20 Maret 2016, Harry Kuncoro dibebaskan karena telah habis menjalani masapidananya, sesuai Surat Lepas Nomor:W13.PAS24.PK.01.01.02-097 ditandatanganiKepala Lapas Pasir Putih saat itu Hendra Eka Putra.

Setelah bebas, yang menggantikan tugas Harry menguruskeperluan sehari-hari Abu Bakar Baasyir adalah terpidana terorisme lain bernamaCecep alias Tegar, almat di Jalan Pendidikan nomor 59 RT10/RW3, DesaKenangawungu, Kabupaten Bima, NTB.

Saat ditahan di Lapas Pasir Putih, Harry Kuncoro punyanomor register: BI.183/D/2012 sesuai petikan putusan pengadilan nomor:2613/Pid.Sus/2011/PN.Jkt.Bar.tgl 15-03-2012.

Selama menjalani hukuman di Lapas Pasir PutihNusakambangan (2012-2016), Harry juga diketahui menjalin komunikasi dengan AbuWalid alias M. Syaifudin warga Klaten alumnus Ponpes Ngruki Sukoharjo yangbergabung ISIS di Suriah, dan Bahrunnaim via online. (eka setiawan)

Share this Article
Posted by Eka Setiawan
Eka Setiawan is editor of ruangobrol.id. He has many experience to handle many crime news and humanity.
Leave a comment